Rabu, 01 Juni 2016

ulum


IZZAT DARWAZAH
A.    Biografi
Muhammad Izzat ibn Abd al-Hadi Darwazah lahir di kota Neblus, salah satu kawasan terpadat di Palestina, pada 1887 M, dan wafat di Damaskus,Syiria pada 1984 M. Dalam hidupnya, Darwazah berhasil menulis puluhan buku berjilid tebal dan menerjemah beberapa menuskrip berbahasa Turki ke dalam bahasa Arab. Konsentrasi Darwazah diantaranya adalah bidang tafsir dan ilmu terkait, sejarah—meliputi; sejarah bangsa Arab, Arab Islam dan Yahudi- selain sejarah modern tentang konflik Palestina-Israel. Selain itu ia terinspirasi oleh Ibnu Khaldûn yang menulis sendiri autobiografinya, ia memotret dalam bentuk tulisan setiap peristiwa yang dialaminya sendiri, untuk kemudian buku tersebut diberi tajuk al-Mudzakirat wa al-Tasjilat dalam 6 jilid tebal.
Yang menarik dari kisah hidup Darwazah, ketika ia dicekal dan tak diperbolehkan masuk kuliah oleh pihak kolonial, situasi ini tak membuatnya patah arang, malah Darwazah semakin tertantang. Darwazah kemudian mulai membaca buku apa saja yang sampai di tangannya, baik itu buku klasik maupun modern. Ia juga selalu mengikuti buah pena penulis-penulis Arab masa itu, semisal Muhammad Abduh dan Rashid Ridlâ melalui majalah al-Manar, karya-karya Abdurrahman al-Rafi’i, Syakîb Arsalan, atau tulisan yang
Dalam dunia politik, Darwazah bukan sekedar pengamat tapi praktisi. Layaknya tokoh-tokoh yang lahir di masa itu, ia tak mau berpangku tangan menyaksikan bangsanya dijajah kaum Zionis. Ia terlibat dalam beberapa gerakan pro kemerdekaan Palestina. Pada 1916 M misalnya, Darwazah bergabung dengan “Gerakan Nasional Pemuda Arab” dan pada 1919 M, ia menjadi salah seorang penggagas konferensi Arab Palestina. Pada 1932 M, Darwazah berinisiatif mendirikan gerakan bersenjata “Pemuda Palestina”, termasuk dalam barisan anggotanya; Seikh Izzuddin al-Qassâm, yang sampai saat ini masih dicatat sebagai seorang martir Palestina yang namanya diabadikan sebagai nama brigade bersenjata “al-Qassâm”, yang berafiliasi pada fraksi Hamas. Darwazah sebenarnya tak hanya terlibat dalam pergerakan nasional saja, tapi ia juga bergabung dengan pergerakan di dunia Arab lainnya, baik itu di Suriah, Libanon, Yordan dan Mesir. Bahkan Darwazah sempat dipercaya menjadi salah seorang sekretaris Raja Yordania, Abdullah, pada 1920 M. Akibat keterlibatannya dalam dekolonisasi ini, Darwazah berkali-kali dijebloskan ke penjara, bahkan pernah diasingkan ke Syiria dan ke Turki.
B.     Karya
1.      Wufud al-Nu’man ‘ala Kisra Anu Syarwan (Bairut: 1911);
2.      Mukhtashar Tarikh al-‘Arabi wa al-Islam, yang terdiri dua jilid (Kairo: 1925);
3.      Durus fi Fann al-Tarbiyyah terjemahan dari bahasa Persi (Baghdad: 1927);
4.      Durus al-Tarikh al-‘Arabi (Kairo: 1932);
5.      Durus al-Tarikh al-Mutawassith wa al-Hadits (Kairo: 1932);
6.      Durus al-Tarikh al-Qadim (Kairo: 1932);
7.      Turkiyyah al-Haditsiyyah (Bairut: 1946);
8.      Bawa’its al-Harb ‘Alamiyyah al-Ula, terjemahan dari bahasa Turki (Bairut: 1946);
9.      ‘Ashr al-Nabiy wa Bi`atuh qabla al-Islam. Kumpulan analisa terhadap ayat-ayat al-Qur`an (Damaskus: 1946);
10.  Sirah al-Rasul, yang terdiri dari dua juz dan lanjutan dari karangan sebelumnya (Kairo: 1948);
11.  Al-Qur`an wa al-Yahud (Damaskus: 1949);
12.  Al-Qur`an wa al-Mar`ah (Sudan: 1951);
13.  Al-Qur`an wa al-Dlaman al-Ijtima’iy (Sudan: 1951);
14.  Al-Qur`an al-Majid (Sudan: 1952);
15.  Haul al-Harakah al-‘Arabiyyah al-Haditsiyyah, yang terdiri enam juz (Sudan: 1950-1951);
16.  Masyakil al-‘Alam al-‘Arabiy (Damaskus: 1952);
17.  Al-Dustur al-Qur`ani fi Syu`un al-Hayah (Kairo)
18.  Al-Wahdah al-‘Arabiyyah (Bairut: 1958);
19.  Tarikh Bani Isra`il min Asfarihim (Kairo: 1958);
20.  Tarikh al-Jinsi al-‘Arabiy fi Mukhtalif al-Adwar wa al-Aqthar, yang terdiri dari delapan juz (Sudan: 1959-1963);
21.  Ma`sah Falisthin (Damaskus: 1960);
22.  Jihad al-Falisthiniyyin (Kairo: 1960);
23.  Al-‘Arub wa al-‘Urubah fi Huqbah al-Taghallub al-Turkiy min Sanah 250 H ila Sanah 1336 H, yang terdiri dari tiga juz (Damaskus: 1959-1961);
24.  Urubah Mishr fi al-Tarikh wa Ba’da al-Fath al-Islamiy (Kairo: 1961);
25.  Al-Tafsir al-Hadits (Kairo: 1961-1964);
26.  Al-Mar`ah fi al-Qur`an wa al-Sunnah (Sudan: 1967);
27.  Al-Islam wa al-Isytirakiyyah (Sudan: 1968);
28.  Al-Judzur al-Qadimah li Suluk wa Akhlaq wa Ahdats Bani Isra`il wa al-Yahud (Damaskus: 1969);
29.  Qishah al-Ghazwah al-Falisthiniyyah (Kuwait: 1970);
30.  Nasy`ah al-Harakah al-‘Arabiyyah al-Haditsiyyah (Sudan: 1972);
31.  Al-Qur`an wa al-Mubasyirun (Damaskus: 1972);
32.  Al-Qur`an wa al-Mulhidun (Damaskus: 1973);
33.  Al-Juz` al-Awwal min Kitab (fi sabil qadliyyah falisthin wa al-wahdah al-‘arabiyyah wa min wahy al-nuknah wa fi sabil mu’alajatiha) (Sudan: 1973);
34.  Al-Jihad fi Sabilillah fi al-Qur`an wa al-Hadits (Damaskus: 1975);
35.  Mudzakirat wa Tasjilat Muhammad Izzat Darwazah (Beirut: 1993).
C.     Latar Balakang Pemikiran
Izzat Darwazah merupakan salah satu tokoh yang sangat gemar mencari ilmu.ia tak segan membaca buku-buku yang ada di tangannya baik buku-buku lama maupun buku-buku baru. Ia membaca karya beberapa tokoh, misalnya Gustave Le Bon, Habert Spancer, dan yang lainnya dari beberapa tokoh Barat dalam mengkaji filsafat Barat. Ia juga belajar pada beberapa tokoh pemikir muslim, misalnya Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Rafi’i, dan Syakib Arslan. Selain itu ia juga mengikuti majalah sastra dan sosiologi yang diprakarsai oleh George Zidane, Shibli Syamil, Qasim Amin, dan beberapa tokoh lainnya.
Bahkan dalam sela-sela pekerjaannya ia selalu menyempatkan membawa buku untuk ia kaji pada waktu luang. Dalam autobiografi yang ia tulis ia menyebutkan tidak kurang dari 31.500 buku yang telah ia kaji dari berbagai topik, seperti hadis, tafsir, dan sejarah. Ia tidak menerima pengajaran secara formal dari pakarnya selain oleh Syeikh Mushthafa Khayath di Masjid Agung di Neblus dalam masalah fikih, mengkaji kitab hadits Shohih al-Bukhori kepada Syeikh Sulaiman al-Syarabi, dan masalah gramatika kepada Syeikh Musa al-Qadumi, kepala dari salah satu Pesantren di Nablus tahun 1967.
Dari sini setidaknya pengaruh yang besar kepada pribadi Izzat Darwazah adalah rasionalitas serta pengembangan keilmuan (dalam masalah ini seperti pemikiran Abduh akan ketidak tertutupan pintu ijtihad). Akan tetapi nampaknya porsi dari buku-buku sejarah yang ia pelajari cukup banyak, hal ini terlihat dari karya-karyanya yang mayoritas menyangkut permasalahan sejarah dan sosiologi, misalnya Urubah Mishr fi al-Tarikh wa Ba’da al-Fath al-Islamiy, Sirah al-Rasul, dan Durus al-Tarikh al-Qadim. Bahkan master piece-nya dalam bidang tafsir, al-Tafsir al-Hadits diwarnai corak sejarah dan sosial. Dalam masalah sejarah, misalnya ia mengkaitkan antara perjalanan dakwah Nabi dengan susunan kronologis surat al-Qur`an. Dalam masalah sosial, misalnya ia banyak mengkaitkan ayat-ayat al-Qur`an dengan korelasi budaya saat itu, untuk kemudian hasil pembacaan dari dua term diatas digabungkan dalam bingkai hikmah atau ibrah. Hikmah atau ibrah ini merupakan ciri khas dari para pemerhati sejarah Islam (pendongeng).
Setidaknya jika dirunut bahwa dalam proses penafsirannya terhadap al-Qur`an dipengaruhi oleh pertemuannya dengan khazanah tafsir di Syiria dan di Turki. Barulah setelah pertemuannya dengan khazanah tafsir di Turki memantabkan niatnya untuk bergumul dengan tafsir menafsir al-Qur`an.
D.    Metode dan Contoh Penafsiran
Sebelum memulai penafsirannya terhadap al-Qur`an, Izzat menulis pengantar untuk tafsirnya yang bertajuk al-Qur`an al-Majid, sebagaimana telah disebut di atas. Dalam karya (yang disebut terakhir ini) Izzat menuangkan ijtihadnya dalam menafsirkan al-Qur`an sebagaimana yang terangkum sebagai berikut:
1.      Penarikan kesimpulan dari beberapa komponen[1] menjadi satu kesatuan. Pengambilah kesimpulan dari rangkaian ayat malalui keteraturan atau urutannya, dari maknanya, dan dari pembahasannya. Misalnya, dalam rangkaian ayat diambil kesimpulan umumnya, sehingga hal semacam ini lebih bersifat ideal moral.
2.      Penjelasan terhadap kata atau kalimat yang sulit difahami, namun yang tidak berkutat pada penjelasan lughawi (bahasa) ataupun balaghi (sastra).
3.      Penjelasan terhadap perkara yang dimaksudkan komponen dengan penjelasan secara global tanpa adanya penjelasan yang begitu mendalamkan penjelasan yang berkutat pada aspek bahasa dan susunannya. Dengan demikian penjelasan ini dimaksudkan untuk mencari titik sentral dari yang dimaksudkan komponen tersebut.
4.      Menyertakan riwayat yang berkenaan dengan munasabah dalam penurunan beberapa ayat atau  tujuan yang hendak ditunjukkan. Hal ini berkenaan dengan perkara yang dimaksudkan dan juga hukum-hukum yang terkait, serta komentar berkenaan dengan hal tersebut.
5.      Menjelaskan perkara yang terkandung di dalam komponen dari hukum, tujuan, hikmah pen-syari’ah-an, dan komentar berkenaan dengan kehidupan dan pemahaman basyariyyah. Inilah aspek yang menjadi dasar dalam kitab al-Tafsir al-Hadits.
6.      Penjelasan terhadap komponen yang menyinggung sejarah kenabian dan konteks kenabian. Karena yang demikian merupakan sebuah cara untuk memahami aspek dakwah, sejarah, dan perkembangannya. Oleh karena ini bersinggungan langsung dengan maqashid al-qur`aniyyah.
7.      Penekanan terhadap maqashid tersebut yang meliputi anjuran, ancaman, perumpamaan, dan penenang dengan memberikan kabar gembira. Hal ini supaya pembahasan tidak keluar dari jalur yang dimaksudkan.
8.      Memperhatikan hubungan antara beberapa ayat bahkan beberapa surat dengan jalinan yang bersifat tematis.
9.      Mencari penjelasan dari komponen lain di al-Qur`an. Pada beberapa tempat ayat al-Qur`an secara umum oleh karenanya memerlukan pengkhususan.
10.  Penjelasan seputar ayat atau keterangan yang disebutkan berulang di dalam al-Qur`an.
Corak yang digunakan adalah corak hikami. Dengan memakai pendekatan rasional tak jarang ia melakukan kritik terhadap susuna kronoligis surat, serta metode yang digunakan adalah metode tematik analitis dengan menggunakan susunan kronologis. Dalam menafsirkan surat dalam al-Qur`an, Izzat membagi topik utama yang menjadi bahasan pada surat tersebut dengan membuatkan beberapa fashl. Untuk kemudian pada setiap fashl yang terdiri dari beberapa ayat diberikan penjelasan yang luas. Sebagai contoh dalam menafsikan surat al-Jum’ah, ia menulis
Dalam surat ini ada dua fashl, yang pertama yaitu penolakan terhadap Yahudi karena kesombongannya yang menyatakan bahwa Allah memilih dan mengutamakan mereka atas yang lainnya. Dan penjelasan akan pengutamaan Allah terhadap orang Arab yang buta huruf dengan mengutus Nabi Muhammad yag mengajarkan al-kitab dan al-hikmah. Yang kedua, penolakan terhadap orang-orang yang meninggalkan Nabi yang sedang berkhotbah di hari jum’ah dikarenakan melihat perniagaan atau perdagangan. Serta larangan untuk berdagang ketika waktu belangsungnya sholat jum’ah, kewajiban untuk memenuhi panggilan sholat jum’ah, serta diperbolehkannya untuk mencari kenugrahan Allah dengan berdagang setelah melaksanakan sholat jum’ah.
Urutan surat ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh mushaf yang kami jadikan pegangan, adalah yang ke dua puluh empat. Dan riwayat lain tidak jauh dari angka dua puluh empat. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa surat ini diturunkan di Madinah. Hal ini karena adanya penolakan terhadap sekelompok orang Yahudi, yakni sekelompok Yahudi Bani Quraidhah yang melakukan penolakan kepada Nabi pada tahun ke-5 setelah hijrah, setelah terjadinya perang Khandaq yang dijelaskan pada surat alAhzab. Denga demikian surat al-Jum’ah ini diturunkan sebelum surat al-Ahzab. Berikut adalah tafsirnya:
يُسَبِّحُ لِلَّهِ ما فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (1) هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (2) وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (3) ذلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (4)
. (1) الأمّيين: الذين لا كتاب عندهم من الله. وهي هنا تعني العرب.
(2) ولما يلحقوا بهم: الضمير في (بهم) عائد إلى الأميين موضوع الكلام في الآية الأولى كما تلهمه روح الآية وسياقها. وبخاصة كلمة (منهم) قبل الجملة.
الآية الأولى مطلع تمهيدي لما بعدها. احتوت تقرير خضوع كل من في السموات والأرض لله وتقديسهم له. وهو العظيم القدسية. العزيز الحكيم.
والآيات الثلاث احتوت تقريرا لما كان من عناية الله تعالى بالعرب وفضله عليهم وهو صاحب الفضل الذي يؤتي فضله من يشاء بعد أن كانوا في ضلال مبين وذلك:
1- بإرساله فيهم رسولا منهم يتلو عليهم آياته ويطهّر نفوسهم ويعلمهم كتاب الله وكل ما فيه من حكمة وسداد.
2- وبعدم اقتصار ذلك على الحاضرين منهم وشموله لأناس أو أجيال منهم لم يلحقوا بهم بعد.

تعليق على الآيات الأربع الأولى من السورة وما فيه من التنويه بفضل الله على العرب في تكريمهم بإرسال نبيه منهم
ولم نطلع على رواية في مناسبة نزول الآيات. والمتبادر أنها متصلة بالآيات التالية وتمهيد لها.
وقد انطوت في حدّ ذاتها على معاني التنويه والمنّ الرباني بما كان من فضل الله على العرب وتكريمهم وتشريفهم بنبيه العربي وكتابه العربي. وفي هذا تلقين قوي بما يجب عليهم من إخلاص واستمساك شديدين بدين الله وكتابه وسنّة رسوله التي هي الحكمة التي علّمهم إياها النبي. ثم بما يجب عليهم من الدفاع عن هذا التراث المجيد وحفظه نقيّا صافيا طاهرا شكرا لله على ما كرّمهم به من عروبة نبيه وكتابه التي كان لهم فيها رفعة الذكر وعلوّ القدر وخلود الاسم وقوة السلطان الروحي بين أمم الأرض عامة والأمم الإسلامية خاصة.
وهذه المعاني كلّها مما انطوى في آيات عديدة مكية ومدنية في سور سابقة «1» وعلّقنا عليها بما يقتضي، حيث يبدو أن حكمة التنزيل اقتضت تكرار ذلك وتذكير العرب به في المناسبات المختلفة والمتجددة.
ولقد ورد في فصل التفسير من صحيحي البخاري ومسلم عن أبي هريرة قال: «كنّا عند النبي صلى الله عليه وسلم حين أنزلت عليه سورة الجمعة فتلاها فلما بلغ:
وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ قال له رجل: يا رسول الله من هؤلاء الذين لم يلحقوا بنا؟ فلم يكلمه رسول الله وسلمان الفارسي فينا فوضع يده عليه وقال:
والذي نفسي بيده لو كان الإيمان بالثريا لتناوله رجال من هؤلاء» «2» . وقد أورد الطبري وغيره بالإضافة إلى هذا الحديث الذي أوردوه أقوالا معزوة إلى مجاهد وغيره منها أن المقصودين هم الأعاجم ومنها أنهم الذين يدخلون الإسلام إلى يوم القيامة من عرب وعجم.
ولا يبدو الحديث تفسيرا حاسما للجملة ولا حاصرا للفئات التي ذكرت الآيات أنهم لما يلحقوا بهم. وكل ما يمكن أن يفيده الحديث هو بشرى تحققت باعتناق أهل فارس الدين الإسلامي في جملة من اعتنقه من العرب وغير العرب.
وكلمتا (منهم وبهم) يجعلان صرف المعنى إلى الأميين موضوع الكلام والمعطوف عليهم هو الأولى والمعقول. وكلمة الأميين رادفت في القرآن العرب. وجاء مفردها وصفا للنبي صلى الله عليه وسلم في آيات سورة الأعراف [157 و 158] والسورة نزلت في أواسط العهد المدني على الأرجح ثم أخذ العرب يدخلون في الإسلام جماعة بعد جماعة حتى إذا تمّ فتح مكة واعتنق أهلها الإسلام أخذ العرب يدخلون في دين الله أفواجا من كل صوب بحيث يصح القول إن الجملة قد تضمنت تطمينا أو بشرى ربانية تحققت في حياة النبي صلى الله عليه وسلم والله أعلم.
هذا، وحديث أبي هريرة في حدّ ذاته يفيد كما قلنا في تعريف السورة أن السورة نزلت دفعة واحدة وأن فصولها مترابطة. والله تعالى أعلم.
Ibrahim Husain Sazili (Sayyid Quthb(
A.    Biografi
Sayyid Quthb nama lengkapnya adalah Ibrahim Husain Sazili, lahir di Musyah, Asyur, Mesir pada tanggal 9 oktober 1906. Ia anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya bernama Al-hajj Quthb bin Ibrahim, seorang anggota Al-Hizbu Al-Wathani (Partai Nasionalis) yang disegani karena keilmuannya.
Sayyid Quthb memulai pendidikan formalnya pada usia 6 tahun dengan belajar di Sekolah Dasar Modern (madrasah) sebagai model pendidikan yang lain di samping Sekolah Al-Qur’ani Tradisional (kuttâb). Adanya dua model pendidikan ini mengindikasikan kuatnya tarik-menarik antara faham tradisional dan moderat yang saat itu berkembang di Mesir. Namun demikian, Sayyid Quthb tetap memperoleh pendidikan budaya Muslim Arab tradisional, hal mana telah mengakibatkan Sayyid Quthb menghafal al-Qur’an dan pengetahuan Bahasa Arab pada umur 10 tahun, sebelum menamatkan pendidikan dasarnya di Mushah.
Pada tahun 1918 M, dia berhasil menamatkan pendidikan dasarnya. Pada tahun 1921 Sayyid Qutb berangkat ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah. Pada masa mudanya, ia pindah ke Helwan untuk tinggal bersama pamannya, Ahmad Husain Ustman yang merupakan seorang jurnalis. Pada tahun 1925 M, ia masuk ke institusi diklat keguruan, dan lulus tiga tahun kemudian. Lalu ia melanjutkan jenjang perguruannya di Universitas Dâr al-‘Ulûm hingga memporelah gelar sarjana muda dalam bidang sastra sekaligus diploma pendidikan pada tahun 1933 M.
Pada tahun 1949 Sayyid Qutb mendapat tugas belajar di Amerika Serikat selama dua tahun. Disana ia menyaksikan dukungan luas pers Amerika terhadap Israel yang menimbulkan kepahitan tersendiri. Pengalaman di Amerika inilah Sayyid Qutb meluaskan wawasan pemikirannya mengenai problem-problem sosial kemasyarakatan yang ditimbulkan oleh paham materialisme yang gersang dari ruh ketuhanan. Sekembalinya dari Amerika Serikat Sayyid Qutb sangat anti dengan barat yang sebelumnya cenderung ke arah barat. Kemudian ia bergabung dengan ikhwanul Muslimin pada tahun 1953. Walaupun ia tidak pernah bertemu dengan pendirinya Hasan Al Banna ia termasuk tokoh berpengaruh dalam Ikhwanul Muslimin.
Pada Juli 1952, terjadi revolusi Mesir untuk menggulingkan Raja Farouk. Revolusi Mesir yang dilancarkan oleh Gamal Abdul Nasser itu mendapat dukungan Sayyid Quthb (Ikhwanul Muslimin). Akhirnya Gamal Abdul Nasser pun resmi menjadi Presiden Mesir.  Tetapi kerja sama Ikhwanul Muslimin dengan Nasser tidak berlangsung lama. Quthb kecewa dengan kalangan pemerintah Nasser tidak menerima gagasannya untuk membentuk negara Islam.
Selama tahun 1953, ia menghadiri konferensi di Suriah dan Yordania, dan sering memberikan ceramah tentang pentingnya akhlak sebagai prasyarat kebangkitan umat. Pada juli 1954, ia menjadi pemimpin redaksi harian Ikhwanul Muslimin, tetapi baru dua bulan usianya harian itu ditutup atas perintah colonel Gamal Abdul Nasher (presiden Mesir), karena dianggap mengecam perjanjian Mesir-Inggris 7 Juli 1954. Kemudian tepatnya November 1954 Quthb ditangkap oleh Nasser bersamaan dengan penangkapan besar-besaran pemimpin Ikhwanul Muslimin dengan tuduhan berkomplot untuk menjatuhkan pemerintahan. Selama dipenjarakan ia merevisi tiga belas juz pertama tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Sekitar Mei 1955, Sayyid Qutb termasuk salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin yang ditahan setelah organisasi itu dilarang oleh presiden Nasher dengan tuduhan berkomplot untuk menjatuhkan pemerintahan. Pada tanggal 13 Juli 1955, pengadilan rakyat menghukumnya 15 tahun kerja berat. Ia ditahan di beberapa penjara di Mesir hingga pertengahan tahun 1964. Ia dibebaskan tahun itu atas permintaan Abdul Salam Arif (presiden Irak) yang mengadakan kunjungan muhibbah ke Mesir. Akan tetapi baru setahun ia menghirup udara bebas, ia kembali ditangkap bersama ketiga saudaranya: Muhammad Qutub, Hamidah dan Aminah, juga ikut ditahan pula sekitar 20.000 orang yang 700 diantaranya adalah wanita. Presiden Nasher lebih menguatkan tuduhannya bahwa Ikhwanul Muslimin berkomplot untuk membunuhnya, di Mesir berdasarkan undang-undang nomor 911 tahun 1966, presiden memiliki kekuasaan untuk menahan tanpa proses, siapa pun yang dianggap bersalah, dan mengambil alih kekuasaannya, serta melakukan langkah-langkah yang serupa.
Pada tahun 1966, Sayyid Qutb divonis hukuman mati atas tuduhan perencanaan menggulingkan pemerintahan Gamal Abdul Nasher. Menurut sebuah sumber, sebelum dilakukan eksekusi, Gamal Abdul Nasher pernah meminta Sayyid Qutb untuk meminta maaf atas tindakan yang hendak dilakukannya, namun permintaan tersebut ditolak oleh Sayyid Qutb
B.     Karya
1.      At-Tashwir al Fanni fil Qur’an;
2.      Masyaahidal al-Qiyamah fil Qur’an;
3.      Al-‘Adaalah al- Ijtimaa’iyah fil Islam;
4.      Fi Zhilahil Qur’an;
5.      Ma’alim fith-Thariq;
Buku-buku sastra:
6.      Muhimmatu al-Syair fi al-Hayah (1932);
7.      Al-Tashwiru al-Fanni  fi Al-Qur’an (1945)
8.      Masyahidu al-Qiyamah fi al-Qur’an (1945)
9.      An-Naqd al-Adabii Usuuluhuu wa Maanaahijuhuu (Kritik, Prinsip-Prinsip Dasar, dan Metode Sastra)
10.  Naqdu Kitabi Mustaqbali al-Tsaqafah fi Misra
Buku-buku cerita meliputi:
11.  Thiflun min al-Qaryah (1945)
12.  Al-Athyafu al-Arba’ah
13.  Asywak
14.  Al-Madinah Al-Mashirah
Buku-buku yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran
15.  Al-Qashashu al-Dini ( kerja sama dengan Abdul hamid Jaudah)
16.  Al-Jadid fi Al-‘Arabiyah
17.  Al-Jadid fi al-Mahfudzat
18.  Raudlatu al-Tifli, ditulis bersama Aminah as-Sa’id dan Yusuf Murad.
Kumpulan buku-buku agama
19.  Al-Adalah al-Ijtima’iyah (1948)
20.  As-Salaam al-‘Alami wal Islam (Perdamaian Internasional dan Islam), terbit tahun 1951
21.  Ma’rakah al-Islaam war-Ra’sumaaliyah (Perbenturan Islam dan Kapitalisme)
22.  Nahw mujtama’ Islaami (Menuju Masyarakat Islam)
23.  Al-Islam wa Musykilah al-Hadharah (Islam dan Problem-Problem Kebudayaan)
24.  Hadza ad-Din (Agama Ini)
25.  Dirasat islamiyah, (kumpulan berbagai artiel yangdihimpun oleh Muhibbudin al-Khatib ayng terbit tahun 1953)
26.  Al-Mustaqbal li haadzad-Diin (di Tangan Agama Ini) yang merupakan uku penyempurna dari buku Hadza ad-Din (Agama Ini)
27.  Khashais at-Tashawwur al-Islaami wa Muqawwamatuhu (Ciri dan Nilai Visi Islam).
28.  Fi Zhilal al-Qur’an (1953-1964)
29.  Ma’alim fi Al-Thariq (1965)
Buku-buku lain
30.  Ma’rakatuna ma’a al-Yaahuud (Perbenturan Kita Dengan Yahudi)
31.  Fi al-Tariikh, Fikrah wa Manaahij (Dalam Sejarah: Teori dan Metode)
32.  Al-Syathi’ al-Majhul, kumpulan sajak Sayyid Quthb
C.     Latar Belakang Pemikiran
Sayyid Quthb merupakan salah satu tokoh mufasir tradisionalis. Sayyid Quthb berpendapat bahwa keadaan masyarakat Mesir mengalami ketidakstabilan dan kekacauan kehidupan sosial, moral dan politik yang tidak mungkin untuk dilanjutkan lagi. Undang- undang yang berlaku sangat bertentangan dengan jiwa kebudayaan manusia dan jiwa agama, kebutuhan individu, situasi perasaan, dan nilainya tidak mendukung manusia sama sekali, solidaritas sosial hilang serta kebersamaan dan keadilan telah sirna. Kondisi itu diperparah dengan adanya superioritas barat dalam mendominasi wilayah-wilayah muslim.
Pada awalnya ia menyadari bahwa ia mengagumi Barat bahkan tidak jarang ia cenderung kebarat-baratan. Akan tetapi setelah perlawatannya ke Amerika untuk kepentingan studi selama dua tahun mengubah pemikirannya terhadap Barat. Ia melihat fenomena kekosongan ruhani yang dialami orang-orang Barat. Karena kekosongan ruhani ini menghantarkan masyarakat Barat pada tindakan amoral. Memang hal ini merupakan implikasi dari faham liberalis yang diyakini masyarakan Barat, terlebih Amerika. Dan inilah yang ia saksikan di Mesir kala itu, secara perlahan merambahnya fenomena kekosongan ruhani sebagaimana di Barat.
Oleh karena ini, ia turut serta dalam Ikhwanul Muslimin menggulingkan Raja Farouk, yang menurutnya sudah sangat amoral. Lebih lanjut ia banyak mengisi kuliah-kuliah bebas yang bertemakan moral atau akhlak. Ia meyakini bahwa keberlangsungan suatu generasi sangat tergantung pada akhlaknya. Sehingga penggambaran yang dilukiskan dalam tafsirnya, Fi Dzilal al-Qur`an ini mencerminkan determinis yang terjadi. Dimungkinkan bahwa tafsirnya ini merupakan lanjutan dari ceramah bebas yang ia lakukan akhir-akhir sebelum ia dipenjara. Penggunaan al-Qur`an dalam pengaitan ini karena sejak kecil ia telah bergumul dengan al-Qur`an, dan inilah corak pendidikan trsdisionalis. Selain itu penggambaran yang sangat gamblang oleh Sayyid Quthb ini didukung dengan keberadaannya sebagai sarjana dalam bidang sastra dan pribadi yang pandai bercerita (novelis).
D.    Metode dan Contoh Penafsiran
Metode yang ditempuh dalam penulisan tafsirnya:
1.      Penjelasan umum pada muqadimah setiap surat, untuk mengaitkan atau mempertemukan antara bagian-bagiannya dan untuk menjelaskan tujuan serta maksud umum surat tersebut.
2.      Pengelompokan ayat-ayat sesuai dengan pesan yang terkandung pada ayat tersebut.
3.      Memperhatikan munasabah antar ayat.
4.      Menggunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk menafsirkan ayat-ayat lain.
5.      Menggunakan hadits-hadits Nabi SAW untuk menguatkan penafsirannya. Hadits-hadits yang digunakan adalah hadits-hadits yang sudah populer  secara umum, oleh karena itu dalam menyebutkan hadits, dia tidak menjelaskan sanad dan nilai dari hadits tersebut.
6.      Mengutip pendapat mufasir klasik. Hal ini didasarkan pada perlunya otoritas klasik, untuk melihat kesesuain atau sebagai bahan perbandinagn sehingga akan didapatkan sebuah penafsiran yang sesuai dengan apa yang dimaksud oleh ayat.
Tafsir ini merupakan bercorak sastra ada juga yang mengatakan bercorak tashwiri, dengan pendekatan normatif, serta metode analitis. Akan tetapi dalam proses tafsirnya ia menuturkan beberapa ayat sekaligus yang menurutnya masih berkaitan satu dengan yang lainnya. Berikut contoh penafsiran yang dilakukan oleh Sayyid Quthb:
Pentafsiran surat al-Baqarah ayat 224:
ثم ينتقل السياق من الحديث عن حكم المباشرة في فترة الحيض، إلى الحديث عن حكم الإيلاء.. أي الحلف بالهجران والامتناع عن المباشرة.. وبهذه المناسبة يلم بالحلف ذاته فيجعل الحديث عنه مقدمة للحديث عن الإيلاء.
«وَلا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ، وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ، لا يُؤاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمانِكُمْ، وَلكِنْ يُؤاخِذُكُمْ بِما كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ، وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ. لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ. فَإِنْ فاؤُ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ، وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ» ..
التفسير المروي في قوله تعالى: «وَلا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمانِكُمْ..» عن ابن عباس- رضي الله عنهما- قال: لا تجعلن عرضة يمينك ألا تصنع الخير، ولكن كفر عن يمينك واصنع الخير. وكذا قال مسروق والشعبي وإبراهيم النخعي ومجاهد وطاووس وسعيد بن جبير وعطاء وعكرمة ومكحول والزهري والحسن وقتادة ومقاتل بن حيان والربيع بن أنس والضحاك وعطاء الخراساني والسدي- رحمهم الله- كما نقل ابن كثير.
ومما يستشهد به لهذا التفسير ما رواه مسلم- بإسناده- عن أبي هريرة أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «من حلف على يمين فرأى غيرها خيراً منها فليكفر عن يمينه، وليفعل الذي هو خير» .. وما رواه البخاري- بإسناده- عن أبي هريرة قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «والله لأن يلج أحدكم بيمينه في أهله آثم له عند الله من أن يعطي كفارته التي افترض الله عليه» ..
وعلى هذا يكون معناها: لا تجعلوا الحلف بالله مانعاً لكم من عمل البر والتقوى والإصلاح بين الناس.
فإذا حلفتم ألا تفعلوا، فكفروا عن إيمانكم وأتوا الخير. فتحقيق البر والتقوى والإصلاح أولى من المحافظة على اليمين.
وذلك كالذي وقع من أبي بكر- رضي الله عنه- حين أقسم لا يبر مسطحاً قريبه الذي شارك في حادثة الإفك- فأنزل الله الآية التي في سورة النور: «وَلا يَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبى وَالْمَساكِينَ وَالْمُهاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا. أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ؟» .. فرجع أبو بكر عن يمينه وكفر عنها


JAMALUDDIN AL-QASIMI
A.    Biografi
Nama lengkapnya adalah Muhammad Jamaluddin Abu al-Farj ibn Muhammad Sa’id ibn Qasim. Kakeknya ini merupakan salah satu orang yang memiliki intelektual tinggi di Syam, maka tidak heran jika Muhammad Jamaluddin terkenal dengan nama Qasim, sehingga dijadikan penisbatan untuknya, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi. Lahir pada hari senin, 8 Jumadil Ula 1283 H yang bertepatan dengan 17 September 1866.
Keluarganya merupakan keluarga yang agamis sehingga aspek pertama yang ditanamkan kepada anak adalah belajar alQu`an. Ia belajar al-Qur`an kepada salah satu qura`, Syeikh Ahmad al-Halwani, Syeikh Salim al-‘Athar, dan Syeikh Bakri al-‘Athar. Untuk kemudian ia dikirim ke Madrasah Dhahiriyyah untuk belajar ilmu tauhid, sintaksis gramatis, logika, dan beberapa ilmu lainnya. Ia melanjutkan studinya ke Mesir dan Madinah untuk mengkaji dan memperdalam madzhab fikih. Setelah selesai mendalami kelima madzhab pada tahun 1313 H kemudian ia menawarkan sebuah madzhab baru yang dinamai dengan al-madzhab al-Jamali. Barulah setelah sepulang ini ia gemar melakukan diskusi-diskusi baik yang khusus maupun yang umum dalam masalah tafsir, ilmu-ilmu syari’at, dan sastra.
B.     Karya
Fahdi al-Rumi mengatkan bahwa tulisan-tulisan Jamaluddin al-Qasimi ini mendekati angka 100. Dalam al-A’lam, al-Zarkili menuturkan bahwa karangannya berjumlah 72 buah, diantaranya:
1.      Al-A’il al-Tauhid;
2.      Diwan Khathb;
3.      Al-Fatawi fi al-Islam;
4.      Irsyad al-Khalq ila al-‘Amal bi Khabar al-Barq;
5.      Syarh Luqthah al-‘Ijlan;
6.      Naqd al-Nasha`ih al-Kafiyyah;
7.      Madzahib al-A’rab wa Fulasifah al-Islam fi al-Jan;
8.      Mahasin al-Ta`wil;
9.      Qaqa’id al-Tahdits min Funun Mushthalah al-Hadits;
10.  Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa al-‘Awa`id;
11.  Tarikh al-Jahmiyah wa al-Mu’tazilah;
12.  Ta’thir al-Masyam fi Ma`atsir Dimsyiq al-Syam;
13.  Mau’idhah al-Mu’minin min Ihya` ‘Ulum al-Din;
14.  Syafar al-Asbath
15.  Tanbih al-Thalib ila Ma’rifah al-Fardli wa al-Wajib;
16.  Jawami’ al-Adab fi Akhlaq al-Anjab.
C.     Latar Belakang Intelektual
Dari pola penafsirannya setidaknya terlihat kapasitas al-Qasimi sebagai intelektual muslim yang mumpuni. Banyaknya kitab yang ia jadikan rujukan menambah sisi lebih dari tafsir ini. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa al-Qasimi merupakan salah satu penerus generasi salafi yang  progresif. Setidaknya hal ini terlihat dengan dia menawarkan madzhab baru yang merupakan buah hasil pengkajian dan pendalamannya terhadap lima madzhab yang masyhur. Maka tidak heran jika al-Muhtasib lebih memilh corak salafi untuk tafsir ini.
Kita dapat menggambarkan akan sosok al-Qasimi ini sebagai penghantar antara klasik dan modern. Ia berusaha tetap melestarikan khazanah klasik namun dengan metode modern. Artinya tidak begitu saja mencomot segala hal yang berhubungan dengan tafsiran suatu ayat tanpa adanya penelaahan secara kritis.
D.    Metode dan Contoh Penafsiran
Sebagaimana diterangkan dalam pengantar tafsirnya adala empat kaidah dalam menafsirkan alQur`an, yaitu:
1.      Menukil dari Nabi, namun yang perlu digaris bawahi adalah menghindari periwayatan yang lemah.
2.      Menukil dari penafsiran para sahabat, karena penafsiran oleh sahabat ini marfu’ kepada Nabi.
3.      Menggunakan kaidah bahasa, karena al-Qur`an diturunkan menggunakan bahasa Arab.
4.      Menafsirkan dengan memahami bahasannya. Hal ini sebagaimana do’a Nabi kepada Ibn ‘Abbas “Ya Allah! Fahamkanlah dia (Ibn ‘Abbas) dalam masalah agama dan ajarkanlah dia ta`wil”.
Corak yang ditempuh oleh Jamaluddin al-Qasimi dalam tafsirnya adalah corak al-‘aqa`idi (sebagaimana dikatakan oleh Fahdi al-Rumi) dan corak salafi (sebagaimana dikatakan oleh al-Muhtasib). Metode yang ditempuh adalah analitis dengan pendekatan normatif. Sebagai contoh, penafsiran surat al-Baqarah ayat 11:
القول في تأويل قوله تعالى: [سورة البقرة (2) : آية 10]
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ بِما كانُوا يَكْذِبُونَ (10)
المرض: السقم، وهو نقيض الصحة، بسبب ما يعرض للبدن، فيخرجه عن الاعتدال اللائق به، ويوجب الخلل في أفاعيله، استعير هاهنا لعدم صحة يقينهم، وضعف دينهم- وكذا توصف قلوب المؤمنين بالسلامة التي هي صحة اليقين، وعدم ضعفه، كما قال تعالى: إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ [الشعراء: 89] أي:
غير مريض بما ذكرنا- أو استعير لشكّهم، لأن الشك تردّد بين الأمرين، والمنافق متردّد، كما
في الحديث «مثل المنافق كمثل الشاة العائرة بين الغنمين» «2»
والمريض متردّد بين الحياة والموت.
فَزادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً بأن طبع على قلوبهم، لعلمه تعالى بأنّه لا يؤثر فيها التذكير والإنذار.
وقال القاشانيّ: أي مرضا آخر- حقدا وحسدا وغلا- بإعلاء كلمة الدين، ونصرة الرسول والمؤمنين- ثم قال: والرذائل كلها أمراض القلوب، لأنها أسباب ضعفها وآفتها في أفعالها الخاصة، وهلاكها في العاقبة.
وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ أي: مؤلم- بكسر اللام- فعيل بمعنى فاعل- كسميع- وبصير- قال في المحكم: الأليم من العذاب الذي يبلغ إيجاعه غاية البلوغ. ومنه. يعلم وجه إيثاره في عذاب المنافقين- على «العظم» المتقدم في وصف عذاب الكافرين- ويؤيده: إِنَّ الْمُنافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً [النساء: 145] .
بِما كانُوا يَكْذِبُونَ الباء للسببيّة أو للمقابلة- أي بسبب كذبهم أو بمقابلته- وهو قولهم: آمنا بالله وباليوم الآخر، وهم غير مؤمنين. وفيه رمز إلى قبح الكذب، وسماجته، وتخييل أن العذاب الأليم لا حق بهم من أجل كذبهم- مع إحاطة علم السامع بأنّ لحوق العذاب بهم من جهات شتى- ونحوه قوله تعالى: مِمَّا خَطِيئاتِهِمْ أُغْرِقُوا [نوح: 25]- والقوم كفرة- وإنما خصّت الخطيئات استعظاما لها، وتنفيرا عن ارتكابها.


[1] Dalam hal ini ia menyebutkannya sebagai jumlah, yang dimaksudkan disini yaitu komponen beberapa ayat yang berkaitan dalam satu jumlah rangkaian. Terkadang ketika diwahyukan Allah menurunkan beberapa ayat meskipun pada kondisi tertentu ada yang hanya satu ayat. Dalam penurunan ini tentunya ada garis merah atau garis singgung yang menghubungkan antar beberapa ayat tersebut yang kesemuanya saling berjalin berkelindan satu sama lain

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda