ulum
IZZAT DARWAZAH
A. Biografi
Muhammad Izzat ibn Abd al-Hadi Darwazah lahir di kota Neblus, salah
satu kawasan terpadat di Palestina, pada 1887 M, dan wafat di Damaskus,Syiria
pada 1984 M. Dalam hidupnya, Darwazah berhasil menulis puluhan buku berjilid
tebal dan menerjemah beberapa menuskrip berbahasa Turki ke dalam bahasa Arab. Konsentrasi
Darwazah diantaranya adalah bidang tafsir dan ilmu terkait, sejarah—meliputi;
sejarah bangsa Arab, Arab Islam dan Yahudi- selain sejarah modern tentang
konflik Palestina-Israel. Selain itu ia terinspirasi oleh Ibnu Khaldûn yang menulis
sendiri autobiografinya, ia memotret dalam bentuk tulisan setiap
peristiwa yang dialaminya sendiri, untuk kemudian buku tersebut diberi tajuk al-Mudzakirat wa
al-Tasjilat dalam 6 jilid tebal.
Yang menarik dari kisah hidup Darwazah, ketika ia dicekal dan tak
diperbolehkan masuk kuliah oleh pihak kolonial, situasi ini tak membuatnya
patah arang, malah Darwazah semakin tertantang. Darwazah kemudian mulai membaca
buku apa saja yang sampai di tangannya, baik itu buku klasik maupun modern. Ia juga selalu
mengikuti buah pena penulis-penulis Arab masa itu, semisal Muhammad Abduh dan
Rashid Ridlâ melalui majalah al-Manar, karya-karya Abdurrahman al-Rafi’i,
Syakîb Arsalan, atau tulisan yang
Dalam dunia politik,
Darwazah bukan sekedar pengamat tapi praktisi. Layaknya tokoh-tokoh yang lahir
di masa itu, ia tak mau berpangku tangan menyaksikan bangsanya dijajah kaum
Zionis. Ia terlibat dalam beberapa gerakan pro kemerdekaan Palestina. Pada 1916
M misalnya, Darwazah bergabung dengan “Gerakan Nasional Pemuda Arab” dan pada
1919 M, ia menjadi salah seorang penggagas konferensi Arab Palestina. Pada 1932
M, Darwazah berinisiatif mendirikan gerakan bersenjata “Pemuda Palestina”,
termasuk dalam barisan anggotanya; Seikh Izzuddin al-Qassâm, yang sampai saat
ini masih dicatat sebagai seorang martir Palestina yang namanya diabadikan
sebagai nama brigade bersenjata “al-Qassâm”, yang berafiliasi pada fraksi Hamas.
Darwazah sebenarnya tak hanya terlibat dalam pergerakan nasional saja, tapi ia
juga bergabung dengan pergerakan di dunia Arab lainnya, baik itu di Suriah,
Libanon, Yordan dan Mesir. Bahkan Darwazah sempat dipercaya menjadi salah
seorang sekretaris Raja Yordania, Abdullah, pada 1920 M. Akibat keterlibatannya
dalam dekolonisasi ini, Darwazah berkali-kali dijebloskan ke penjara, bahkan
pernah diasingkan ke Syiria dan ke Turki.
B.
Karya
1.
Wufud al-Nu’man
‘ala Kisra Anu Syarwan (Bairut:
1911);
2.
Mukhtashar
Tarikh al-‘Arabi wa al-Islam,
yang terdiri dua jilid (Kairo: 1925);
3.
Durus fi Fann
al-Tarbiyyah terjemahan dari
bahasa Persi (Baghdad: 1927);
4.
Durus al-Tarikh
al-‘Arabi (Kairo: 1932);
5.
Durus al-Tarikh
al-Mutawassith wa al-Hadits (Kairo: 1932);
6.
Durus al-Tarikh
al-Qadim (Kairo: 1932);
7.
Turkiyyah
al-Haditsiyyah (Bairut:
1946);
8.
Bawa’its
al-Harb ‘Alamiyyah al-Ula, terjemahan
dari bahasa Turki (Bairut: 1946);
9.
‘Ashr al-Nabiy
wa Bi`atuh qabla al-Islam. Kumpulan
analisa terhadap ayat-ayat al-Qur`an (Damaskus: 1946);
10.
Sirah al-Rasul, yang terdiri dari dua juz dan lanjutan dari karangan sebelumnya
(Kairo: 1948);
11.
Al-Qur`an wa
al-Yahud (Damaskus: 1949);
12.
Al-Qur`an wa
al-Mar`ah (Sudan: 1951);
13.
Al-Qur`an wa
al-Dlaman al-Ijtima’iy (Sudan: 1951);
14.
Al-Qur`an
al-Majid (Sudan: 1952);
15.
Haul al-Harakah
al-‘Arabiyyah al-Haditsiyyah,
yang terdiri enam juz (Sudan: 1950-1951);
16.
Masyakil
al-‘Alam al-‘Arabiy (Damaskus:
1952);
17.
Al-Dustur
al-Qur`ani fi Syu`un al-Hayah
(Kairo)
18.
Al-Wahdah
al-‘Arabiyyah (Bairut:
1958);
19.
Tarikh Bani
Isra`il min Asfarihim (Kairo: 1958);
20.
Tarikh al-Jinsi
al-‘Arabiy fi Mukhtalif al-Adwar wa al-Aqthar,
yang terdiri dari delapan juz (Sudan: 1959-1963);
21.
Ma`sah
Falisthin (Damaskus: 1960);
22.
Jihad
al-Falisthiniyyin (Kairo: 1960);
23.
Al-‘Arub wa
al-‘Urubah fi Huqbah al-Taghallub al-Turkiy min Sanah 250 H ila Sanah 1336 H, yang terdiri dari tiga juz (Damaskus: 1959-1961);
24.
‘Urubah
Mishr fi al-Tarikh wa Ba’da al-Fath al-Islamiy (Kairo: 1961);
25.
Al-Tafsir
al-Hadits (Kairo: 1961-1964);
26.
Al-Mar`ah fi
al-Qur`an wa al-Sunnah (Sudan: 1967);
27.
Al-Islam wa
al-Isytirakiyyah (Sudan: 1968);
28.
Al-Judzur
al-Qadimah li Suluk wa Akhlaq wa Ahdats Bani Isra`il wa al-Yahud (Damaskus: 1969);
29.
Qishah
al-Ghazwah al-Falisthiniyyah
(Kuwait: 1970);
30.
Nasy`ah
al-Harakah al-‘Arabiyyah al-Haditsiyyah
(Sudan: 1972);
31.
Al-Qur`an wa
al-Mubasyirun (Damaskus:
1972);
32.
Al-Qur`an wa
al-Mulhidun (Damaskus:
1973);
33.
Al-Juz`
al-Awwal min Kitab (fi sabil qadliyyah falisthin wa al-wahdah al-‘arabiyyah wa
min wahy al-nuknah wa fi sabil mu’alajatiha)
(Sudan: 1973);
34.
Al-Jihad fi
Sabilillah fi al-Qur`an wa al-Hadits
(Damaskus: 1975);
35.
Mudzakirat wa
Tasjilat Muhammad Izzat Darwazah (Beirut: 1993).
C.
Latar Balakang Pemikiran
Izzat Darwazah merupakan salah satu tokoh yang sangat gemar mencari ilmu.ia
tak segan membaca buku-buku yang ada di tangannya baik buku-buku lama maupun
buku-buku baru. Ia membaca karya beberapa tokoh, misalnya Gustave Le Bon,
Habert Spancer, dan yang lainnya dari beberapa tokoh Barat dalam mengkaji
filsafat Barat. Ia juga belajar pada beberapa tokoh pemikir muslim, misalnya
Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Rafi’i, dan Syakib Arslan. Selain itu ia juga
mengikuti majalah sastra dan sosiologi yang diprakarsai oleh George Zidane,
Shibli Syamil, Qasim Amin, dan beberapa tokoh lainnya.
Bahkan dalam sela-sela pekerjaannya ia selalu menyempatkan membawa buku
untuk ia kaji pada waktu luang. Dalam autobiografi yang ia tulis ia menyebutkan
tidak kurang dari 31.500 buku yang telah ia kaji dari berbagai topik, seperti
hadis, tafsir, dan sejarah. Ia tidak menerima pengajaran secara formal dari
pakarnya selain oleh Syeikh Mushthafa Khayath di Masjid Agung di Neblus dalam
masalah fikih, mengkaji kitab hadits Shohih al-Bukhori kepada Syeikh
Sulaiman al-Syarabi, dan masalah gramatika kepada Syeikh Musa al-Qadumi, kepala
dari salah satu Pesantren di Nablus tahun 1967.
Dari sini setidaknya pengaruh yang besar kepada pribadi Izzat Darwazah
adalah rasionalitas serta pengembangan keilmuan (dalam masalah ini seperti
pemikiran Abduh akan ketidak tertutupan pintu ijtihad). Akan tetapi nampaknya
porsi dari buku-buku sejarah yang ia pelajari cukup banyak, hal ini terlihat
dari karya-karyanya yang mayoritas menyangkut permasalahan sejarah dan
sosiologi, misalnya Urubah Mishr fi al-Tarikh wa Ba’da al-Fath al-Islamiy,
Sirah al-Rasul, dan Durus al-Tarikh al-Qadim. Bahkan master
piece-nya dalam bidang tafsir, al-Tafsir al-Hadits diwarnai corak
sejarah dan sosial. Dalam masalah sejarah, misalnya ia mengkaitkan antara
perjalanan dakwah Nabi dengan susunan kronologis surat al-Qur`an. Dalam masalah
sosial, misalnya ia banyak mengkaitkan ayat-ayat al-Qur`an dengan korelasi
budaya saat itu, untuk kemudian hasil pembacaan dari dua term diatas
digabungkan dalam bingkai hikmah atau ibrah. Hikmah atau ibrah ini merupakan
ciri khas dari para pemerhati sejarah Islam (pendongeng).
Setidaknya jika dirunut bahwa dalam proses penafsirannya terhadap al-Qur`an
dipengaruhi oleh pertemuannya dengan khazanah tafsir di Syiria dan di Turki.
Barulah setelah pertemuannya dengan khazanah tafsir di Turki memantabkan
niatnya untuk bergumul dengan tafsir menafsir al-Qur`an.
D. Metode dan Contoh Penafsiran
Sebelum memulai penafsirannya terhadap al-Qur`an, Izzat
menulis pengantar untuk tafsirnya yang bertajuk al-Qur`an al-Majid,
sebagaimana telah disebut di atas. Dalam karya (yang disebut terakhir ini)
Izzat menuangkan ijtihadnya dalam menafsirkan al-Qur`an sebagaimana yang
terangkum sebagai berikut:
1.
Penarikan
kesimpulan dari beberapa komponen[1]
menjadi satu kesatuan. Pengambilah kesimpulan dari rangkaian ayat malalui
keteraturan atau urutannya, dari maknanya, dan dari pembahasannya. Misalnya,
dalam rangkaian ayat diambil kesimpulan umumnya, sehingga hal semacam ini lebih
bersifat ideal moral.
2.
Penjelasan
terhadap kata atau kalimat yang sulit difahami, namun yang tidak berkutat pada
penjelasan lughawi (bahasa) ataupun balaghi (sastra).
3.
Penjelasan
terhadap perkara yang dimaksudkan komponen dengan penjelasan secara global
tanpa adanya penjelasan yang begitu mendalamkan penjelasan yang berkutat pada
aspek bahasa dan susunannya. Dengan demikian penjelasan ini dimaksudkan untuk mencari
titik sentral dari yang dimaksudkan komponen tersebut.
4.
Menyertakan
riwayat yang berkenaan dengan munasabah dalam penurunan beberapa ayat
atau tujuan yang hendak ditunjukkan. Hal
ini berkenaan dengan perkara yang dimaksudkan dan juga hukum-hukum yang
terkait, serta komentar berkenaan dengan hal tersebut.
5.
Menjelaskan
perkara yang terkandung di dalam komponen dari hukum, tujuan, hikmah pen-syari’ah-an,
dan komentar berkenaan dengan kehidupan dan pemahaman basyariyyah.
Inilah aspek yang menjadi dasar dalam kitab al-Tafsir al-Hadits.
6.
Penjelasan
terhadap komponen yang menyinggung sejarah kenabian dan konteks kenabian.
Karena yang demikian merupakan sebuah cara untuk memahami aspek dakwah,
sejarah, dan perkembangannya. Oleh karena ini bersinggungan langsung dengan maqashid
al-qur`aniyyah.
7.
Penekanan
terhadap maqashid tersebut yang meliputi anjuran, ancaman, perumpamaan,
dan penenang dengan memberikan kabar gembira. Hal ini supaya pembahasan tidak
keluar dari jalur yang dimaksudkan.
8.
Memperhatikan
hubungan antara beberapa ayat bahkan beberapa surat dengan jalinan yang
bersifat tematis.
9.
Mencari penjelasan dari komponen lain di al-Qur`an. Pada beberapa tempat ayat al-Qur`an secara umum oleh karenanya
memerlukan pengkhususan.
10.
Penjelasan
seputar ayat atau keterangan yang disebutkan berulang di dalam al-Qur`an.
Corak yang digunakan adalah corak hikami. Dengan
memakai pendekatan rasional tak jarang ia melakukan kritik terhadap susuna
kronoligis surat, serta metode yang digunakan adalah metode tematik analitis
dengan menggunakan susunan kronologis. Dalam menafsirkan surat dalam al-Qur`an,
Izzat membagi topik utama yang menjadi bahasan pada surat tersebut dengan
membuatkan beberapa fashl. Untuk kemudian pada setiap fashl yang
terdiri dari beberapa ayat diberikan penjelasan yang luas. Sebagai contoh dalam
menafsikan surat al-Jum’ah, ia menulis
Dalam surat ini ada dua fashl, yang pertama yaitu
penolakan terhadap Yahudi karena kesombongannya yang menyatakan bahwa Allah
memilih dan mengutamakan mereka atas yang lainnya. Dan penjelasan akan
pengutamaan Allah terhadap orang Arab yang buta huruf dengan mengutus Nabi
Muhammad yag mengajarkan al-kitab dan al-hikmah. Yang kedua,
penolakan terhadap orang-orang yang meninggalkan Nabi yang sedang berkhotbah di
hari jum’ah dikarenakan melihat perniagaan atau perdagangan. Serta larangan
untuk berdagang ketika waktu belangsungnya sholat jum’ah, kewajiban untuk
memenuhi panggilan sholat jum’ah, serta diperbolehkannya untuk mencari kenugrahan
Allah dengan berdagang setelah melaksanakan sholat jum’ah.
Urutan surat ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh
mushaf yang kami jadikan pegangan, adalah yang ke dua puluh empat. Dan riwayat
lain tidak jauh dari angka dua puluh empat. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa
surat ini diturunkan di Madinah. Hal ini karena adanya penolakan terhadap
sekelompok orang Yahudi, yakni sekelompok Yahudi Bani Quraidhah yang melakukan
penolakan kepada Nabi pada tahun ke-5 setelah hijrah, setelah terjadinya perang
Khandaq yang dijelaskan pada surat alAhzab. Denga demikian surat al-Jum’ah ini
diturunkan sebelum surat al-Ahzab. Berikut adalah tafsirnya:
يُسَبِّحُ لِلَّهِ ما فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (1) هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ
يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتابَ وَالْحِكْمَةَ
وَإِنْ كانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (2) وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا
بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (3) ذلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشاءُ
وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (4)
. (1) الأمّيين: الذين لا كتاب عندهم من الله. وهي هنا تعني العرب.
(2) ولما يلحقوا بهم: الضمير في (بهم) عائد إلى الأميين موضوع الكلام
في الآية الأولى كما تلهمه روح الآية وسياقها. وبخاصة كلمة (منهم) قبل الجملة.
الآية الأولى مطلع تمهيدي لما بعدها. احتوت تقرير خضوع كل من في السموات
والأرض لله وتقديسهم له. وهو العظيم القدسية. العزيز الحكيم.
والآيات الثلاث احتوت تقريرا لما كان من عناية الله تعالى بالعرب وفضله
عليهم وهو صاحب الفضل الذي يؤتي فضله من يشاء بعد أن كانوا في ضلال مبين وذلك:
1- بإرساله فيهم رسولا منهم
يتلو عليهم آياته ويطهّر نفوسهم ويعلمهم كتاب الله وكل ما فيه من حكمة وسداد.
2- وبعدم اقتصار ذلك على الحاضرين
منهم وشموله لأناس أو أجيال منهم لم يلحقوا بهم بعد.
تعليق
على الآيات الأربع الأولى من السورة وما فيه من التنويه بفضل الله على العرب في تكريمهم
بإرسال نبيه منهم
ولم نطلع على رواية في مناسبة نزول الآيات. والمتبادر أنها متصلة بالآيات
التالية وتمهيد لها.
وقد انطوت في حدّ ذاتها على معاني التنويه والمنّ الرباني بما كان من
فضل الله على العرب وتكريمهم وتشريفهم بنبيه العربي وكتابه العربي. وفي هذا تلقين قوي
بما يجب عليهم من إخلاص واستمساك شديدين بدين الله وكتابه وسنّة رسوله التي هي الحكمة
التي علّمهم إياها النبي. ثم بما يجب عليهم من الدفاع عن هذا التراث المجيد وحفظه نقيّا
صافيا طاهرا شكرا لله على ما كرّمهم به من عروبة نبيه وكتابه التي كان لهم فيها رفعة
الذكر وعلوّ القدر وخلود الاسم وقوة السلطان الروحي بين أمم الأرض عامة والأمم الإسلامية
خاصة.
وهذه المعاني كلّها مما انطوى في آيات عديدة مكية ومدنية في سور سابقة
«1» وعلّقنا عليها بما يقتضي، حيث يبدو أن حكمة التنزيل اقتضت تكرار ذلك وتذكير العرب
به في المناسبات المختلفة والمتجددة.
ولقد ورد في فصل التفسير من صحيحي البخاري ومسلم عن أبي هريرة قال: «كنّا
عند النبي صلى الله عليه وسلم حين أنزلت عليه سورة الجمعة فتلاها فلما بلغ:
وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ قال له رجل: يا رسول الله
من هؤلاء الذين لم يلحقوا بنا؟ فلم يكلمه رسول الله وسلمان الفارسي فينا فوضع يده عليه
وقال:
والذي نفسي بيده لو كان الإيمان بالثريا لتناوله رجال من هؤلاء» «2»
. وقد أورد الطبري وغيره بالإضافة إلى هذا الحديث الذي أوردوه أقوالا معزوة إلى مجاهد
وغيره منها أن المقصودين هم الأعاجم ومنها أنهم الذين يدخلون الإسلام إلى يوم القيامة
من عرب وعجم.
ولا يبدو الحديث تفسيرا حاسما للجملة ولا حاصرا للفئات التي ذكرت الآيات
أنهم لما يلحقوا بهم. وكل ما يمكن أن يفيده الحديث هو بشرى تحققت باعتناق أهل فارس
الدين الإسلامي في جملة من اعتنقه من العرب وغير العرب.
وكلمتا (منهم وبهم) يجعلان صرف المعنى إلى الأميين موضوع الكلام والمعطوف
عليهم هو الأولى والمعقول. وكلمة الأميين رادفت في القرآن العرب. وجاء مفردها وصفا
للنبي صلى الله عليه وسلم في آيات سورة الأعراف [157 و 158] والسورة نزلت في أواسط
العهد المدني على الأرجح ثم أخذ العرب يدخلون في الإسلام جماعة بعد جماعة حتى إذا تمّ
فتح مكة واعتنق أهلها الإسلام أخذ العرب يدخلون في دين الله أفواجا من كل صوب بحيث
يصح القول إن الجملة قد تضمنت تطمينا أو بشرى ربانية تحققت في حياة النبي صلى الله
عليه وسلم والله أعلم.
هذا، وحديث أبي هريرة في حدّ ذاته يفيد كما قلنا في تعريف السورة أن السورة
نزلت دفعة واحدة وأن فصولها مترابطة. والله تعالى أعلم.
Ibrahim Husain
Sazili (Sayyid Quthb(
A. Biografi
Sayyid Quthb
nama lengkapnya adalah Ibrahim Husain Sazili, lahir di Musyah, Asyur, Mesir
pada tanggal 9 oktober 1906. Ia anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya bernama
Al-hajj Quthb bin Ibrahim, seorang anggota
Al-Hizbu Al-Wathani (Partai Nasionalis) yang disegani karena
keilmuannya.
Sayyid Quthb
memulai pendidikan formalnya pada usia 6 tahun dengan belajar di Sekolah Dasar
Modern (madrasah) sebagai model pendidikan yang lain di samping Sekolah
Al-Qur’ani Tradisional (kuttâb). Adanya dua model pendidikan ini
mengindikasikan kuatnya tarik-menarik antara faham tradisional dan moderat yang
saat itu berkembang di Mesir. Namun demikian, Sayyid Quthb tetap memperoleh
pendidikan budaya Muslim Arab tradisional, hal mana telah mengakibatkan Sayyid
Quthb menghafal al-Qur’an dan pengetahuan Bahasa Arab pada umur 10 tahun,
sebelum menamatkan pendidikan dasarnya di Mushah.
Pada tahun
1918 M, dia berhasil menamatkan pendidikan dasarnya. Pada tahun 1921 Sayyid
Qutb berangkat ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah.
Pada masa mudanya, ia pindah ke Helwan untuk tinggal bersama pamannya, Ahmad
Husain Ustman yang merupakan seorang jurnalis. Pada tahun 1925 M, ia masuk ke
institusi diklat keguruan, dan lulus tiga tahun kemudian. Lalu ia melanjutkan
jenjang perguruannya di Universitas Dâr al-‘Ulûm hingga memporelah gelar
sarjana muda dalam bidang sastra sekaligus diploma pendidikan pada tahun 1933 M.
Pada tahun
1949 Sayyid Qutb mendapat tugas belajar di Amerika Serikat selama dua tahun.
Disana ia menyaksikan dukungan luas pers Amerika terhadap Israel yang
menimbulkan kepahitan tersendiri. Pengalaman di Amerika inilah Sayyid Qutb
meluaskan wawasan pemikirannya mengenai problem-problem sosial kemasyarakatan yang ditimbulkan
oleh paham materialisme yang gersang dari ruh ketuhanan. Sekembalinya
dari Amerika Serikat Sayyid Qutb sangat anti dengan barat yang sebelumnya
cenderung ke arah barat. Kemudian ia bergabung dengan ikhwanul Muslimin pada
tahun 1953. Walaupun ia tidak pernah bertemu dengan pendirinya Hasan Al Banna
ia termasuk tokoh berpengaruh dalam Ikhwanul Muslimin.
Pada Juli 1952, terjadi revolusi Mesir untuk menggulingkan Raja Farouk.
Revolusi Mesir yang dilancarkan oleh Gamal Abdul Nasser itu mendapat dukungan
Sayyid Quthb (Ikhwanul Muslimin). Akhirnya Gamal Abdul Nasser pun resmi menjadi
Presiden Mesir. Tetapi kerja sama
Ikhwanul Muslimin dengan Nasser tidak berlangsung lama. Quthb kecewa dengan
kalangan pemerintah Nasser tidak menerima gagasannya untuk membentuk negara
Islam.
Selama tahun
1953, ia menghadiri konferensi di Suriah dan Yordania, dan sering memberikan
ceramah tentang pentingnya akhlak sebagai prasyarat kebangkitan umat. Pada juli
1954, ia menjadi pemimpin redaksi harian Ikhwanul Muslimin, tetapi baru dua
bulan usianya harian itu ditutup atas perintah colonel Gamal Abdul Nasher
(presiden Mesir), karena dianggap mengecam perjanjian Mesir-Inggris 7 Juli
1954. Kemudian tepatnya November 1954 Quthb ditangkap oleh Nasser bersamaan
dengan penangkapan besar-besaran pemimpin Ikhwanul Muslimin dengan tuduhan berkomplot untuk
menjatuhkan pemerintahan. Selama dipenjarakan ia merevisi tiga belas juz pertama
tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Sekitar Mei
1955, Sayyid Qutb termasuk salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin yang ditahan
setelah organisasi itu dilarang oleh presiden Nasher dengan tuduhan berkomplot
untuk menjatuhkan pemerintahan. Pada tanggal 13 Juli 1955, pengadilan rakyat
menghukumnya 15 tahun kerja berat. Ia ditahan di beberapa penjara di Mesir
hingga pertengahan tahun 1964. Ia dibebaskan tahun itu atas permintaan Abdul
Salam Arif (presiden Irak) yang mengadakan kunjungan muhibbah ke Mesir. Akan
tetapi baru setahun ia menghirup udara bebas, ia kembali ditangkap bersama
ketiga saudaranya: Muhammad Qutub, Hamidah dan Aminah, juga ikut ditahan pula
sekitar 20.000 orang yang 700 diantaranya adalah wanita. Presiden Nasher lebih
menguatkan tuduhannya bahwa Ikhwanul Muslimin berkomplot untuk membunuhnya, di
Mesir berdasarkan undang-undang nomor 911 tahun 1966, presiden memiliki kekuasaan
untuk menahan tanpa proses, siapa pun yang dianggap bersalah, dan mengambil
alih kekuasaannya, serta melakukan langkah-langkah yang serupa.
Pada tahun 1966, Sayyid Qutb divonis hukuman
mati atas tuduhan perencanaan menggulingkan pemerintahan Gamal Abdul Nasher.
Menurut sebuah sumber, sebelum dilakukan eksekusi, Gamal Abdul Nasher pernah
meminta Sayyid Qutb untuk meminta maaf atas tindakan yang hendak dilakukannya,
namun permintaan tersebut ditolak oleh Sayyid Qutb
B. Karya
1.
At-Tashwir al Fanni fil Qur’an;
2.
Masyaahidal al-Qiyamah fil Qur’an;
3.
Al-‘Adaalah al- Ijtimaa’iyah fil Islam;
4.
Fi Zhilahil Qur’an;
5.
Ma’alim fith-Thariq;
Buku-buku sastra:
6.
Muhimmatu al-Syair fi al-Hayah (1932);
7. Al-Tashwiru al-Fanni fi Al-Qur’an (1945)
8. Masyahidu al-Qiyamah fi al-Qur’an (1945)
9. An-Naqd al-Adabii Usuuluhuu wa
Maanaahijuhuu (Kritik, Prinsip-Prinsip Dasar, dan Metode Sastra)
10. Naqdu Kitabi Mustaqbali al-Tsaqafah
fi Misra
Buku-buku cerita meliputi:
11. Thiflun min al-Qaryah (1945)
12. Al-Athyafu al-Arba’ah
13. Asywak
14. Al-Madinah Al-Mashirah
Buku-buku yang berhubungan dengan pendidikan
dan pengajaran
15. Al-Qashashu al-Dini ( kerja sama dengan Abdul hamid
Jaudah)
16. Al-Jadid fi Al-‘Arabiyah
17. Al-Jadid fi al-Mahfudzat
18. Raudlatu al-Tifli, ditulis bersama Aminah as-Sa’id
dan Yusuf Murad.
Kumpulan buku-buku agama
19. Al-Adalah al-Ijtima’iyah (1948)
20. As-Salaam al-‘Alami wal Islam (Perdamaian Internasional dan
Islam), terbit tahun 1951
21. Ma’rakah al-Islaam
war-Ra’sumaaliyah (Perbenturan
Islam dan Kapitalisme)
22. Nahw mujtama’ Islaami (Menuju Masyarakat Islam)
23. Al-Islam wa Musykilah al-Hadharah (Islam dan Problem-Problem
Kebudayaan)
24. Hadza ad-Din (Agama Ini)
25. Dirasat islamiyah, (kumpulan
berbagai artiel yangdihimpun oleh Muhibbudin al-Khatib ayng terbit tahun 1953)
26. Al-Mustaqbal li haadzad-Diin (di Tangan Agama Ini) yang
merupakan uku penyempurna dari buku Hadza ad-Din (Agama Ini)
27. Khashais at-Tashawwur al-Islaami wa
Muqawwamatuhu (Ciri dan
Nilai Visi Islam).
28. Fi Zhilal al-Qur’an (1953-1964)
29. Ma’alim fi Al-Thariq (1965)
Buku-buku lain
30. Ma’rakatuna ma’a al-Yaahuud (Perbenturan Kita Dengan Yahudi)
31. Fi al-Tariikh, Fikrah wa Manaahij (Dalam Sejarah: Teori dan Metode)
32. Al-Syathi’ al-Majhul, kumpulan sajak Sayyid Quthb
C. Latar Belakang Pemikiran
Sayyid Quthb merupakan salah satu tokoh mufasir tradisionalis. Sayyid Quthb berpendapat bahwa
keadaan masyarakat Mesir mengalami ketidakstabilan dan kekacauan kehidupan
sosial, moral dan politik yang tidak mungkin untuk dilanjutkan lagi. Undang-
undang yang berlaku sangat bertentangan dengan jiwa kebudayaan manusia dan jiwa
agama, kebutuhan individu, situasi perasaan, dan nilainya tidak mendukung
manusia sama sekali, solidaritas sosial hilang serta kebersamaan dan keadilan
telah sirna. Kondisi itu diperparah dengan adanya superioritas barat dalam
mendominasi wilayah-wilayah muslim.
Pada awalnya ia menyadari bahwa ia mengagumi Barat bahkan tidak jarang ia
cenderung kebarat-baratan. Akan tetapi setelah perlawatannya ke Amerika untuk
kepentingan studi selama dua tahun mengubah pemikirannya terhadap Barat. Ia
melihat fenomena kekosongan ruhani yang dialami orang-orang Barat. Karena
kekosongan ruhani ini menghantarkan masyarakat Barat pada tindakan amoral.
Memang hal ini merupakan implikasi dari faham liberalis yang diyakini
masyarakan Barat, terlebih Amerika. Dan inilah yang ia saksikan di Mesir kala
itu, secara perlahan merambahnya fenomena kekosongan ruhani sebagaimana di
Barat.
Oleh karena
ini, ia turut serta dalam Ikhwanul Muslimin menggulingkan Raja Farouk, yang
menurutnya sudah sangat amoral. Lebih lanjut ia banyak mengisi kuliah-kuliah
bebas yang bertemakan moral atau akhlak. Ia meyakini bahwa keberlangsungan
suatu generasi sangat tergantung pada akhlaknya. Sehingga penggambaran yang
dilukiskan dalam tafsirnya, Fi Dzilal al-Qur`an ini mencerminkan
determinis yang terjadi. Dimungkinkan bahwa tafsirnya ini merupakan lanjutan
dari ceramah bebas yang ia lakukan akhir-akhir sebelum ia dipenjara. Penggunaan
al-Qur`an dalam pengaitan ini karena sejak kecil ia telah bergumul dengan
al-Qur`an, dan inilah corak pendidikan trsdisionalis. Selain itu penggambaran
yang sangat gamblang oleh Sayyid Quthb ini didukung dengan keberadaannya sebagai
sarjana dalam bidang sastra dan pribadi yang pandai bercerita (novelis).
D. Metode dan Contoh Penafsiran
Metode yang ditempuh dalam penulisan tafsirnya:
1. Penjelasan umum pada muqadimah setiap surat, untuk mengaitkan atau
mempertemukan antara bagian-bagiannya dan untuk menjelaskan tujuan serta maksud
umum surat tersebut.
2. Pengelompokan ayat-ayat sesuai
dengan pesan yang terkandung pada ayat tersebut.
3. Memperhatikan munasabah antar ayat.
4. Menggunakan ayat-ayat al-Qur’an
untuk menafsirkan ayat-ayat lain.
5. Menggunakan hadits-hadits Nabi SAW
untuk menguatkan penafsirannya. Hadits-hadits yang digunakan adalah
hadits-hadits yang sudah populer secara
umum, oleh karena itu dalam menyebutkan hadits, dia tidak menjelaskan sanad dan
nilai dari hadits tersebut.
6. Mengutip pendapat mufasir klasik. Hal ini didasarkan pada perlunya otoritas
klasik, untuk melihat kesesuain atau sebagai bahan perbandinagn sehingga akan
didapatkan sebuah penafsiran yang sesuai dengan apa yang dimaksud oleh ayat.
Tafsir ini merupakan bercorak
sastra ada juga yang mengatakan bercorak tashwiri, dengan pendekatan
normatif, serta metode analitis. Akan tetapi dalam proses tafsirnya ia
menuturkan beberapa ayat sekaligus yang menurutnya masih berkaitan satu dengan
yang lainnya. Berikut contoh penafsiran yang dilakukan oleh Sayyid Quthb:
Pentafsiran surat al-Baqarah ayat 224:
ثم ينتقل السياق من الحديث عن حكم المباشرة في فترة الحيض، إلى الحديث
عن حكم الإيلاء.. أي الحلف بالهجران والامتناع عن المباشرة.. وبهذه المناسبة يلم بالحلف
ذاته فيجعل الحديث عنه مقدمة للحديث عن الإيلاء.
«وَلا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا
وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ، وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ، لا يُؤاخِذُكُمُ اللَّهُ
بِاللَّغْوِ فِي أَيْمانِكُمْ، وَلكِنْ يُؤاخِذُكُمْ بِما كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ، وَاللَّهُ
غَفُورٌ حَلِيمٌ. لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ.
فَإِنْ فاؤُ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ، وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلاقَ فَإِنَّ اللَّهَ
سَمِيعٌ عَلِيمٌ» ..
التفسير المروي في قوله تعالى: «وَلا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمانِكُمْ..»
عن ابن عباس- رضي الله عنهما- قال: لا تجعلن عرضة يمينك ألا تصنع الخير، ولكن
كفر عن يمينك واصنع الخير. وكذا قال مسروق والشعبي وإبراهيم النخعي ومجاهد وطاووس وسعيد
بن جبير وعطاء وعكرمة ومكحول والزهري والحسن وقتادة ومقاتل بن حيان والربيع بن أنس
والضحاك وعطاء الخراساني والسدي- رحمهم الله- كما نقل ابن كثير.
ومما يستشهد به لهذا التفسير ما رواه مسلم- بإسناده- عن أبي هريرة
أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «من حلف على يمين فرأى غيرها خيراً منها
فليكفر عن يمينه، وليفعل الذي هو خير» .. وما رواه البخاري- بإسناده- عن أبي
هريرة قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «والله لأن يلج أحدكم بيمينه في أهله
آثم له عند الله من أن يعطي كفارته التي افترض الله عليه» ..
وعلى هذا يكون معناها: لا تجعلوا الحلف بالله مانعاً لكم من عمل البر
والتقوى والإصلاح بين الناس.
فإذا حلفتم ألا تفعلوا، فكفروا عن إيمانكم وأتوا الخير. فتحقيق البر والتقوى
والإصلاح أولى من المحافظة على اليمين.
وذلك كالذي وقع من أبي بكر- رضي الله عنه- حين أقسم
لا يبر مسطحاً قريبه الذي شارك في حادثة الإفك- فأنزل الله الآية التي في سورة النور:
«وَلا يَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبى
وَالْمَساكِينَ وَالْمُهاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا.
أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ؟» .. فرجع أبو بكر عن يمينه وكفر عنها
JAMALUDDIN AL-QASIMI
A.
Biografi
Nama lengkapnya adalah Muhammad
Jamaluddin Abu al-Farj ibn Muhammad Sa’id ibn Qasim. Kakeknya ini merupakan
salah satu orang yang memiliki intelektual tinggi di Syam, maka tidak heran
jika Muhammad Jamaluddin terkenal dengan nama Qasim, sehingga dijadikan
penisbatan untuknya, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi. Lahir pada hari senin, 8
Jumadil Ula 1283 H yang bertepatan dengan 17 September 1866.
Keluarganya merupakan keluarga
yang agamis sehingga aspek pertama yang ditanamkan kepada anak adalah belajar
alQu`an. Ia belajar al-Qur`an kepada salah satu qura`, Syeikh Ahmad al-Halwani,
Syeikh Salim al-‘Athar, dan Syeikh Bakri al-‘Athar. Untuk kemudian ia dikirim
ke Madrasah Dhahiriyyah untuk belajar ilmu tauhid, sintaksis gramatis, logika,
dan beberapa ilmu lainnya. Ia melanjutkan studinya ke Mesir dan Madinah untuk
mengkaji dan memperdalam madzhab fikih. Setelah selesai mendalami kelima
madzhab pada tahun 1313 H kemudian ia menawarkan sebuah madzhab baru yang
dinamai dengan al-madzhab al-Jamali. Barulah setelah sepulang ini ia
gemar melakukan diskusi-diskusi baik yang khusus maupun yang umum dalam masalah
tafsir, ilmu-ilmu syari’at, dan sastra.
B. Karya
Fahdi al-Rumi mengatkan bahwa
tulisan-tulisan Jamaluddin al-Qasimi ini mendekati angka 100. Dalam al-A’lam,
al-Zarkili menuturkan bahwa karangannya berjumlah 72 buah, diantaranya:
1. Al-A’il al-Tauhid;
2. Diwan Khathb;
3. Al-Fatawi fi al-Islam;
4. Irsyad al-Khalq ila al-‘Amal bi
Khabar al-Barq;
5. Syarh Luqthah al-‘Ijlan;
6. Naqd al-Nasha`ih al-Kafiyyah;
7. Madzahib al-A’rab wa Fulasifah
al-Islam fi al-Jan;
8. Mahasin al-Ta`wil;
9. Qaqa’id al-Tahdits min Funun
Mushthalah al-Hadits;
10. Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa
al-‘Awa`id;
11. Tarikh al-Jahmiyah wa
al-Mu’tazilah;
12. Ta’thir al-Masyam fi Ma`atsir
Dimsyiq al-Syam;
13. Mau’idhah al-Mu’minin min Ihya`
‘Ulum al-Din;
14. Syafar al-Asbath
15. Tanbih al-Thalib ila Ma’rifah
al-Fardli wa al-Wajib;
16. Jawami’ al-Adab fi Akhlaq
al-Anjab.
C. Latar Belakang Intelektual
Dari pola penafsirannya setidaknya
terlihat kapasitas al-Qasimi sebagai intelektual muslim yang mumpuni. Banyaknya
kitab yang ia jadikan rujukan menambah sisi lebih dari tafsir ini. Tidak
berlebihan jika dikatakan bahwa al-Qasimi merupakan salah satu penerus generasi
salafi yang progresif. Setidaknya hal
ini terlihat dengan dia menawarkan madzhab baru yang merupakan buah hasil
pengkajian dan pendalamannya terhadap lima madzhab yang masyhur. Maka tidak
heran jika al-Muhtasib lebih memilh corak salafi untuk tafsir ini.
Kita dapat menggambarkan akan
sosok al-Qasimi ini sebagai penghantar antara klasik dan modern. Ia berusaha
tetap melestarikan khazanah klasik namun dengan metode modern. Artinya tidak
begitu saja mencomot segala hal yang berhubungan dengan tafsiran suatu ayat
tanpa adanya penelaahan secara kritis.
D. Metode dan Contoh Penafsiran
Sebagaimana diterangkan dalam pengantar tafsirnya adala
empat kaidah dalam menafsirkan alQur`an, yaitu:
1. Menukil dari Nabi, namun yang
perlu digaris bawahi adalah menghindari periwayatan yang lemah.
2. Menukil dari penafsiran para
sahabat, karena penafsiran oleh sahabat ini marfu’ kepada Nabi.
3. Menggunakan kaidah bahasa, karena
al-Qur`an diturunkan menggunakan bahasa Arab.
4. Menafsirkan dengan memahami
bahasannya. Hal ini sebagaimana do’a Nabi kepada Ibn ‘Abbas “Ya Allah!
Fahamkanlah dia (Ibn ‘Abbas) dalam masalah agama dan ajarkanlah dia ta`wil”.
Corak yang ditempuh oleh Jamaluddin al-Qasimi
dalam tafsirnya adalah corak al-‘aqa`idi (sebagaimana dikatakan oleh
Fahdi al-Rumi) dan corak salafi (sebagaimana dikatakan oleh
al-Muhtasib). Metode yang ditempuh adalah analitis dengan pendekatan normatif.
Sebagai contoh, penafsiran surat al-Baqarah ayat 11:
القول في تأويل قوله تعالى: [سورة البقرة (2) : آية 10]
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ
بِما كانُوا يَكْذِبُونَ (10)
المرض: السقم، وهو نقيض الصحة، بسبب ما يعرض للبدن، فيخرجه عن الاعتدال
اللائق به، ويوجب الخلل في أفاعيله، استعير هاهنا لعدم صحة يقينهم، وضعف دينهم- وكذا
توصف قلوب المؤمنين بالسلامة التي هي صحة اليقين، وعدم ضعفه، كما قال تعالى: إِلَّا
مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ [الشعراء: 89] أي:
غير مريض بما ذكرنا- أو استعير لشكّهم، لأن الشك تردّد بين الأمرين، والمنافق
متردّد، كما
في الحديث «مثل المنافق كمثل الشاة العائرة بين الغنمين» «2»
والمريض متردّد بين الحياة والموت.
فَزادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً بأن طبع على قلوبهم، لعلمه تعالى بأنّه لا
يؤثر فيها التذكير والإنذار.
وقال القاشانيّ: أي مرضا آخر- حقدا وحسدا وغلا- بإعلاء كلمة الدين، ونصرة الرسول والمؤمنين-
ثم قال: والرذائل كلها أمراض القلوب، لأنها أسباب ضعفها وآفتها في أفعالها الخاصة،
وهلاكها في العاقبة.
وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ أي: مؤلم- بكسر اللام- فعيل بمعنى فاعل- كسميع-
وبصير- قال في المحكم: الأليم من العذاب الذي يبلغ إيجاعه غاية البلوغ. ومنه. يعلم
وجه إيثاره في عذاب المنافقين- على «العظم» المتقدم في وصف عذاب الكافرين- ويؤيده:
إِنَّ الْمُنافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ
نَصِيراً [النساء: 145] .
بِما كانُوا يَكْذِبُونَ الباء للسببيّة أو للمقابلة- أي بسبب كذبهم أو
بمقابلته- وهو قولهم: آمنا بالله وباليوم الآخر، وهم غير مؤمنين. وفيه رمز إلى قبح
الكذب، وسماجته، وتخييل أن العذاب الأليم لا حق بهم من أجل كذبهم- مع إحاطة علم السامع
بأنّ لحوق العذاب بهم من جهات شتى- ونحوه قوله تعالى: مِمَّا خَطِيئاتِهِمْ أُغْرِقُوا
[نوح: 25]- والقوم كفرة- وإنما خصّت الخطيئات استعظاما لها، وتنفيرا عن ارتكابها.
[1] Dalam hal ini ia menyebutkannya sebagai jumlah, yang dimaksudkan disini
yaitu komponen beberapa ayat yang berkaitan dalam satu jumlah rangkaian.
Terkadang ketika diwahyukan Allah menurunkan beberapa ayat meskipun pada
kondisi tertentu ada yang hanya satu ayat. Dalam penurunan ini tentunya ada
garis merah atau garis singgung yang menghubungkan antar beberapa ayat tersebut
yang kesemuanya saling berjalin berkelindan satu sama lain

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda