Sabtu, 05 Desember 2015

KONSEP HERMENEUTIKA DALAM TRADISI KEILMUAN BARAT



KONSEP HERMENEUTIKA DALAM TRADISI KEILMUAN BARAT
 
PENDAHULUAN
Kitab suci merupakan elemen yang fundamental bagi setiap agama.Kitab suci menjadi sumber pokok dan sekaligus tuntunan dalam segala permasalahan.Kitab suci merupakan kumpulan tatanan yang telah ditetapkan untuk dilaksanakan, yang pada mulanya disampaikan dan diajarkan oleh seorang utusan.Utusan ini dianggap sebagai sosok yang otoritatif dalam menyampaikan norma-norma yang tercorpuskan kedalam kitab suci tersebut –meski tidak semua kitab suci terkodifikasi sezaman dengan pembawanya-.Generasi yang paling baik –pada setiap agama- adalam generasi dimana kitab suci tersebut diturunkan dan satu zaman setelahnya.Akan sudah sangat jelas bahwa zaman pertama masih ada sosok yang sangat disegani sebagai utusan yang otoritatif dan zaman setelahnya keadaan zaman tidak terlamapau berbeda jauh baik dari segi kebudayaan, jarak, dan pengetahuan.
Hal yang menjadi titik sentralnya adalah pada titik balik dari garis persinggungan antara kitab suci tersebut dengan eksistensi manusia dengan hasil eksegesis yang beragam. Prof. Bambang Sugiharto –guru besar filsafat Universitas Parahyangan- mengasosiasikan seiring dengan berlalunya masa generasi pertama –karena sosok yang dianggap otoritatif telah wafat-  semakin menggejalanya gejala ketakutan, terutama ketakutan untuk mempersoalkan perkara yang telah biasa dianggap “suci”, dan ketakutan menembus segala permukaan guna mencari hal yang lebih hakiki. Dan ini sangat menakutkan, sebab kontradiksi-kontradiksi  yang nyata dalam hidup beragama tak akan bisa disadari: kekonyolan akan dihayati sebagai kesalehan, kebodohan akan dianggap kesetiaan, agresi dan kekerasan akan dihayati sebagai kepahlawanan. Jika absurditas ini terus terjadi, maka agama akan kehilangan jati dirinya. Agama yang semla menjadi penuntun dan pengontrol akan terlepas dari baju zirahnya menjadi akan merusakkan kemanusiaan dan juga akan menghancurkan kewibawaannya.Tak heran jika bagi mereka yang berfikir –secara bebas-, agama lantas terkesan memang tak lebih dari sisa-sisa keprimitifan atau keterbelakangan, seperti yang disinggung oleh para pemikir seperti Nietzche, Feuerbach, Freud, Mark, dan August Comte.[1]
Dengan semaraknya semangat yang menggairahkan ini menuntun bagi para pemikir kritis –baik kedalam maupun keluar- untu menghasilkan sebuah tesis yang menjadi sintesis atau antithesis sebelumnya yang solutif serta upaya objektif berdasarkan ekspedisi dan pengamatan dari fenomena –meminjam istilahnya Kant-.Adalah Baruch Spinoza (1632-1677) yang pertama kali melakukan higher criticism terhadap kitab suci, yang sebelumnya juga disinggung sedikit oleh Fransis Bacon (1561-1626) sebagai tokoh empirisme.Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kajian ini semakin menempatkan dirinya pada posisi yang sentral dalam rangka memenuhi kajian yang komplek atas problem epistemology dan ontologi.Pada mulanya antara hermeneutika dan filsafat meupakan suatu kajian yang terpisah, meski pada tataran epistemologinya mempunyai relasi resiprokal antar keduanya. Bagaimana tidak karena hermeneutika menjadi sebuah tunas yang digadang-gadang dapat mengatasi pemahaman di dalam bahasa –baca: struktur kata- oleh kaum stukturalis. Dan kajian ini terus berkembang dengan menggabungkan diri menjadi sau bagian dari kajian filsafat.
Pada zaman modern pada abad ke-19 M, semangat gagasan belajar dari barat digalakkan oleh beberapa tokoh pembaharu islam untuk mengejar ketertinggalan -akibat terseleding ditengah perjalanan, meski sebagian orang sangat meniscayakan hal ini sebagai perkembangan sirkular- dengan mengadopsi banyak teori-teori dari barat, meski disisi lain hal ini ditolak mentah-mentah oleh sebagian kalangan. Salah satunya adalah hermeneutika sebagai seni untuk menafsirkan. Konsep-konsep hermeneutika dibawa oleh beberapa pemikir islam abad 20 seperti Nasr Hamid Abu Zaid, Muhammad Arkound, Hasan Hanafi, dan Muhammad Syahrur untuk diterapkan pada kajian islami.
Dengan mencari titik tengahnya –antara pengusung dan penola– kiranya perlu untu menengok sedikit seputar konsep hermeneutika dalam tradisi keilmuan barat.Untuk itu dalam makalah ini akandibahas sedikit seputar konsep hermeneutika dalam tradisi keilmuan barat.








PEMBAHASAN
Dengan mengintip cerita mitologi hermeneutika dari tradisi Yunani, adalah dirunutkan pada sosok yang bernama Hermes yang bertugas menyampaikan pesan Dewa kepada manusia.Hermes menerima  amanat dari Dewa Jupiter untuk menyempaikan dan menjelaskan pesan kepada manusia. Titik tekannya pada apa yang diterima oleh Hermes adalah berupa pengetahuan –semacam wahyu ilahi- yang ia dapat (karena ia telah menjadi orang yang terpilih untuk hal ini) untuk kemudian dialih bahasakan atau menjelaskan kedalam bahasa manusia (mudah difahami). Sehingga sudah menjadi tugasnya untuk menyadur antara yang diinginkan oleh sang Dewa, apa yang ia fahami,dan memahamkan manusia.[2]Secara lebih luas, hermeneutika didefinisikan oleh Zygmunt Bauman sebagai upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kontradiktif dan kabur yang menimbulkan kebingungan bagi pendengar atau pembaca.[3]
Yang oleh Seyyid Hossein Nasr, Hermes di asosiasikan sebagai Nabi Idris yang disebut sebagai “Bapat para filsuf” (Father of Philosophers-Abu al-Hukamaˋ) yang menyampaikan pesan Tuhan baik dalam aspek gnostic (ma’rifah atau ‘irfan)maupun aspek filsafat atau teosof (al-hikmah).[4]Mengingat karena dalam al-Qurˋan Nabi Idris merupaka manusia pertama yang mengenal budaya tulis menulis, teknologi tenun, kedikteran, astrologi, dll.Sedangkan di lingkungan agama Yahudi Hermes dikenal sebagai Thoth, yang dalam mitologi Masir dikenal dengan Nabi Musa.[5]
A.    Kemunculan Problem Hermeneutis
Sebagian perbincangan tentang problem hermeneutis modern terletak pada kesulitan menempatkan suatu definisi hermeneutika yang dapat disepakati bersama. Banyak usaha yang telah dilakukan utuk menganalisa makna verba hermeneuin dan dengan verba latininterpretari dalam rangka memperoleh definisi yang diiniginkan.Secara tradisional hermeneutika difahami sebagai teori interpretasi (hermeneuin) yang sangat erat kaitannya dengan filsafat.Pada titik persinggungan, hermeneutika terendus sebagai aspek universal dan umum yang jadi ciri filsafat.[6]
Dalam perspektif Richard E. Palmer sebagai upayanya menjelaskan hemeneutika, hermeutika merangkum tiga bentuk makna dasar.[7]Pertama, adalah mengekspresikan (to express), menegaskan (to assert) atau mengatakan (to say).Disini.Seorang pembawa pesan tidak hanya menjelaskan tetapi juga mendeklarasikan (to proclaim). Upaya berimplikasi pada diri pembawa pesan sehingga ia yakin dan memahami betul dengan isi pesan yang dibawa. Kedua, adalah mejelaskan (to explain). Artinya, seorang pembawa pesan –sebagai hal yang terpenting- tidaklah mengatakan saja pesan tersebut tetapi juga menjelaskan, merasionalkannya, serta menjadikannya jelas dan terfahami (make it clear). Ketiga, adalah menerjemahkan (to translate) yang maknanya identic dengan menafsirkan (to interprate). Menerjemahkan dalam arti seseorang yang membawa apa yang asing yang tidak mungkin akan difahami oleh pendengarnya, yang jauh ke dalam media bahasanya sendiri.
Dari sini nampak bahwa antara hermeneutika dan eksegesis tidak ada perbedaan secara etimologis tetapi keduanya berbeda secara teologis.Hermeneutika adalah ilmu yang berkenaan dengan teknik atau alat-alat penafsiran teks.Ia menjadi disiplin pengantar dalam mempelajari penafsiran. Oleh karena itu, bukanlah hal yang baru. Sejak Aristoteles, kaidahkaidah hrmeneutika telah dikembangkan untuk menafsirkan teks-teks sastra. Akantetapi hermeneutika dalam pengertian mutakhir telah mengalami pergeseran besar, lebih dari sekedar pengantar bagi penafsiran.Hermeneutika menjadi metodologi penafsiran. Problem hermeneutis dalam teologi muncul persoalan tentang cara memahami realitas yang dikandung oleh kitab suci, dan menerjemahkannya ke dalam istilah-istilah yang dapat difahami oleh manusia modern. Dengan demikian, problem hermeneutis mulai menyelidiki hakekat pemahaman dan bagaimana pemahaman tersebut terjadi.[8]
Konsepsi ini muncul berawal dari kesadaran akan kesenjangan terbentang jauhnya jarak antara bahasa, bahasa teks dan bahasa sekarang –untuk tidak mengatakan kita-. Antara epistemology yang digunakan dalam rangka menjelaskan dunianya (pada saat itu) dan kenyataan dunia sekarang yang menjadi eksistensi manusia. Hermeneutika terus muncul dengan metode-metodenya untuk mengatasi persoalan tentang bagaimana suatu peristiwa atau ungkapan yang terekam jejaknya pada rangkaian kata untuk tetap bisa bermakna dan relevan bagi dunia dimana manusia berada dengan segala horisonnya –baca eksistensi- sehingg pesan tidak terkesan basi  dan tidak relevan. Muhammad ‘Ata al-Sid menambahkan “Setelah menyimak sejarah teologi Kristen, akan ditemukan bahwa problem hermeneutis akan selalu ada, namun lebih banyak dialami (dijadikan sebagai tindakan praktis) daripada diajukan secara sistematis (sebagai wacana analitis)” dengan mengutip pendapat Rene Marle:[9]
Penafsiran tipologis pada kitab Yahudi –semakin langsung penafsiran alegoris kitab tersebut pada Barnabas, semakin bernada moralis Kitab Pertama kepada St. Clement dari Roma- adalah contoh-contoh solusi praktis mengenai problem hermeneutis. Gnostisme dan Marcionisme akibat penolakan atau depresiasi mereka terhadap bagian-bagian Alkitab, semakin menjadi solusi hermeneutis sebagai suatu kebutuhan yang tidak terhindarkan: yakni ketika dihadapkan dengan kecenderungan berbahaya ini, dan akibat penafsiran bahwa Yudaisme terus menyajikan Perjanjian Lama dan, secara umum, makna sejati segala sesuatu  yang telah diungkap wahyu ilahi.
Jika dirunut kebelakang –berkenaan dengan pernyataan Rene Marle- duduk perkaranya seperti berikut.Penghancuran Bait Allah pada 586 SM telah mengilhami percikan kreativitas yang sangat mengaguman diantara kaum buangan di Babilonia.Penghancuran Bait Allah kedua pun membangkitkan upaya literer yang sama diantara orang-orang Kristiani. Pada pertengahan abad ke-2, hampir semua dari kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru telah diselesaikan, seperti Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.Injil Thomas (sekitar tahun 150) adalah kumpulan ucapan Yesus yang bisa memberikan “pengetahuan” yang mendatangkan penebusan (itulah yang disebut gnosis).Ada juga injil-injil dari kaum Ebinot, kaum Nazaret (kaum asalnya Yesus), dan injil kaum Ibrani, yang memenuhi kebutuhan kalangan persekutuan Kristiani-Yahudi. Namun, pada abad ke-2 ini belum ada kanon teks-teks yang sudah ditetapkan  memang karena pada saat itu belum ada bentuk Kristianitas yang baku. Marcion (sekitar 100-165), yang menganut banyak ide gnostic, akhirnya bertekad untuk memutuskan hubungan antara Kristiani dan kitab-kitab suci Ibrani, dan ia pun menulis injilnya sendiri hasil pembacaannya atas Injil Lukas yang sangat banyak bagiannya yang dibuang dan apa yang didasarkan pada surat-surat Paulus. Hal ini karena menurut Yohanes (baca: injil) Yudaisme memang benar-benar sudah berlalu. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang Kristiani merasa gelisah tentang hubungan mereka dengan Yudaisme. Irenaeus, uskup Lyons (antara 140-200) terkejut dengan hal ini, kemudian ia menandaskan bahwa adanya keterkaitan antara kitab-kitab suci yang lama dengan yang baru. Dia pun menyusun daftar teks yang sudah disepakati yang di dalamnya kita melihat cikal bakal dari apa yang kelak disebut Perjanjian Baru.[10]
B.     Ruang Lingkup Hermeneutika
Josef Bleicher dalam bukunya Contemporary Hermeneutic menyatakan bahwa kelahiran hermeneutika secara historis-sosiologis selalu berhubungan dengan interpretasi filologi dan teologi atau teks-teks suci.[11]Hal ini sangat tampak jika kita melihat pada perkembangan hermeneutika pada paruh akhir abad 18 dan awal abad 19. Pasalanya dengan semakin beredarnya higher criticism di abad 18 akhirnya Schleiermacher terinspirasi untuk menerapkannya pada teks suci dengan menambahkan pengalaman fundamental yang di definisikan sebagai “perasaan kebergantungan mutlak” dengan menyadari bahwa kita bukanlah pusat dari alam semesta.[12]Sehingga memunculkan teorinya tentang “Die-Rene”.
Jika melihat pada pembagian tipologi hermeneutika yang dilakukan oleh Richard E. Palmer, Robert Hulb -sebagaimana dikutip oleh Fahmi Salim dalam tesisnya- menyimpulkan bahwa dalam hermeneutika ada riga ruang lingkup kajian yang sama sekali berbeda;[13]
1.      Hermeneutika khusus (regional hermeneutics)
Hermeneutika sebagai sebuah cabang ilmu yang bertujuan untuk pemurnian proses penafsiran teks-teks dalam setiap medan pengetahuan terdapat sejumlah kaidah dan dasar-dasar metodologis -seakan setiap medan pengetahuan memilikinya- yang melalui mata rantai kaidah-kaidah dan dasar-dasar penafsiran yang khusus. Jadi setiap medan ilmu pengetahuan memiliki hermeneutikanya masing-masing yang antara satu dengan lainnya tidak dapat saling diterapkan satu sama lain.Dalam bagian ini seperti kajian kitab Taurat (tora) yang hanya dilakukan oleh para ahli kitab.Selain itu juga dapat dilihat pada penafsiran yang dilakukan oleh madzhab Antiokhia dan Alexandria.
2.      Hermeneutika umum (general hermeneutics)
Hermeneutika sebagai bentuk dari metode-metode dan metodologis yang menghadirkan suatu metode pemahaman dan penafsiran serta pembersihan kaidah-kaidah dan dasar.Titik perbedaannya dengan yang pertama adalah bahwa tidak terkait khusu dengan cabang ilmu tertentu, tetapi dalam memenuhi berbagai cabang ilmu pengetahuan.Seperti yang muncul pada abad ke 18, F.D.E. Schleiermacher adalah orang pertama yang memberi pemaparan secara sistematis yang kemudian diadopsi oleh  Emilo Betti (1890-1968). Schleiermacher berusaha memasukkan pertimbangan epistemology ke dalam wacana metodologis sebagai pendekatan pertama dalam sejarah hermeneutika.
Proyek William Dilthay juga dapat dimasukan ke dalam kategori ini meskipun ia memperluas cakupan perhatiannya pada semua ilmu humaniora, tetapi basis pengetahuannya secara umum sama dengan basis pengetahuan hermeneutika umu.
3.      Hermeneutika filsafat (hermeneutical philosophy)
Hermeneutika sebagai wadah filosofis merenungkan segala fenomena pemahaman sebagai objeknya.Ia tidak berpretensi memberikan metode atau menjelaskan dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang dapat mengontrol proses pemahaman dan penafsiran, baik metode tersebut dikehendaki untuk memahami teks ataupun ilmu-ilmu humaniora secara mutlak. Ketika dilihat lebih dalam maka akan ditemukan bahwa model hermeneutika ini tidak ingin membuat sebuah metode dan bahkan mengkritik metode dan metodologi serta tidak sejalan dengan ide kemungkinan sampai pada kebenaran melalui metode ilmiah, seperti terlihat pada aliran dekontruksi.
Dan juga dimungkinkan dengan perkembangan pengetahuan kajian ini akan merambah dunia baru yang belum tersentuh sebelumnya.
C.    Sejarah dan Perkembangan Hermeneutika
Jika kita mengacu pada pengertian hermeneutika secara umum, yakni seni memahami teks maka akan didapati bahwa kajian ini dimulai sejak masa Yunani Klasik. Adalah pada karya Aristoteles, Peri Hermeneins (de interpretation) –sebagaimana diungkapkan Josef Bleicher.Dalam tradisi Yunani Klasik kata έρμηνευτκή (dilafalkan dengan “ermeneutike”) yang dipakai dalam teks-teks babon, seperti  muncul dalam rangkaian karya Plato sebanyak tiga kali. Ia menambahkan bahwa pada saat itu –zaman Yunani Klasik- telah ada diskursus hermeneutika, meski dimungkinkan masih dalam batas cara memahami.[14] Namun jika kita melihatnya secara khusus, yakni metodologi penafsiran maka akan didapati bahwa cikal bakal kemunculan hermeneutika dimunculkan oleh Immanuel Kant.[15] Urgensi diri
Disini akan dipaparkan sejarah dan perkebangan hermeneutika sebagai sebuah fenomena kajian tentang kaidah-kaidah umum dalam menafsirkan Bible sebagai upaya untuk menemukan dan menyingkap nilai dan kebenaran Bible. Sebagaimana dikutip oleh Fahmi Salim dalam tesisnya[16], dalam Ensiclopedia Britanica edisi 15 pada tahun 1985 yang ditebitkan di Chicago dinyatakan bahwa “Hermeneutika adalah kajian tentang kaidah-kaidah umum untuk menafsirkan Bible dan tujuan utama dari hermeneutika dan metode-metode takwil Yahudi dan Nasrani sepanjang sejarahnya adalah untuk menyingkap kebenaran dan nilai dari Bible.”[17]Dengan melihat statement ini, kemunculan hermeneutika di Barat sangat berhubungan erat dengan problem yang dihadapi oleh umat Yahudi dan Kristen.
Berawal dari krisis kepercayaan pada tafsir monolitik, serta keyakinan akan adanya makna yang samar dibalik makna yang sekilas tamak jelas. Sehingga Martin Luther (1483-1546) menyerukan hermeneutika baru dengan menciptakan kanon didalam kanon[18].Pendekatannya lebih bersifat informal dan tidak begitu terikat pada adat kebiasaan Abad Pertengahan, serta memusatkan perhatian pada interpretasi kristologis atas Alkitab dan mengkritik secara terang-terangan kaum skolastik. Yang menarik disini adalah “iman” menurut Luther dalam bukunya Sermons bukanlah “kepercayaan” melainkan sikap percaya dan meniggalkan diri sendiri: “Iman tidak butuh informasi, pengetahuan, dan kepastian, melainkan penyerahan diri secara bebas dan kepasrahan penuh suka cita pada Sang Kebaikan yang tidak terasakan, belum dicicipi, dan yang tidak diketahui.”[19]
Dengan melihat pada perkembangan tradisi Yahudi dan Kristen sebelum abad perncerahan atau sebelum gerakan revolusi, metode yang digunakandalam menafsirkan Bible menurut Fahmi Salimdapat diklasifikasiakan ke dalam empat klasifikasi, yaitu:[20]

a.       Tafsir Literal
Metode ini menitik beratkan pada makna kosa kalimat dan struktur kaidah teks, sebagaimana metode ini juga mengakui adanya makna langit yang tersimpan di dalamnya.Adalah St. Gerom -seorang pakar Injil yang berpengaruh di abad ke-4- orang pertama yang paling terkenal memakai metode ini untuk melawan penafsiran kiasan yang ektrem.Metode ini diikuti oleh beberapa tokoh ternama, seperti Martin Luther, Thomas Aquinas, Jhon Calvin, dan Nicolas of Lyra.
b.      Tafsir Moralis
Titik tekannya adalah mendirikan dasar-dasar penafsiran untuk kajian-kajian moral yang telah digariskan Bible.Sebagai contoh, tafsir jenis-jenis makanan yang diharamkan dalam Injil Barnabas, “Kotoran-kotoran rohani yang diduga ada di dalam sebagian hewan, bukan daging hewan itu sendiri.”
c.       Tafsir Kiasan (Allegorical Interpretation)
Kitab Bible –dalm metode alegoris ini- dianggap sebagai sesuatu yang memiliki tingkatan makna lain yang tersembunyi di balik symbol manusia, kejadian, dan segala sesuatu yang terjadi. Sebagai contoh “Perahu Nabi Nuh” yng ditafsirkan sebagai penampakan Gereja di masa depan yang sejak awal telah menjdi sebuah objek pandangan dan perhatian dari Tuhan. Pakar Yahudi yang sezaman dengan Yesus (sekitar 50 SM – 20 M) Philon, dapat dianggap sebagai tokoh terkemuka dalam metode tafsir ini.Kemudian diikuti oleh Christian Clement of Alexandria yang berhasil mengungkap kebenaran-kebenaran filosofis yang mendalam dari kitab tersebut.seorang pengikutnya (Origen) telah melakukan pengaturan terhadap dasar-dasar metode tafsir ini dan kembali berusaha membuat level-level tingkatan makna baik makna literal, moral, maupun alegoris. Ia beranggapan bahwa makna-makna kiasan keruhanian adalah makna yang paling tinggi.
d.      Tafsir Mistik (Anagogical-Mystical)
Pada Abad Pertengahan terjadi pembagian level makna ruhaniah sehingga menjadi makna alegoris (kiasan) dan makna batin (gnostic mistik). Pembagian itu kemudian menyebabkan terjadinya empat tingkatanlevel makna dengan menyatukan teori tiga tingkat makna ala Origen di atas. Model penafsiran ini berusaha untuk mengaitkan kejadian-kejadian yang ada dengan kehidupan di akhirat.
Dalam perkembanganya, risalah De Doctrina Christiana karangan St. Agustinus merupakan karya pertama yang secara teoreris mengemukakan konsep-konsep hemeneutis menyangkut hubungan antara bahasa dan pikiran manusia dengan melandaskan diri pada doktrin inkarnasi dalam tradisi Kristen.Signifikansi Agustinus dalam sejarah hermeneutika terletak pada upayanya untuk tidak mengunci makna hanya pada pernyataan. Menurutnya apa yang direpresentasikan oleh pernyataan adalah “lautan” makna yang terbatas, verbum cortis.[21]
Dominasi gereja Kristen dengan mengusung Alegorical Simbolis, namun juga telah mengusung kaidah Agustinian, sebagai berikut:
a.       Tafsir berbasis riwayat atau narasi.
b.      Tafsir alegoris dengan kaidah-kaidah dan konteks-konteks yang telah ditetapkan.
c.       Tafsir dengan kaidah kebahasaan
d.      Tafsir dengan kondisi historis dan kejadian yang menyertai teks.
Hingga kemudian Gereja Katoloik menjadikan Bible sebagai property yang dimonopoli olehnya dan hanya merekalah yang berhak menakwilkannya. Akibat dari kanyataan ini muncullah Martin Luther dengan gerakan protesnya dan gerakan atheism modern yang juga dipicu oleh sebab yang lain yang terjdi bersama-sama pada kisaran abad ke-15.[22] Dan pengikut Luther, Philip Melanchton dalam risalahnya tentang retorika pada tahun 1519 dan Flacius Illyricus dalam bukunya Clavis Scripture Sacrae pada tahun 1967secara metodologis yang mengungkapkan hermeneutika sebagai teori penafsiran  dalam menafsirkan Bible dan menekankan pentingnya pengetahuan gramatika bahasa, atau yang disebut dengan linguistic.[23]
Pada akhir abad ke-17 barat mengalami zaman pencerahan akal budi. Fransis Bacon –penasihat Raja James I dari Inggris- adalah orang pertama yang menyatakan  bahwa ajaran yang paling suci pun harus tunduk pada metode-metode ilmu empiris yang kaku dan ketat.[24]Lebih lanjut aliran rasionalisme juga memiliki peran dalam gerakan takwil terhadap teks-teks keagamaan secara bebas.Seperti Baruch Spinoza (1632-1677) sebagai orang pertama yang merintis higher criticism.[25]Dan pada abad ke-18 Immanuel Kant (1724-1804) dengan logika transendentalnya memantik kajian hermeneutika menjadi sebuah kajian baru, meski tidak disebutkan olehnya secara eksplisit.[26]Dan pada waktu inilah hermeneutika juga menyinggung salah satu bagian dari kajian filsafat.Hermeneutika modern lahir dalam pangkuan filsafat rasionalisme dan pencerahan serta humanisme.[27]
Schleiermacher (1768-1834) dengan seni memahaminya atau yang ia sebut sebagai kunslehre des ferstehen yang sifatnya pasti dan metodis, memberikan kontribusi dalam ranah hermeneutika berdasarkan konsepsi romantic dalam bentuk perasaan atau ahndung.[28]Sebagaimana Edmund Husserl (1859-1938) dan usahanya dalam menjauhi pemihakan dalam masalah-masalah hokum dan mendengarkan suara realitas secara ikhlas.Serta filsuf kontemporer lainnya yang menjadikan hermeneutika bersifat umum dan mencakup semua bidang kajian kemanusiaan dan filsafat.[29]
D.    Mahzhab-madzhab Hermeneutika
Sebagaimana dikemukakan oleh Ali Ridha Qaimi dalam sebuah penelitiannya yang dimuat di jurnal al-Mahajjah tahun 2003 ,setidaknya klasifikasi ini bertumpu pada klasifikasi hermeneutika milik Josef Bleicher[30], bahwa hermeneutika kontemporer mempunyai segitiga aliran yang masing-masing mewakili aliran hermeneutika pada umumnya, yaitu:[31]
1.      Hermeneutical Theory
Yaitu hermeneutika sebagai metode dan ilmu pengetahuan yang khas ilmu budaya.Mengikuti pembagian ilmu ke dalam dua bagian, humaniora dan sains.Para pengusung metode ini menyatakan bahwa hermeneutika merupakan ilmu metode humanioralogi, karena ilmu humaniora menekankan pentingnya pemahaman fenomena dan segala hal yang berkenaan dengannya.Tokoh yang berjasa dalam hemeneutika ini adalah Willian Dilthay (1833-1911) disusul kemudian Emilio Betti (1890-1968).
Setidaknya ini dicetuskan oleh Schleiermacher dengan dua pendekatan tawarannya: interpretasi gramatis dan interpretasi psikologis. Di dalam teks selalu ada dua sisi, satu sisi objektif yang menunjuk pada bahasa, adalah yang ikut terlibat dan membuat proses pemahaman menjadi mungkin. Satu sisi lain yaitu aspek subjektif yang menunjuk pada ide pengarang dan mengejawantah dalam penggunaannya secara khusus terhadap bahasa. Dua aspek ini, menunjuk pada pengalaman pengarang yang segera direkonstruksi oleh pembaca sebagai bukti prmahamannya tentang pengarang dan pengalamannya. Begitupula tak lepas dari kritik, metode yang dia cnangkan terlalu psikologis dan seseorang mengalami kesulitanyang berarti pada saar ia berusaha mengatasi kesenjangan waktu yang memisahkan cakrawala budayanyadengan cakrawala budaya pengarang. Dalam mengatasi psikologi Schleiermacherinilah muncul hermeneutika filosofis.[32]
2.      Hermeneutical Philosophy
Yaitu hermeneutika yang sangat menentang kemungkinan penumbuhan bagi metodologi pemahaman.Filsafat hemeneutika menolak setiap usaha membangun metodologi bagi pemahaman makna.Hal ini dianggap sebagai bagian dari tren hermeneutika yang objektif, karena pemahaman tidak mungkin dibakukan dalam suatu kerangka metodologi tertentu.Penafisir  dan objek kajia yang dipelajari merupakan unsur yang saling melengkapi. Oleh sebab itu, pebafsir memiliki prakonsepsi terhadap objek kajiannya dan tidak mungkin penafsir memahami tanpa prakonsepsi.Tokoh utama dibalik hermeneutika filosofis ini adalah Hans Gorge Gadamer (…-2002).
Dalam pandangan Gadamer, pemahaman seorang penafsir ternyata dipengaruhi oleh situasi hermeneutic tertentu yang melingkupinya, baik itu berupa tradisi, kultur, dan pengalaman hidup. Situasi ini berbentuk horizon atau cakrawala pemahaman.      Dalam membaca teks penafsir tentunya sedang mengkonstruk pemahaman atau yang dalam bahasa gadamer disebut “pre-understanding” pra-pemahaman, dan itu mutlak adanya. Namun harus disadari bahwa dalam proses penafsiran haruslah merehabilitas prapemahaman ini yakni dengan melakukan “penggabungan atau asimilasi horizon”. Artinya, seorang penafsir harus sadar bahwa ada dua horizon, yakni cakrawala (pengetahuan) atau horizon di dalam teks, dan horizon cakrawala (pemahaman) atau horizon pembaca sehingga terciptalah “lingkaran hermeneutika” (hermeneuticher Zirkl) dalam mencari makna baru “creating a new meaning”.[33]
3.      Critical Hemeneutics
Aliran hermeneutika ini cukup berbeda dengan dua diatas, sebagai contoh kecil “apakah makna teks memiliki makna kebenaran atau tidak”.Teori hermeneutika menilai diskusi hal itu berada diluar arena metodologi dan epistemology pemahaman. Sementara itu filsafat hermeneutika mengesampingkan masalah tadi dan lebih focus pada peran budaya dan prakonsepsi penafsir dalam memahami objek. Dari sudut inilah hermeneutika kritis berperan mengajukan dan mendiskusikan persoalan tadi.Dalam sudut pandang hermeneutika kritis factor-faktor nonbahasa dalam hal-hal budaya juga turut didiskusikan.Adalah filsuf berkebangsaan Jerman Jurgen Habermas (1929-…) dan Karl Otto Apel yang berjasa menumbuhkan semangat kritis ini.
Menurut Apel –sebagai titik tolak historisitas pemahaman Gadamer- bahwa pemahaman dapat membawa seseorang kepada kepastian kebenaran (ascertainment of truth) yang kritis asalkan mengikuti prinsip regulative, yaitu berusaha membangun persetujuan universal dalam sebuah kerangka komunitas interpreator yang tidak terbatas cakupannya (adanya perbaikan dan penyempurnaan seiring dengan perubahan ruang dan waktu tanpa ada batasan). Menurutnya, hermeneutika teroris dan filosofis hnya berkutan pada level makna dank ode-kode ideologis dan linguistic yang telah given. Oleh karena itu, standar penafsiran yang memadai adalah keputusan yang berasal dari factor eksternal, dan hal itu berkaitan dengan identifikasi hubungan-hubungan dan proses social yang memproduksi, mendistorsi, dan mengolah makna. Begitu juga Habermas yang mengkritik Gadamer, bahwa setiap wacana pengetahuan pasti terselip kepentingan sehingga amat rentan menjadi ideologis.[34]
Namun, pada klasifikasi diatas sangat kentara bahwa hermeneutika –dalam klasifikasi ini- terstruktur pada Abad Pertengahan atau setidaknya pada Abad Pencerahan. Dengan tidak mengabaikan konsep hermeneutika klasik sampai menjelang atau ketika pencerahan alangkah baiknya menyimak klasifikasi yang dilakukan oleh Syauqi Zain, sebagai berikut:[35]
1.      Hermeneutika Simbolis dan Tipologis, yang diusung oleh Philon of Alexandria
2.      Hermeneutika Dalam dan Aksioma Semesta Alam, yang Augustin, Martin Luther, dan Matias Flasius sebagai tokohnya.
3.      Hermeneutika Kritis, Dannhauer, Jhon Caladinus, dan Gorge Mayer orang yang menokohinya.
4.      Hermeneutika Romansa, yang dikemukakan oleh Schleiermacher.
5.      Hermeneutika Historis, yang diusung oleh F. Ast, John Drozen, dan William Dilthay.
6.      Hermeneutika Fenomenologi dan Eksistensialis, dengan Edmund Hussrel, Martin Heidegger, dan Gadamer sebagai tokohnya.
Setidaknya, klasifikasi ini hampir mendekati dengan klasifikasi milik Richard Palmer dalam Hermeneuticsnya, dengan enam klasifikasi, yaitu:[36]
1.      Hermeneutika dalam tradisi Yudeo-Kristiani, yang melahirkan dua corak utama: mahzhab Antiokhia dengan tafsir simbolis dan madzhab Alexandria dengan tafsir harfiahnya. Puncaknya pada zaman reformasi , jika golongan Protestan memegang prinsip SolaScriptura (hanya kitab suci), maka gereja Katolik memegang prinsip tradisi: kitab suci ditafsirkan dalam terang tradisi.
2.      Hermeneutika sebagai metodologi filologis. Yakni penerapannya pada teks-teks klasik Yunani dan Romawi di samping kitab suci. Pada abad ke-18 muncul dua madzhab: transcendental dan historis psikologis. Yang pertama berpendapat bahwa untuk menemukan suatu kebenaran dalam teks tidak harus mengaitkan pengarangnya kerena kebenaran bisa berdiri otonom ketika tampil dalam teks. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa teks adalah eksposisi eksternal dan temporer saja dari pikiran pengarangnya, sementara kebenaran yang hedak disampaikan mungkin tidak terwadahi secara representative oleh kehadiran teks.
3.      Hermeneutika sebagai pemahaman ilmu linguistic. F.D.E.  Schleiermacher berusaha memasukkan pertimbangan epistemologis ke dalam wacana metodologis sebagai pendektan pertama dalam sejarah hermeneutika.
4.      Hermeneutika sebagai fondasi metodologi ilmu-ilmu kemanusiaan. Adalah W. Dilthay, menurutnya hermeneutika merupakan inti disipln metodologi yang dapat melayani sebagai fondasi bagi ilmu-ilmu kemanusiaan yang mencakup semua disiplin ilmu yang memfokuskan pada ranah pemahaman seni, aksi, dan tulisan.
5.      Hermeneutika sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial, yang diwakili oleh Heidegger dan muridnya, Gadamer. Hermeneutika dalam konteks ini tidak mengcu pada ilmu atau kaidah interpretasi teks atau pada metodologi bagi geinsteswissenschaften, tetapi pada penjelasan fenomenologinya tentang keberadaan manusiaitu sendiri.
6.      Hermeneutika sebagai system penafsiran. Hermeneutika menjadi sebuah teori tntang seperangkat aturan yang menentukan suatu interpretasi terhadap berbagai teks. Salah seorang hermeneut yang paling representative untuk makna yang terakhir ini adalah Paul Riceour engan menyuguhkan suau system interpretasi yang sangat kaya, sistematis, dan juga complicated.
Jika ditarik benang merahnya maka akan didapati bahwa setidaknya ada tiga ruang lingkup umum yang menjadi dasar pijakan bagi kajian hermeneutika, teks, pengarang, dan pebaca.
1.      Pengarang
Madzhab romansisme sangat memuja posisi pengarang, karena subjek pengarang adalah sebuah pusat kerja inovasi secara keseluruhan.Pasca Strukturalisme –yang telah membunuh pengarang- adalah E.D.JR Hirsh yang mencoba mengembalikan kehadiran pengarang dalam teks umpama roh yang sangat dominan. Lebih lanjut ia ingin mengembalikan maksud pengarang sebagai kunci memaknai teks. Sebagai fungsi aplikatif dari teori ini guna mengukuhkan bahwa hanya pembaca yang ahli sajalah yang dapat mengembalikan maksud pengarang.Sejalan dengan pendapat Hirsh, Emilo Betti mengharuskan untuk memperhatikan makna teks untuk sampai pada makna objektif yang tidak ada campr tangan pembaca untuk memaksakan maksudnya ke dalam teks.[37]
2.      Teks
Dalam masalah ini ada dua kelompok besar: Pertama, mereka yang meyakini bahwa  ilmu linguistic adalah titik awal memahami teks serta menganggap bahasa sebagai media dan tujuan yakni struktur teks pada dirinya sendiri. Teks bersifat statis dan adanya unsur-unsur potensial dalam system hubungan susunannya.Kedua, mereka berusaha mengeluarkan teks dari ketertutupannya, sehingga teks dapat melampaui dirinya.Teks bersifat dinamis, sehingga titik tekannya juga pada intertektualitas.Seperti para dekontruksionis, yang termasuk pada kategori kedua.[38]
3.      Pembaca
Ketika Barthes mengatakan “kematian pengarang” maka yang dimaksudkan disini adalah menghidupkan horizon pembaca. Pasalnya –menurut Barthes- pembaca ibaratkan kertas kosong yang akan diisi dengan semua teks yang membentuk sebuah tulisan. Sedangkan Paul Riceour berpenapat bahwa hubungan antara pembaca dan pengarang adalah perbedaan yang berdasarkan pada perbedaan bukan dialog. Hussrel juga memberikan ruang besar pada pembaca dengan peran sentral dalam menentukan makna agar sampai pada pemahaman tentang alam atau hakekat batin dari tulisan-tulisannya sebagaimana menjadi jelas bagi perasaan pengkritik.[39]Pembaca dalam pandangan kelompok yang ke 3 ini diibaratkan sebagai titik sentral pemahaman dengan segala horizonnya.

E.     Analisis
Dari beberapa paparan serta ulasan singkat diatas dapat kita ketahui bahwa pada zaman klasik perdebatan masalah hermeneutika sudah ada namun hermeneutika dalam artian sebagai suatu kajian untuk memahami atau dapat dikatakan berfungsi sebagai semacam prima philosophia.Kata “semacam” ini harus ditambahkan karena dengan melihat kanyataan yang ada pada zaman klasik, hermeneutika selalu mendua dari metafisika. Meski hanya pada taraf sederhana kata yang diduga sama maksudnya dengan hermeneutika disinyalir telah ditemukan pada karya-karya tokoh ternama filosof Klasik.
Ketika kita membaca teks suci, sebagai contoh Torah atau Perjanjian lama dan Injil atau Perjanjian Baru, perlu diingat bahwa peristiwa-peristiwa sekunder dari teks terkadang tidak dicantumkan atau yang dalam bahasa Heidegger sebagai “kesekunderan” bahasa proposisional.Hal inilah yang memantik para pengkaji Bible atau ahli kitab Yudeo-Kristiani untuk menafsirkan secara literal, moral, kiasan, dan mistik.Kajian ini lagi-lagi terpecah karena adanya dominasi penguasa.
Seiring dengan pergeseran epistemology dari tradisi Yunani Klasik menuju tradisi Islam terdapat perbedaan yang sangat mencolok bahwa dalam tradisi Islam adanya doktrin agama selain al-Qurˋan, hadits Nabi.Hadits Nabi dianggap juga mempunyai posisi yang hampir dapat disetarakan dengan al-Qurˋan, tentunya dengan kategori dan karakteristik khusus dari hadits tersebut.selain dominasi ini pola penafsiran secara harfiyah juga dilakukan oleh generasi kedua Islam, Sahabat dalam menafsirkan teks al-Qurˋan. Teks al-Quran yang kosa katanya sulit difahami dicarikan maksudnya pada syair-saiy Arab Klasik (pra-Islam). Pada masa inipun telah dapat dipetakan dua pengusung epistemology yang berbeda, yakni literal dan rasional.Kelompok pertama diakili Abdullah ibn ‘Abbas, sesangkan kelompok kedua diwakili oleh Abdullah ibn Mas’ud. Pun pada perkembangan selanjutnya corak dalam penafsiran merambah pada kajian-kajian umum seperti sastra, mistik, dan filsafat. Meski dalam prosesi ini diwarnai dengan pengkultusan pemikiran yang terjadi dan upaya saling serang dengan masing-masing mengusung ideology yang telah dicanangkan.
Jika dalam hermeneutika modern memberikan ruang kajian pada bahasan historisasi teks maka dalam tradisi Islam juga ditemukan yang dalam kajian Ulum al-Qurˋan dikenal sebagai asbab al-nuzul, meski pemilihan serta pemilahan narasinya berbeda berdasarkan tingkat validitas cerita narasi tersebut. Darisinilah tepat kiranya Abed Jabiri membagi epistemology islam ke dalam tiga kategori, bayani, burhani, dan irfani.
Berpindah masa saat dimana Barat mulai menemukan tajinya kembali dengan menyingkirkan segala bentuk metafisika murni.Barat mulai kajiannya dengan mempersoalkan semua yang ada pada Alkitab yang kurang masuk akal dan bersifat metafisis sehingga memunculkan metode kritik historis.Meski banyak diantara tokohnya yang menolak doktrin namun ada beberapa diantaranya mencoba memposisikan diri sebagai penengah antara doktrin dengan pengetahuan kontemporer – saat itu – dengan sedikit melunakkan dengan eklektisasi beberapa metode yang telah ada, sehingga muncullah kritik Bible pada tradisi Barat.
Dengan alur perkembangan yang terus produktif secara intens peluasan kajian yang belum dilakukan sebelumnya dilakukan, seperti merambahnya kajian hermeneutika pada ilmu-ilmu humaniora.Pada posisi inilah anak hermeneutika muncul dengan menjajaki semua kajian ilmu pengetahuan. Layaknya Heidegger yang secara tidaksengaja ,karena sudah menjadi corpus magnum dari anak zamannya, mengalihkan kajiannya menjadi bersifat hermeneutis karena sudah menjadi keniscayaan pada saat itu bahwa kajian ilmu pengetahuan berpindah dari hubungan subjek-objek serta kausalitas menuju sebuah horizon baru dalam memandang epistemology dan ontology.






DAFTAR PUSTAKA
Ahmala, dkk.2003. Hermeneutika Transendental, Yogyakarta; Diva Press.
Borgias, Fransiskus.2013.Sejarah Alkitab, terjemahan dari KarenAmstrong, The Bible: A Biography. Bandung; Mizan.
Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal, (Jakarta: Perspektif, 2010), hlm.  56.
Faiz, Fakhrudin.2002. Hermeneutika Qurˋani, Yogyakarta; Qalam.
Grondin, Jean. 2007. Hermeneutics, terj: Sejarah Hermeneutika oleh Inyiak Ridwan Mundzir, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,), hlm. 17.
Inyiak Ridwan Mundzir, Hermeneutika FilosofisHans Gorge Gadamer, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm.  61.
Muhammad ‘Ata al-Sid, The Hermeneutical Problem of Thr Qurˋan in Islamic History, terj. Ilham B. Saenong, Sejarah Kalam Tuhan, (Jakarta: Teraju, 2004), hlm. 9.
Mulyono, Edi, dkk. 2013. Belajar Hermeneutika, Cet. 2, Yogyakarta; Diva Press.
Zaprulkhan.2015. Filsafat Ilmu, Jakarta; Raja Grafindo Persada.


[1] Karen Amstrong, The Bible: A Biography, terj. Sejarah Alkitab oleh Fransiskus Borgias, (Bandung: Mizan, 2013),  hlm. 15.
[2] Lihat, Ahmala ed.Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin, Hermeneutika Transendental, (Yogyakarta: Diva Press, 2003), hlm. 14; Zaprulkhan, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015), hlm. 244.
[3] Fakhrudin Faiz, Hermeneutika Qurˋani, (Yogyakarta: Qalam, 2002), hlm. 22.
[4] Zaprulkhan, Filsafat Ilmu… hlm. 245.
[5]Ahmala ed.Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin, Hermeneutika Transendental… hlm. 14.
[6] Jean Grondin, Hermeneutics, terj.  Sejarah Hermeneutika oleh Inyiak Ridwan Mundzir, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 17.
[7] Zaprulkhan, Filsafat Ilmu… hlm. 245.
[8]Muhammad ‘Ata al-Sid, The Hermeneutical Problem of Thr Qurˋan in Islamic History, terj. Ilham B. Saenong, Sejarah Kalam Tuhan, (Jakarta: Teraju, 2004), hlm. 9.
[9]Ibid… hlm. 10.
[10] Baca Karen Amstrong, The Bible: A Biography… hlm. 92-100.
[11] Zaprulkhan, Filsafat Ilmu… hlm. 246.
[12] Karen Amstrong, The Bible: A Biography … hlm. 227.
[13] Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal, (Jakarta: Perspektif, 2010), hlm.  56.
[14] Inyiak Ridwan Mundzir, Hermeneutika FilosofisHans Gorge Gadamer, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm.  61.
[15] Baca Jean Grondin, Hermeneutics , hlm. 17-18.
[16]Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 124.
[17] Teks Inggrisnya “Hermeneutics, the study general principles of biblical interpretation. For both Jew and Christians throughout their histories, primary purpose of hermeneutics and of the exegetical methods employed in interpretation, has been to discover the truth and value of the Bible.
[18] Catatan penerjemah: “kanon di dalam kanon” maksudnya didalam kanon yang resmi, orang masih menetapkan kanon menurut persepti dan pandangan teologis orang yang bersangkutan. Ungkapan itu dapat disejajarkan dengan ungkapan lain “Negara di dalam Negara”. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima dan dibenarkan.
[19] Karen Amstrong, The Bible: A Biography … hlm. 193-195.
[20]Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 128-130.
[21] Inyiak Ridwan Mundzir, Hermeneutika FilosofisHans Gorge Gadamer… hlm. 69.
[22]Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 133.
[23] Inyiak Ridwan Mundzir, Hermeneutika FilosofisHans Gorge Gadamer… hlm. 62.
[24] Karen Amstrong, The Bible: A Biography … hlm. 217.
[25]Ibid, hlm. 219.
[26] Jean Grondin, Hermeneutics , hlm. 19.
[27]Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 135.
[28] Jean Grondin, Hermeneutics , hlm. 27.
[29]Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 135.
[30] Lihat Zaprulkhan, Filsafat Ilmu… hlm. 251.
[31]Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 139-140.
[32] Zaprulkhan, Filsafat Ilmu… hlm. 252.
[33]Ibid… hlm. 255.
[34]Ibid… hlm. 262.
[35]Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal… hlm.  142.
[36] Zaprulkhan, Filsafat Ilmu… hlm. 246-250.
[37]Fahmi Salim, Kritik Studi Islam Kaum Liberal… hlm.  143-144.
[38]Ibid… hlm. 145.
[39]Ibid… hlm. 149.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda