Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan
hidup. Sudah jenuh betul.Rumah tangga saya berantakan.Usaha saya kacau.Apapun
yang saya lakukan selalu berantakan.Saya ingin mati."
Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat.Hanya jenuh dengan
kehidupan.Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan,
"Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'.Ya, kamu alergi
terhadap kehidupan."
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan.
Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma
kehidupan. Hidup ini berjalan terus.Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi
kita menginginkan status-quo.Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut
mengalir.Itu sebabnya kita jatuh sakit.Kita mengundang penyakit.Resistensi
kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya.Dalam hal berumah-tangga,
bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah.Persahabatan pun tidak
selalu langgeng, tidak abadi.Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini?
Kita tidak menyadari sifat kehidupan.Kita ingin mempertahankan suatu
keadaan.Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan
bersedia mengikuti petunjukku." demikian sang Master.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya
tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh.Kamu betul-betul ingin
mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."
"Baik, besok sore kamu akan mati.Ambillah botol obat ini.
Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan
jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama
ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini
aneh.Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul
jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang
disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan
sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitu rileks, begitu santai!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari
segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama
keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama
beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau.
Suasananya santai banget!
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di
kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu."
Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.
Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan
pagi.
Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih
tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi.
Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi
terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Sang istripun merasa aneh sekali Selama ini, mungkin aku
salah."Maafkan aku, sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang.
Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?"Dan sikap
mereka pun langsung berubah.Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah
siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah.Ia menjadi ramah
dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda.
Tiba-tiba hidup menjadi indah.Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah
jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya,
"Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu
merepotkan kamu."
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami
semua.Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali.Tiba-tiba, hidup
menjadi sangat indah.Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana
dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi.
Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa
yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah
sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran
bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik
kehidupan.
Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu.Jadilah lembut,
selembut air.Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh,
tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan.Itulah kunci
kebahagiaan.Itulah jalan menuju ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu
pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih
mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia
selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!!!
Hidup?
Bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul?. Tapi merupakan
suatu anugrah untuk dinikmati
(Soulfoul - Mulyandi, Soeng)
AdaApa
Dengan Cinta
Suatu hari, tiga tahun yang lalu, saya sedang bete berat.Entah
mengapa, dunia terasa sempit, sumpek dan menyebalkan.Padahal banyak pekerjaan
yang mestinya saya selesaikan.Laporan praktikum yang bertumpuk, makalah-makalah
serta seabrek PR dari banyak organisasi yang kebetulan saya ikuti.Dalam
perjalanan pulang menuju kost, mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah
wartel. Tanpa tahu mau menelepon siapa dan untuk apa menelepon, saya dengan
linglung memasuki salah satu kabin. Sebuah nomor tiba-tiba terpencet otomatis.
8411063! “Assalamu’alaikum…” sebuah suara yang mendadak terasa merdu terdengar.
Seperti ada suntikan kesegaran yang luar biasa, mendadak
semangat saya bangkit.Percakapan yang mengalir begitu saja telah mengubah dunia
yang tadinya abu-abu menjadi penuh warna.Pemilik suara itu adalah seorang
sahabat yang sangat dekat dengan saya.Meskipun jarang bertemu, kami yakin, ada
cinta yang menginspirasikan berbagai ide mulai dari yang sederhana sampai
briliyan.Cinta itu yang kami yakini menjadi pemotivator dari setiap langkah
yang kian hari kian berat.
Ah, Cinta…
Saya selalu terpana dengan cinta. Membuat pikiran ini dengan
susah payah membayangkan seorang Abu Bakar yang tiba-tiba berlari kesana
kemari, kadang ke depan, ke samping, lantas tiba-tiba ke belakang rasulullah.
Saat itu mereka sedang dalam perjalanan hijrah menuju Madinah.Di belakang,
orang-orang kafir Quraisy mengejar, bermaksud membunuh Muhammad SAW. Tentu saja
sang nabi terheran-heran. Beliau pun bertanya dan dijawab oleh Abu Bakar, bahwa
ketika ia melihat musuh ada di belakang, maka Abu Bakar berlari ke belakang.
Jika musuh di depan, Abu Bakar lari ke depan, dan seterusnya. Abu Bakar siap
menjadi tameng buat rasulullah. Agar jika ada musuh menyerang, ia lah yang
lebih dulu menerimanya.
Itulah cinta.Sama seperti ketika mereka akhirnya kecapekan dan
menemukan sebuah gua. Abu Bakar melarang Rasul masuk sebelum ia membersihkan
terlebih dulu. Saat membersihkan, Abu Bakar melihat 3 buah lubang. Satu lubang
ia tutup dengan sobekan kain bajunya, lalu yang dua ia tutup dengan ibu jari
kakinya. Rasul pun tidur di pangkuan Abu Bakar.Pada saat itulah, Abu Bakar
merasakan kesakitan yang luar biasa.Ia digigit ular. Namun ia tidak mau
membangunkan Rasul dan terus menahan sakit hingga air matanya menetes. Tetesan
itu menimpa rasul dan terbangunlah beliau.Berkat mukzizat Rasul, sakit itu pun
berhasil disembuhkan. (Sumber, ‘Berkas-berkas Cahaya Kenabian’, Ahmad Muhammad
Assyaf).
Adaapa
dengan cinta? Kalau Mbak Izzatul Jannah (salah seorang teman dekat juga)
menjawab, “ada energi disana”.Saya sepakat dengan pendapat itu.Bukan karena
beliau adalah teman dekat, tetapi karena saya telah merasakannya.Dan saya ingin
berbagai cahaya dengan kalian.
Cinta Positif vs Cinta
Negatif
Jujur, saya mungkin kurang ngeh jika bicara masalah cinta,
karena saya belum menikah. (He…he, mohon doanya ya…). Saya pun alhamdulillah
belum sempat pacaran, karena Allah keburu ‘menyesatkan’ saya dari jalan
kemaksiatan menuju jalan yang terang benderang, jalan yang kita yakini bersama
kebenaran dan keindahannya.Namun justru itulah, saya lantas menikmati cinta
yang sejati. Lewat para sahabat yang mengantarkan diri ini semakin hari semakin
berkarat (maksudnya kadar karatnya makin tinggi, seperti logam mulia itu lho…)
alias semakin baik. Serta tidak ketinggalan, cinta kepada sang pemberi
kehidupan alias cinta hakiki yang tertinggi.
Seorang sahabat pernah bernasyid di depan saya, menukil sebuah
nasyid yang dipopulerkan oleh SNADA.
Ingin kukatakan, arti cinta
kepada dirimu dinda
Agar kau mengerti, arti sesungguhnya
Tak akan terlena dan terbawa,
alunan bunga asmara
Yang kan membuat dirimu sengsara
Cinta suci luar biasa, rahmat
sang pencipta
Kepada semua hamba-hambanya
Jangan pernah kau berpaling dari
cinta
Cinta dari sang maha pencipta
Kau pasti tergoda…
Nyanyian itu membuat saya merenung panjang lebar.Yups, ketemu
deh.Ada cinta positif, ada juga cinta negatif. Jika cinta adalah energi, maka
akan muncul pula energi positif dan energi negatif.
Adanya energi membuat semua terasa ringan.Dengan energi, gampang
saja si Edo misalnya, menghajar serombongan preman yang mengusili pacarnya,
Dewi.Konon cinta bisa membuat si penakut menjadi pemberani.Dengan energi pula
puasa ramadhan terasa begitu indah, meskipun sebulan penuh kita diperintahkan
untuk tidak makan dan minum dari terbit hingga terbenam matahari.
Kendali, itu kuncinya
Energi itu akan di dihasilkan oleh reaktor hati, pembedanya
adalah faktor pengendali. PLTN adalah sebuah tempat berlangsungnya reaksi
nuklir yang terkendali, sehingga energi yang dilepaskan dapat menjadi komponen
yang berfungsi untuk manusia.Itu energi positif.
Jika reaksi nuklir tidak terkendali, bayangkanlah ledakan bom
atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan ratusan ribu manusia dan
menimbulkan kerugian yang luar biasa.Itu energi negatif.
Karena reaktor tersebut adalah hati, maka semua manusia pasti
memilikinya.Positif atau negatif tergantung pada pengendalian manusia tersebut
terhadap hati yang dimiliki. Seperti sabda rasulullah SAW :
“Inna fii jasadi mudhghotan Idza sholuhat sholuhal jasadu
kulluhu.Waidza fasadat fasadal jasadu kulluhu.Alaa wahiyal qolbu.”
Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik,
maka baiklah seluruhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruhnya. Ingatlah
bahwa ia adalah hati.(HR Bukhari Muslim).
Cinta Negatif, Apaan
tuh?!
Adalah cinta yang dialirkan dari energi tak terkendali.Ini nich,
cinta yang merusak.Terlahir dari syubhat dah syahwat.Ngakunya moderat, padahal
kuno berat.Bagaimana tidak kuno, cinta yang lahir dari syahwat mulai ada sejak
jaman bauhela, bagaimana mungkin orang yang tidak pacaran disebut sebagai
‘ketinggalan jaman?’
Cinta negatif kini telah membanjiri pasaran, menebar
kemadhorotan.Remaja gelagapan dan tidak tahu jalan, akhirnya
ikut-ikutan.Pacaran, free sex, kumpul kebo, selingkuh… mendadak jadi tren.
Secara normatif, semua perempuan tidak mau melihat lelaki yang dicintai
ngabuburit dengan perempuan lain. Namun anehnya, ia malah berdandan seseksi
mungkin agar lelaki lain tertarik padanya.
Mana bisa kesetiaan
dipertahankan jika syahwat dikedepankan?
Mau tahu korban dari cinta negatif?Kerusakan moral.Yap! Survey di Yogyakarta menyebutkan 97,05% mahasiswa di
Yogya tidak perawan, Survey itu dilakukan kepada 1660 responden dan hanya 3
orang yang mengaku belum melakukan aktivitas seks termasuk masturbasi!
Astaghfirullah.Terlepas dari pro dan kontra tentang kashahihan hasil survey
itu, jelas… data yang tercatat menunjukan sebuah ketakutan yang luar biasa bagi
para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Yogya.
Cinta negatif telah menjelma menjadi teroris! Bukan hanya cinta
yang mengeksploitasi seks, juga cinta kepada tahta dan harta yang membuat
manusia berubah menjadi serigala yang sanggup tertawa-tawa ketika mengunyah
bangkai rekan sendiri.
Menggapai Cinta Positif
Cinta positif adalah cinta yang frame-nya adalah cinta karena
Allah.Cinta kepada Allah sebagai cinta yang hakiki, sedang cinta kepada selain
Allah dilaksanakan dalam rangka ketaatan kepada Allah.Jika diatas disebutkan
bahwa kata kuncinya adalah ‘kendali hati’, maka jelas, untuk menggapai cinta
positif, hati harus pertama kali ditundukan. Jika hati telah ditundukkan maka
akan bisa kita kendalikan. Jika hati terkendali, yakin deh, seluruh jasad dan
akal kita pun mampu selaras dengan sang panglimanya tersebut.
Bahasa Pena?
Jika cinta adalah energi, maka yang terlahir dari cinta adalah
produktivitas.Pena hanya salah satu dari banyak pilihan, tergantung pada
potensi masing-masing. Saya memilih pena karena profesi saya adalah seorang
penulis. Karena bingkai kecintaan itu adalah cinta kepada Allah, maka saya akan
menjadikan tarian pena saya sebagai ekspresi kecintaan kepada Allah. Serupa
tapi tak sama akan dialami oleh teman-teman yang mahir dibidang lain, memasak,
memprogram komputer dan sebagainya. Bukti cinta itu adalah produktivitas.So,
jika kita tidak produktif, berarti tidak ada energi yang menggerakan, yang
ujung-ujungnya, kamu tidak punya cinta.Kasiaaan deh Luuu.
Adaapa
dengan cinta? Jawabnya : ada energi. Muaranya, produktivitas, optimalisasi
potensi. Tentu saja yang kita usahakan adalah cinta positif, sehingga
produktivitas yang tercetak adalah produktivitas yang positif pula
AdaApa Dengan Kita?
Saudaraku, saat mobil mewah dan
mulus yang kita miliki tergores, goresannya bagai menyayat hati kita.Saat kita
kehilangan handphone di tengah jalan, separuh tubuh ini seperti hilang bersama
barang kebanggaan kita tersebut.Saat orang mengambil secara paksa uang kita,
seolah terampas semua harapan.
Tetapi saudaraku, tak
sedikitpun keresahan dalam hati saat kita melakukan perbuatan yang melanggar
perintah Allah, kita masih merasa tenang meski terlalu sering melalaikan
sholat, kita masih berdiri tegak dan sombong meski tak sedikitpun infak dan
shodaqoh tersisihkan dari harta kita, meski disekeliling kita anak-anak yatim
menangis menahan lapar. Saudaraku, ada apa dengan kita?
Saudaraku, kata-kata kotor dan
dampratan seketika keluar tatkala sebuah mobil yang melaju kencang menciprati
pakaian bersih kita. Enggan dan malu kita menggunakan pakaian yang terkena noda
tinta meski setitik dan kita akan tanggalkan pakaian-pakaian yang robek, bolong
dan menggantinya dengan yang baru.
Tetapi saudaraku, kita tak
pernah ambil pusing dengan tumpukan dosa yang mengotori tubuh ini, kita tak
pernah merasa malu berjalan meski wajah kita penuh noda kenistaan, kita pun tak
pernah tahu bahwa titik-titik hitam terus menyerang hati ini hingga saatnya
hati kita begitu pekat, dan kitapun tak pernah mencoba memperbaharuinya.
Saudaraku, ada apa dengan kita?
Saudaraku, kita merasa tidak
dihormati saat teguran dan sapaan kita tidak didengarkan, hati ini begitu sakit
jika orang lain mengindahkan panggilan kita, terkadang kita kecewa saat orang
lain tidak mengenali kita meski kita seorang pejabat, pengusahan, kepala
pemerintahan, tokoh masyarakat bahkan orang terpandang, kita sangat khawatir
kalau-kalau orang membenci kita, dan berat rasanya saat orang-orang
meninggalkan kita.
Tetapi juga saudaraku, tidak
jarang kita abaikan nasihat orang, begitu sering kita tak mempedulikan
panggilan adzan, tak bergetar hati ini saat lantunan ayat-ayat Allah terdengar
ditelinga. Dengan segala kealpaan dan kekhilafan, kita tak pernah takut jika
Allah Yang Maha Menguasai segalanya membenci kita dan memalingkan wajah-Nya,
kita pun tak pernah mau tahu, Baginda Rasulullah mengenali kita atau tidak di
Padang Masyhar nanti. Kita juga, tak peduli melihat diri ini jauh dari kumpulan
orang-orang sholeh dan beriman.
Saudaraku, tanyakan dalam hati
kita masing-masing, ada apa dengan kita? Wallahu a'lam bishshowaab
Aduh Sayang Sekali, Kenapa Yah?
Sering kali bahkan tanpa kita sadar kata-kata "Aah..",
"Aduh", "Sayang sekali", "Kenapa yah?", "Koq
aku dapet masalah terus?", dan kalimat-kalimat lainnya yang terkesan
"Keluhan" keluar dari bibir kita. Kata-kata ringan tapi punya makna
belum bisa menerima apa setulus hati apa yang sedang dialaminya, entah itu
ujian dalam bentuk musibah besar atau yang kecil sekalipun.
Satu ketika seorang sahabat bertutur, "Kenapa yah koq
akhir-akhir ini berbagai musibah menimpaku?Ditambah lagi teman-teman mulai
kurang perhatian padaku dan aduh aku jadi tidak dipercaya.Ada yang bilang
kurang perhatianlah, nggak adillah, inilah itulah.Aku jadi bingung. Padahal aku
sudah berusaha berbuat apa yang aku bisa. Aku jadi sedih.Kenapa semua berakhir
seperti ini?"
Seseorang yang mulanya berniatan mulia, ketika mendapat
tekanan-tekanan dari sekelilingnya bisa saja mengeluarkan penuturan seperti di
atas. Di satu sisi dia ikhlas menerima apa yang sedang dialaminya, tapi disisi
lain ada bisikan-bisikan yang membuatnya menyesali keadaan.
Keluh kesah yang terpancar lebih disebabkan karena mengikuti
dorongan hawa nafsu, tidak mampu menahan rasa pedih atau emosi batin, kurang
bersyukur terhadap nikmat yang begitu banyak dibandingkan bencana yang baru
menimpa, atau karena kelemahan iman terhadap qadha dan qadar, sehingga tidak
memahami hikmah dibalik bencana tersebut.
Kenapa sih mesti ada musibah?Musibah itu adalah sarana
ujian atas prestasi keimanan seseorang.Rasulullah SAW bersabda,
"Orang-orang yang paling besar mendapat ujiannya adalah para nabi,
kemudian para syuhada, kemudian orang-orang setingkat dengannya."Disamping
itu, musibah merupakan sarana untuk mengukur kebenaran iman.Alloh menurunkan
musibah agar kita benar-benar bisa mengukur apakah benar kita beriman atau
tidak?atau bisa jadi musibah diturunkan sebagai azab atas kemaksiatan dan
kekufuran agar kita menjadi jera. Bukankah diturunkannya azab di dunia lebih
baik dari pada di akhirat kelak?Agar kita lebih dulu menyadari kesalahan dan
dosa-dosa kita.Subhanalloh betapa cintanya Alloh pada orang-orang yang mendapat
musibah dan berhasil memupuk kesabaran atas dirinya. Alloh berfirman dalam surat Ar-Rum:41,
"Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan oleh perbuatan
tangan manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar."
Kunci utama dari pemecahan masalah ini adalah sabar, yaitu
menahan diri dari keluh kesah, amarah, apalagi dari harapan mendapat belas
kasihan dari orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Sabar itu tatkala
menghadapi ujian musibah yang pertama."Karena pada saat-saat itulah Alloh
menguji iman seseorang, apakah dia berhasil melawannya dengan mengembalikan
segala urusannya pada Alloh dan memendam emosinya dalam-dalam, atau malah semakin
larut dalam duka yang berkepanjangan hingga selalu merasa gelisah.
Apakah bersabar dengan memendam emosi dapat menyelesaikan
masalah?Tentu saja belum.Setidaknya dengan memendam emosi, ada perasaan tenang
di hati kita. Ketika perasaan tentram itu datang, akan ringanlah bagi kita
untuk berpikir jernih. Ketika ujian kesabaran telah kita lewati, selanjutnya
kita harus mencek dan ricek kembali apa hakikat dari musibah-musibah yang telah
kita alami.
Mari kita telaah setiap permasalahan / musibah yang sedang kita
hadapi, agar kita terbebas dari penyakit keluh kesah, dengan:
· Menjauhi semua penyebab timbulnya
penyakit keluh kesah.
· Mempelajari akibatnya.
· Memahami makna sabar dan seluruh
manfaatnya.
· Meyakini bahwa cobaan adalah takdir dari
Alloh yang terbaik bagi kita, dan kelak akan terbukti hikmahnya.
· Menahan emosi semaksimal mungkin sehingga
tidak menimbulkan reaksi negatif terhadap tindakan fisik.
· Jika masih ada rasa kesal, segera
beranjak dari tempat duduk, ambil air wudhu dan baca istighfar sebanyak 3 kali.
· Berdoa, "Ya Alloh, selamatkanlah aku
dalam musibahku ini, dan semoga engkau menggantinya dengan sesatu yang lebih
baik daripada ini."
· Selalu bersyukur akan nikmat yang
diterima.
Bagaimanapun musibah menuntun kita kejalan yang lebih baik dan
lewat musibahlah Alloh mengabulkan do'a yang sering kita panjatkan, "Ya
Alloh, tuntunlah kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi."Agar
kita tergolong orang-orang yang beruntung dikehidupan mendatang.Semoga kita
bisa mengganti kata Aduh, Sayang Sekali, Kenapa Yah?dengan kata-kata yang lebih
punya makna seperti "Masya Alloh", "Astaghfirullah", dan
kata-kata lain yang lebih bisa menentramkan hati kita. Wallahu a'lam bishawab.
Aku dan Rabbku
“Basahilah lidahmu dengan dzikir” duh..sudah berapa kali saya
denger hadist ini tapi …waktu yang digunakan untuk berdzikir masih sedikit,
padahal Allah berfirman “AKu bersama hamba-Ku ketika dia mengingat-Ku”. Allahu
Akbar. Luar biasa, mencoba untuk melakukan variasi dalam berdzikir kenapa tidak
? La illahaillallah adalah sebaik-baik dzikir …wueshh pikiranpun mulai
menerawang balasan apa yang akan Allah kasih jika saya mengucapkan
Laillahailallah 1x apakah senilai uang 1 juta,10 juta atau 100 juta, lebih, pasti
lebih dari itu di hadapan Rabbul Izzati. Subahannallah. Rugiii…..berapa sudah
waktu yag hilang, uang yang hilang, istana yang tertunda di surga nanti –
InnaLillahiwainaillaihi’irojiun. Ga papa kan berdagang dengan Allah.
Imam Al Ghazali dalam risalahnya Al Asma Al Husna menuliskan
kecintaan kepada Allah bisa ditingkatkan dengan tiga cara ; (i) mengingatnya
(ii) mempercayainya (iii) mempertahankannya. Begitu pula Pak Ary Ginanjar dalam
bukunya “Rahasia membangun kecerdasan Emosional dan Spiritual” beliau menulis
bahwa seorang hamba bisa menjadi manusia yang luar biasa jika mau meneladani
sifat-sifat Allah dengan cara mengingat-ingatnya dan meneladani
sifat-sifat-Nya.
Sesungguhnya antara hamba dengan Rabbnya ada 2 panghalang ; (i)
ilmu dan (ii) ego (Aku).
Perasaan jenuh, bosen, mandek atau tidak ada peningkatan
terkadang datang pula, tapi ingat pesan “yang mencari akan menemukan” ada
secercah harapan untuk mencari lagi, baik itu dari buku, artikel baik itu di
majalah atau di internet, seminar , maupun taklim - apa saja. Alhamdulillah
masih ada rasa haus yang belum terpuaskan dengan minuman yang standard. Mencoba
untuk flash back ke zaman para sahabat yang memiliki tingkat keimanan yang
mempesona dan berdecak kagum setiap kali membaca kisahnya, sudah tentu
pengetahuan mereka tentang surga, neraka, negri akhirat dan segala sesuatu yang
terjadi didalamnya berbeda dengan pengetahuan saya dan itu mungkin yang membuat
tingkat keimanan saya seolah tak bergerak.
Ego, Aku “barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan
mengenal Tuhannya dan barang siapa yang mengenal dirinya maka tidak ada waktu
untuk mencari kesalahan orang lain”. Ada perasaan aneh menghampiri ketika
mencoba berlama-lama bercermin.sudah berapa jauh saya mengenal diri saya dengan
baik dan sudah berapa lama saya menyadari begitu sangat rentannya melakukan
kesalahan setiap detik.
Menjadi milik-Nya bukan sebaliknya menjadikan Allah sebagai
milik saya dan mengikuti semua keinginaan saya – Naudzubillahiminzalik,
kebodohan apalagi yang saya lakukan berlarut-larut. STOP. “Ya Rabb biarkan aku
menjadi milik-Mu selamanya…menyatu bersama-Mu, biarkan jiwa ini terbakar oleh
cahaya-Mu..cinta-Mu”.
Teringat kembali firman Allah SWT “Sesungguhnya Aku mengikuti
perasaan hamba-Ku terhadap-Ku” kenapa tidak saya coba untuk mengatakan ke diri
saya sendiri dengan menggunakan 3 metode dari imam Al Ghazali diatas : “saya
selalu bersamaMu ya Allah” (bukannya saya ingin bersamaMu), “saya selalu
mencintaiMu ya Rabb” (bukannya saya ingin mencintai-Mu), “saya selalu merindukan-Mu
ya Tuhanku”. Ada perasaan puas yang mengalir, seolah-olah sesuatu yang sudah
tercapai dan tinggal menikmati saja perjalanan hidup bersama Al Malik, Al
Aziz.Perasaan tenang, aman, damai, bahagia yang selama ini dicaripun mulai
rajin menjenguk orang pesakitan seperti saya.Wallahua'lam bi shawab.
Antara Mata dan Hati
Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan
penuntut.Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan
pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal
perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang
muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya.Untuk
melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.
Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik,
maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat
melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah
yang tidak baik pula.
Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang
menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang
dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi,
agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan
kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk
menundukkan pandangan: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:
"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang
demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka perbuat".
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS.
An Nuur: 30-31)
Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk
dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang
dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya
"Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu".
Hati berkata kepada Mata
Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan
penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan
matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau
salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya", kau
salahi sabda Rasulullah Saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari
berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada
Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan
didapati kelezatannya di dalam hatinya". (H.R. Ahmad)
Sanggahan Mata terhadap Hati
Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir.Kau kukuhkan dosaku
lahir dan batin.Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun
yang menunjukkan jalan kepadamu.Engkau adalah raja yang ditaati.Sedangkan kami
hanyalah rakyat dan pengikut.Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas
kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk
menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti
perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang
dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan,
tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang
pemimpin, engkau menjadi buidak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang
demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah
Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda:
"Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka
seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh.
Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati."(H.R. Bukhori Muslim dan
lainnya).
Abu Hurairah Ra. Berkata, "Hati adalah raja dan seluruh
anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula
pasukannya.Jika raja buruk, buruk pula pasukannya".Jika engkau dianugerahi
pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena
kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu.Jika engkau
rusak, rusak pula para pengikutmu.Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata
yang tak berdaya.Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak
memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai
firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan
berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.
Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi.
Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada
Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi.
Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah
yang senantiasa menyapa kita.
Robb, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami
dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah
berpaling dari-Mu.
Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafiniifii sam’ii,
Allaahumma ‘aafinii fii bashorii.Aamiin.
Beginilah Musuh Islam, dan Beginilah Umat Islam
Ibu Guru berjilbab rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang
mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari'at Islam. Di tangan kirinya ada kapur,
di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, "Saya punya permainan.
Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.
Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya
angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!" Murid muridnya pun
mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan
dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.
Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik
sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah
"Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka katakanlah
"Kapur!". Dan permainan diulang kembali.Maka pada mulanya murid-murid
itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya.Namun lambat laun,
mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk.Selang beberapa saat, permainan
berhenti.Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.
"Anak-anak, begitulah ummat Islam.Awalnya kalian jelas
dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian,
musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang
haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal
tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh
mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai
dapat mengikutinya.Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan
menukar nilai dan etika."
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang
pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah,
sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi
suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah
terbalik.Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?"
tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu Guru"
"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan. "Bu
Guru ada Qur'an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet.Quran itu
"dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet.Sekarang
anak-anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya
mengambil Qur'an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak
karpet?" Murid-muridnya berpikir.Ada yang mencoba alternatif dengan
tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet,
dan ia ambil Qur'an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi
syarat, tidak memijak karpet. "Murid-murid, begitulah ummat Islam dan
musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan
terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang
biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan
menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika
seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang
kuat.Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.
Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu.
Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan
dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka
tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan
kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga
meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at Islam
sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."
"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak
Bu Guru?" tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang
menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain.Tetapi sekarang
tidak lagi.Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak
akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan,
baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita
kali ini, dan mari kita berdo'a dahulu sebelum pulang..."
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan
tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.
***
Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran).Dan
inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At
Taubah yang artinya: "Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan
mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya,
sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu." (9:32).
Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat
Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim.
Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media,
grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.
Maka tampak dari luar masih Muslim, padahal internal dalam jiwa
ummat, khususnya generasi muda sesungguhnya sudah ibarat poteng (tapai
singkong, peuyeum). Maka rasakan dan pikirkanlah itu dan ingatlah bahwa dunia
ini hanya persinggahan sementara, ingatlah akan Hari Pengadilan. WaLlahu a'lamu
bishshawab.
Bandingkan Cinta Anda Dengan Cinta-Nya!
Cinta adalah memberi, dengan segala daya dan keterbatasannya
seorang pecinta akan memberikan apapun yang sekiranya bakal membuat yang
dicintainya senang. Bukan balasan cinta yang diharapkan bagi seorang pecinta
sejati, meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya.Bagi pecinta sejati, senyum
dan kebahagiaan yang dicintainya itulah yang menjadi tujuannya.
Cinta adalah menceriakan, seperti bunga-bunga indah di taman
yang membawa kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti rerumputan hijau di
padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan
pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang
menawarkan kesejukkan.Dan seperti keelokan seluruh alam yang menghadirkan
kekaguman terhadapnya.
Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang setia menerangi dengan
setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik terakhirnya, ia
pun masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang Mentari, meski
terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun senantiasa mengunjungi alam dan
segenap makhluk dengan sinarannya. Seperti Bandung Bondowoso yang tak
tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu
candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya
tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang
Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India,
di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja
juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari
cinta.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera
kebaikan.Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih
sayang.Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan
kehidupan yang lebih baik. Cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang
mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang
lebih rendah.
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta.
Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk
berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang
dihasilkannya.Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah,
paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta.Cinta mengajarkan pada kita,
bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima,
memberi dan mempertahankan.
Tentang Cinta itu sendiri, Rasulullah dalam sabdanya menegaskan
bahwa tidak beriman seseorang sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai
daripada selain keduanya. Al Ghazali berkata: "Cinta adalah inti
keberagamaan. Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun ada
maqam yang harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah
pengantar ke arah cinta dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu
hanyalah akibat dari cinta saja."
Disatu sisi Allah Sang Pencinta sejati menegaskan, jika
manusia-manusia tak lagi menginginkan cinta-Nya, kelak akan didatangkan-Nya
suatu kaum yang Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya (QS. Al Maidah:54).
Maka, berangkat dari rasa saling mencintai yang demikian itu, bandingkanlah
cinta yang sudah kita berikan kepada Allah dengan cinta Dia kepada kita dan
semua makhluk-Nya.
Wujud cinta-Nya hingga saat ini senantiasa tercurah kepada kita,
Dia melayani seluruh keperluan kita seakan-akan Dia tidak mempunyai hamba
selain kita, seakan-akan tidak ada lagi hamba yang diurus kecuali kita.Tuhan
melayani kita seakan-akan kitalah satu-satunya hamba-Nya.Sementara kita
menyembah-Nya seakan-akan ada tuhan selain Dia.
Apakah balasan yang kita berikan sebagai imbalan dari Cinta yang
Dia berikan? Kita membantah Allah seakan-akan ada Tuhan lain yang kepada-Nya
kita bisa melarikan diri. Sehingga kalau kita "dipecat" menjadi
makhluk-Nya, kita bisa pindah kepada Tuhan yang lain.
Tahukah, jika saja Dia memperhitungkan cinta-Nya dengan cinta
yang kita berikan untuk kemudian menjadi pertimbangan bagi-Nya akan siapa-siapa
yang tetap bersama-Nya di surga kelak, tentu semua kita akan masuk neraka. Jika
Dia membalas kita dengan balasan yang setimpal, celakalah kita. Bila Allah
membalas amal kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan celaka. Jadi, sekali
lagi bandingkan cinta kita dengan cinta-Nya.Wallahu a'lam bishshowaab.
