KONSEP HERMENEUTIKA DALAM TRADISI KEILMUAN BARAT
KONSEP HERMENEUTIKA DALAM TRADISI KEILMUAN BARAT
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Kitab suci
merupakan elemen yang fundamental bagi setiap agama.Kitab suci menjadi sumber
pokok dan sekaligus tuntunan dalam segala permasalahan.Kitab suci merupakan
kumpulan tatanan yang telah ditetapkan untuk dilaksanakan, yang pada mulanya
disampaikan dan diajarkan oleh seorang utusan.Utusan ini dianggap sebagai sosok
yang otoritatif dalam menyampaikan norma-norma yang tercorpuskan kedalam kitab
suci tersebut –meski tidak semua kitab suci terkodifikasi sezaman dengan
pembawanya-.Generasi yang paling baik –pada setiap agama- adalam generasi
dimana kitab suci tersebut diturunkan dan satu zaman setelahnya.Akan sudah
sangat jelas bahwa zaman pertama masih ada sosok yang sangat disegani sebagai
utusan yang otoritatif dan zaman setelahnya keadaan zaman tidak terlamapau
berbeda jauh baik dari segi kebudayaan, jarak, dan pengetahuan.
Hal yang menjadi titik sentralnya
adalah pada titik balik dari garis persinggungan antara kitab suci tersebut
dengan eksistensi manusia dengan hasil eksegesis yang beragam. Prof. Bambang
Sugiharto –guru besar filsafat Universitas Parahyangan- mengasosiasikan seiring
dengan berlalunya masa generasi pertama –karena sosok yang dianggap otoritatif
telah wafat- semakin menggejalanya
gejala ketakutan, terutama ketakutan untuk mempersoalkan perkara yang telah
biasa dianggap “suci”, dan ketakutan menembus segala permukaan guna mencari hal
yang lebih hakiki. Dan ini sangat menakutkan, sebab kontradiksi-kontradiksi yang nyata dalam hidup beragama tak akan bisa
disadari: kekonyolan akan dihayati sebagai kesalehan, kebodohan akan dianggap
kesetiaan, agresi dan kekerasan akan dihayati sebagai kepahlawanan. Jika
absurditas ini terus terjadi, maka agama akan kehilangan jati dirinya. Agama yang
semla menjadi penuntun dan pengontrol akan terlepas dari baju zirahnya menjadi
akan merusakkan kemanusiaan dan juga akan menghancurkan kewibawaannya.Tak heran
jika bagi mereka yang berfikir –secara bebas-, agama lantas terkesan memang tak
lebih dari sisa-sisa keprimitifan atau keterbelakangan, seperti yang disinggung
oleh para pemikir seperti Nietzche, Feuerbach, Freud, Mark, dan August Comte.[1]
Dengan semaraknya semangat yang
menggairahkan ini menuntun bagi para pemikir kritis –baik kedalam maupun keluar-
untu menghasilkan sebuah tesis yang menjadi sintesis atau antithesis sebelumnya
yang solutif serta upaya objektif berdasarkan ekspedisi dan pengamatan dari
fenomena –meminjam istilahnya Kant-.Adalah Baruch Spinoza (1632-1677) yang
pertama kali melakukan higher criticism terhadap kitab suci, yang
sebelumnya juga disinggung sedikit oleh Fransis Bacon (1561-1626) sebagai tokoh
empirisme.Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kajian ini semakin
menempatkan dirinya pada posisi yang sentral dalam rangka memenuhi kajian yang
komplek atas problem epistemology dan ontologi.Pada mulanya antara hermeneutika
dan filsafat meupakan suatu kajian yang terpisah, meski pada tataran
epistemologinya mempunyai relasi resiprokal antar keduanya. Bagaimana tidak karena
hermeneutika menjadi sebuah tunas yang digadang-gadang dapat mengatasi
pemahaman di dalam bahasa –baca: struktur kata- oleh kaum stukturalis. Dan
kajian ini terus berkembang dengan menggabungkan diri menjadi sau bagian dari
kajian filsafat.
Pada zaman modern pada abad ke-19 M,
semangat gagasan belajar dari barat digalakkan oleh beberapa tokoh pembaharu
islam untuk mengejar ketertinggalan -akibat terseleding ditengah perjalanan,
meski sebagian orang sangat meniscayakan hal ini sebagai perkembangan sirkular-
dengan mengadopsi banyak teori-teori dari barat, meski disisi lain hal ini
ditolak mentah-mentah oleh sebagian kalangan. Salah satunya adalah hermeneutika
sebagai seni untuk menafsirkan. Konsep-konsep hermeneutika dibawa oleh beberapa
pemikir islam abad 20 seperti Nasr Hamid Abu Zaid, Muhammad Arkound, Hasan
Hanafi, dan Muhammad Syahrur untuk diterapkan pada kajian islami.
Dengan mencari titik tengahnya
–antara pengusung dan penola– kiranya perlu untu menengok sedikit seputar
konsep hermeneutika dalam tradisi keilmuan barat.Untuk itu dalam makalah ini
akandibahas sedikit seputar konsep hermeneutika dalam tradisi keilmuan barat.
PEMBAHASAN
Dengan
mengintip cerita mitologi hermeneutika dari tradisi Yunani, adalah dirunutkan
pada sosok yang bernama Hermes yang bertugas menyampaikan pesan Dewa kepada
manusia.Hermes menerima amanat dari Dewa
Jupiter untuk menyempaikan dan menjelaskan pesan kepada manusia. Titik tekannya
pada apa yang diterima oleh Hermes adalah berupa pengetahuan –semacam wahyu
ilahi- yang ia dapat (karena ia telah menjadi orang yang terpilih untuk hal
ini) untuk kemudian dialih bahasakan atau menjelaskan kedalam bahasa manusia
(mudah difahami). Sehingga sudah menjadi tugasnya untuk menyadur antara yang
diinginkan oleh sang Dewa, apa yang ia fahami,dan memahamkan manusia.[2]Secara
lebih luas, hermeneutika didefinisikan oleh Zygmunt Bauman sebagai upaya
menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau
tulisan yang tidak jelas, kontradiktif dan kabur yang menimbulkan kebingungan
bagi pendengar atau pembaca.[3]
Yang oleh
Seyyid Hossein Nasr, Hermes di asosiasikan sebagai Nabi Idris yang disebut
sebagai “Bapat para filsuf” (Father of Philosophers-Abu al-Hukamaˋ) yang
menyampaikan pesan Tuhan baik dalam aspek gnostic (ma’rifah atau ‘irfan)maupun
aspek filsafat atau teosof (al-hikmah).[4]Mengingat
karena dalam al-Qurˋan Nabi Idris merupaka manusia pertama yang mengenal budaya
tulis menulis, teknologi tenun, kedikteran, astrologi, dll.Sedangkan di
lingkungan agama Yahudi Hermes dikenal sebagai Thoth, yang dalam mitologi Masir
dikenal dengan Nabi Musa.[5]
A.
Kemunculan
Problem Hermeneutis
Sebagian perbincangan tentang
problem hermeneutis modern terletak pada kesulitan menempatkan suatu definisi
hermeneutika yang dapat disepakati bersama. Banyak usaha yang telah dilakukan
utuk menganalisa makna verba hermeneuin dan dengan verba latininterpretari
dalam rangka memperoleh definisi yang diiniginkan.Secara tradisional
hermeneutika difahami sebagai teori interpretasi (hermeneuin) yang
sangat erat kaitannya dengan filsafat.Pada titik persinggungan, hermeneutika
terendus sebagai aspek universal dan umum yang jadi ciri filsafat.[6]
Dalam perspektif Richard E. Palmer
sebagai upayanya menjelaskan hemeneutika, hermeutika merangkum tiga bentuk
makna dasar.[7]Pertama,
adalah mengekspresikan (to express), menegaskan (to assert) atau
mengatakan (to say).Disini.Seorang pembawa pesan tidak hanya menjelaskan
tetapi juga mendeklarasikan (to proclaim). Upaya berimplikasi pada diri
pembawa pesan sehingga ia yakin dan memahami betul dengan isi pesan yang
dibawa. Kedua, adalah mejelaskan (to explain). Artinya, seorang
pembawa pesan –sebagai hal yang terpenting- tidaklah mengatakan saja pesan
tersebut tetapi juga menjelaskan, merasionalkannya, serta menjadikannya jelas
dan terfahami (make it clear). Ketiga, adalah menerjemahkan (to
translate) yang maknanya identic dengan menafsirkan (to interprate).
Menerjemahkan dalam arti seseorang yang membawa apa yang asing yang tidak
mungkin akan difahami oleh pendengarnya, yang jauh ke dalam media bahasanya
sendiri.
Dari sini nampak bahwa antara
hermeneutika dan eksegesis tidak ada perbedaan secara etimologis tetapi
keduanya berbeda secara teologis.Hermeneutika adalah ilmu yang berkenaan dengan
teknik atau alat-alat penafsiran teks.Ia menjadi disiplin pengantar dalam
mempelajari penafsiran. Oleh karena itu, bukanlah hal yang baru. Sejak
Aristoteles, kaidahkaidah hrmeneutika telah dikembangkan untuk menafsirkan
teks-teks sastra. Akantetapi hermeneutika dalam pengertian mutakhir telah
mengalami pergeseran besar, lebih dari sekedar pengantar bagi
penafsiran.Hermeneutika menjadi metodologi penafsiran. Problem hermeneutis
dalam teologi muncul persoalan tentang cara memahami realitas yang dikandung
oleh kitab suci, dan menerjemahkannya ke dalam istilah-istilah yang dapat
difahami oleh manusia modern. Dengan demikian, problem hermeneutis mulai
menyelidiki hakekat pemahaman dan bagaimana pemahaman tersebut terjadi.[8]
Konsepsi ini
muncul berawal dari kesadaran akan kesenjangan terbentang jauhnya jarak antara
bahasa, bahasa teks dan bahasa sekarang –untuk tidak mengatakan kita-. Antara
epistemology yang digunakan dalam rangka menjelaskan dunianya (pada saat itu)
dan kenyataan dunia sekarang yang menjadi eksistensi manusia. Hermeneutika
terus muncul dengan metode-metodenya untuk mengatasi persoalan tentang
bagaimana suatu peristiwa atau ungkapan yang terekam jejaknya pada rangkaian
kata untuk tetap bisa bermakna dan relevan bagi dunia dimana manusia berada
dengan segala horisonnya –baca eksistensi- sehingg pesan tidak terkesan
basi dan tidak relevan. Muhammad ‘Ata
al-Sid menambahkan “Setelah menyimak sejarah teologi Kristen, akan ditemukan
bahwa problem hermeneutis akan selalu ada, namun lebih banyak dialami
(dijadikan sebagai tindakan praktis) daripada diajukan secara sistematis
(sebagai wacana analitis)” dengan mengutip pendapat Rene Marle:[9]
Penafsiran tipologis pada kitab Yahudi –semakin langsung penafsiran
alegoris kitab tersebut pada Barnabas, semakin bernada moralis Kitab Pertama
kepada St. Clement dari Roma- adalah contoh-contoh solusi praktis mengenai
problem hermeneutis. Gnostisme dan Marcionisme akibat penolakan atau depresiasi
mereka terhadap bagian-bagian Alkitab, semakin menjadi solusi hermeneutis
sebagai suatu kebutuhan yang tidak terhindarkan: yakni ketika dihadapkan dengan
kecenderungan berbahaya ini, dan akibat penafsiran bahwa Yudaisme terus
menyajikan Perjanjian Lama dan, secara umum, makna sejati segala sesuatu yang telah diungkap wahyu ilahi.
Jika dirunut
kebelakang –berkenaan dengan pernyataan Rene Marle- duduk perkaranya seperti
berikut.Penghancuran Bait Allah pada 586 SM telah mengilhami percikan
kreativitas yang sangat mengaguman diantara kaum buangan di Babilonia.Penghancuran
Bait Allah kedua pun membangkitkan upaya literer yang sama diantara orang-orang
Kristiani. Pada pertengahan abad ke-2, hampir semua dari kedua puluh tujuh
kitab Perjanjian Baru telah diselesaikan, seperti Matius, Markus, Lukas, dan
Yohanes.Injil Thomas (sekitar tahun 150) adalah kumpulan ucapan Yesus yang bisa
memberikan “pengetahuan” yang mendatangkan penebusan (itulah yang disebut
gnosis).Ada juga injil-injil dari kaum Ebinot, kaum Nazaret (kaum asalnya
Yesus), dan injil kaum Ibrani, yang memenuhi kebutuhan kalangan persekutuan
Kristiani-Yahudi. Namun, pada abad ke-2 ini belum ada kanon teks-teks yang
sudah ditetapkan memang karena pada saat
itu belum ada bentuk Kristianitas yang baku. Marcion (sekitar 100-165), yang
menganut banyak ide gnostic, akhirnya bertekad untuk memutuskan hubungan antara
Kristiani dan kitab-kitab suci Ibrani, dan ia pun menulis injilnya sendiri hasil
pembacaannya atas Injil Lukas yang sangat banyak bagiannya yang dibuang dan apa
yang didasarkan pada surat-surat Paulus. Hal ini karena menurut Yohanes (baca:
injil) Yudaisme memang benar-benar sudah berlalu. Hal inilah yang menyebabkan
banyak orang Kristiani merasa gelisah tentang hubungan mereka dengan Yudaisme. Irenaeus,
uskup Lyons (antara 140-200) terkejut dengan hal ini, kemudian ia menandaskan
bahwa adanya keterkaitan antara kitab-kitab suci yang lama dengan yang baru.
Dia pun menyusun daftar teks yang sudah disepakati yang di dalamnya kita
melihat cikal bakal dari apa yang kelak disebut Perjanjian Baru.[10]
B.
Ruang Lingkup
Hermeneutika
Josef Bleicher dalam bukunya Contemporary
Hermeneutic menyatakan bahwa kelahiran hermeneutika secara
historis-sosiologis selalu berhubungan dengan interpretasi filologi dan teologi
atau teks-teks suci.[11]Hal
ini sangat tampak jika kita melihat pada perkembangan hermeneutika pada paruh
akhir abad 18 dan awal abad 19. Pasalanya dengan semakin beredarnya higher
criticism di abad 18 akhirnya Schleiermacher terinspirasi untuk
menerapkannya pada teks suci dengan menambahkan pengalaman fundamental yang di
definisikan sebagai “perasaan kebergantungan mutlak” dengan menyadari bahwa
kita bukanlah pusat dari alam semesta.[12]Sehingga
memunculkan teorinya tentang “Die-Rene”.
Jika melihat pada pembagian tipologi
hermeneutika yang dilakukan oleh Richard E. Palmer, Robert Hulb -sebagaimana
dikutip oleh Fahmi Salim dalam tesisnya- menyimpulkan bahwa dalam hermeneutika
ada riga ruang lingkup kajian yang sama sekali berbeda;[13]
1.
Hermeneutika
khusus (regional hermeneutics)
Hermeneutika
sebagai sebuah cabang ilmu yang bertujuan untuk pemurnian proses penafsiran
teks-teks dalam setiap medan pengetahuan terdapat sejumlah kaidah dan
dasar-dasar metodologis -seakan setiap medan pengetahuan memilikinya- yang
melalui mata rantai kaidah-kaidah dan dasar-dasar penafsiran yang khusus. Jadi
setiap medan ilmu pengetahuan memiliki hermeneutikanya masing-masing yang
antara satu dengan lainnya tidak dapat saling diterapkan satu sama lain.Dalam
bagian ini seperti kajian kitab Taurat (tora) yang hanya dilakukan oleh
para ahli kitab.Selain itu juga dapat dilihat pada penafsiran yang dilakukan
oleh madzhab Antiokhia dan Alexandria.
2.
Hermeneutika
umum (general hermeneutics)
Hermeneutika
sebagai bentuk dari metode-metode dan metodologis yang menghadirkan suatu
metode pemahaman dan penafsiran serta pembersihan kaidah-kaidah dan dasar.Titik
perbedaannya dengan yang pertama adalah bahwa tidak terkait khusu dengan cabang
ilmu tertentu, tetapi dalam memenuhi berbagai cabang ilmu pengetahuan.Seperti
yang muncul pada abad ke 18, F.D.E. Schleiermacher adalah orang pertama yang
memberi pemaparan secara sistematis yang kemudian diadopsi oleh Emilo Betti (1890-1968). Schleiermacher
berusaha memasukkan pertimbangan epistemology ke dalam wacana metodologis
sebagai pendekatan pertama dalam sejarah hermeneutika.
Proyek William
Dilthay juga dapat dimasukan ke dalam kategori ini meskipun ia memperluas
cakupan perhatiannya pada semua ilmu humaniora, tetapi basis pengetahuannya
secara umum sama dengan basis pengetahuan hermeneutika umu.
3.
Hermeneutika
filsafat (hermeneutical philosophy)
Hermeneutika
sebagai wadah filosofis merenungkan segala fenomena pemahaman sebagai
objeknya.Ia tidak berpretensi memberikan metode atau menjelaskan dasar-dasar
dan kaidah-kaidah yang dapat mengontrol proses pemahaman dan penafsiran, baik
metode tersebut dikehendaki untuk memahami teks ataupun ilmu-ilmu humaniora
secara mutlak. Ketika dilihat lebih dalam maka akan ditemukan bahwa model
hermeneutika ini tidak ingin membuat sebuah metode dan bahkan mengkritik metode
dan metodologi serta tidak sejalan dengan ide kemungkinan sampai pada kebenaran
melalui metode ilmiah, seperti terlihat pada aliran dekontruksi.
Dan juga
dimungkinkan dengan perkembangan pengetahuan kajian ini akan merambah dunia
baru yang belum tersentuh sebelumnya.
C.
Sejarah dan
Perkembangan Hermeneutika
Jika kita mengacu pada pengertian
hermeneutika secara umum, yakni seni memahami teks maka akan didapati bahwa
kajian ini dimulai sejak masa Yunani Klasik. Adalah pada karya Aristoteles, Peri
Hermeneins (de interpretation) –sebagaimana diungkapkan Josef Bleicher.Dalam
tradisi Yunani Klasik kata έρμηνευτκή (dilafalkan dengan “ermeneutike”)
yang dipakai dalam teks-teks babon, seperti muncul dalam rangkaian karya Plato sebanyak
tiga kali. Ia menambahkan bahwa pada saat itu –zaman Yunani Klasik- telah ada
diskursus hermeneutika, meski dimungkinkan masih dalam batas cara memahami.[14]
Namun jika kita melihatnya secara khusus, yakni metodologi penafsiran maka akan
didapati bahwa cikal bakal kemunculan hermeneutika dimunculkan oleh Immanuel
Kant.[15]
Urgensi diri
Disini akan dipaparkan sejarah dan
perkebangan hermeneutika sebagai sebuah fenomena kajian tentang kaidah-kaidah
umum dalam menafsirkan Bible sebagai upaya untuk menemukan dan menyingkap nilai
dan kebenaran Bible. Sebagaimana dikutip oleh Fahmi Salim dalam tesisnya[16],
dalam Ensiclopedia Britanica edisi 15 pada tahun 1985 yang ditebitkan di
Chicago dinyatakan bahwa “Hermeneutika adalah kajian tentang kaidah-kaidah umum
untuk menafsirkan Bible dan tujuan utama dari hermeneutika dan metode-metode
takwil Yahudi dan Nasrani sepanjang sejarahnya adalah untuk menyingkap
kebenaran dan nilai dari Bible.”[17]Dengan
melihat statement ini, kemunculan hermeneutika di Barat sangat
berhubungan erat dengan problem yang dihadapi oleh umat Yahudi dan Kristen.
Berawal dari krisis kepercayaan pada
tafsir monolitik, serta keyakinan akan adanya makna yang samar dibalik makna
yang sekilas tamak jelas. Sehingga Martin Luther (1483-1546) menyerukan
hermeneutika baru dengan menciptakan kanon didalam kanon[18].Pendekatannya
lebih bersifat informal dan tidak begitu terikat pada adat kebiasaan Abad
Pertengahan, serta memusatkan perhatian pada interpretasi kristologis atas
Alkitab dan mengkritik secara terang-terangan kaum skolastik. Yang menarik
disini adalah “iman” menurut Luther dalam bukunya Sermons bukanlah
“kepercayaan” melainkan sikap percaya dan meniggalkan diri sendiri: “Iman tidak
butuh informasi, pengetahuan, dan kepastian, melainkan penyerahan diri secara
bebas dan kepasrahan penuh suka cita pada Sang Kebaikan yang tidak terasakan,
belum dicicipi, dan yang tidak diketahui.”[19]
Dengan melihat pada perkembangan
tradisi Yahudi dan Kristen sebelum abad perncerahan atau sebelum gerakan
revolusi, metode yang digunakandalam menafsirkan Bible menurut Fahmi Salimdapat
diklasifikasiakan ke dalam empat klasifikasi, yaitu:[20]
a.
Tafsir Literal
Metode ini
menitik beratkan pada makna kosa kalimat dan struktur kaidah teks, sebagaimana
metode ini juga mengakui adanya makna langit yang tersimpan di dalamnya.Adalah
St. Gerom -seorang pakar Injil yang berpengaruh di abad ke-4- orang pertama
yang paling terkenal memakai metode ini untuk melawan penafsiran kiasan yang
ektrem.Metode ini diikuti oleh beberapa tokoh ternama, seperti Martin Luther,
Thomas Aquinas, Jhon Calvin, dan Nicolas of Lyra.
b.
Tafsir Moralis
Titik tekannya
adalah mendirikan dasar-dasar penafsiran untuk kajian-kajian moral yang telah
digariskan Bible.Sebagai contoh, tafsir jenis-jenis makanan yang diharamkan
dalam Injil Barnabas, “Kotoran-kotoran rohani yang diduga ada di dalam sebagian
hewan, bukan daging hewan itu sendiri.”
c.
Tafsir Kiasan (Allegorical
Interpretation)
Kitab Bible
–dalm metode alegoris ini- dianggap sebagai sesuatu yang memiliki tingkatan
makna lain yang tersembunyi di balik symbol manusia, kejadian, dan segala
sesuatu yang terjadi. Sebagai contoh “Perahu Nabi Nuh” yng ditafsirkan sebagai
penampakan Gereja di masa depan yang sejak awal telah menjdi sebuah objek
pandangan dan perhatian dari Tuhan. Pakar Yahudi yang sezaman dengan Yesus
(sekitar 50 SM – 20 M) Philon, dapat dianggap sebagai tokoh terkemuka dalam
metode tafsir ini.Kemudian diikuti oleh Christian Clement of Alexandria yang
berhasil mengungkap kebenaran-kebenaran filosofis yang mendalam dari kitab
tersebut.seorang pengikutnya (Origen) telah melakukan pengaturan terhadap dasar-dasar
metode tafsir ini dan kembali berusaha membuat level-level tingkatan makna baik
makna literal, moral, maupun alegoris. Ia beranggapan bahwa makna-makna kiasan
keruhanian adalah makna yang paling tinggi.
d.
Tafsir Mistik (Anagogical-Mystical)
Pada Abad
Pertengahan terjadi pembagian level makna ruhaniah sehingga menjadi makna
alegoris (kiasan) dan makna batin (gnostic mistik). Pembagian itu kemudian
menyebabkan terjadinya empat tingkatanlevel makna dengan menyatukan teori tiga
tingkat makna ala Origen di atas. Model penafsiran ini berusaha untuk
mengaitkan kejadian-kejadian yang ada dengan kehidupan di akhirat.
Dalam perkembanganya, risalah De
Doctrina Christiana karangan St. Agustinus merupakan karya pertama yang
secara teoreris mengemukakan konsep-konsep hemeneutis menyangkut hubungan
antara bahasa dan pikiran manusia dengan melandaskan diri pada doktrin
inkarnasi dalam tradisi Kristen.Signifikansi Agustinus dalam sejarah
hermeneutika terletak pada upayanya untuk tidak mengunci makna hanya pada pernyataan.
Menurutnya apa yang direpresentasikan oleh pernyataan adalah “lautan” makna
yang terbatas, verbum cortis.[21]
Dominasi gereja Kristen dengan
mengusung Alegorical Simbolis, namun juga telah mengusung kaidah Agustinian,
sebagai berikut:
a.
Tafsir berbasis
riwayat atau narasi.
b.
Tafsir alegoris
dengan kaidah-kaidah dan konteks-konteks yang telah ditetapkan.
c.
Tafsir dengan
kaidah kebahasaan
d.
Tafsir dengan
kondisi historis dan kejadian yang menyertai teks.
Hingga kemudian Gereja Katoloik
menjadikan Bible sebagai property yang dimonopoli olehnya dan hanya merekalah
yang berhak menakwilkannya. Akibat dari kanyataan ini muncullah Martin Luther
dengan gerakan protesnya dan gerakan atheism modern yang juga dipicu oleh sebab
yang lain yang terjdi bersama-sama pada kisaran abad ke-15.[22]
Dan pengikut Luther, Philip Melanchton dalam risalahnya tentang retorika pada
tahun 1519 dan Flacius Illyricus dalam bukunya Clavis Scripture Sacrae
pada tahun 1967secara metodologis yang mengungkapkan hermeneutika sebagai teori
penafsiran dalam menafsirkan Bible dan
menekankan pentingnya pengetahuan gramatika bahasa, atau yang disebut dengan linguistic.[23]
Pada akhir abad ke-17 barat
mengalami zaman pencerahan akal budi. Fransis Bacon –penasihat Raja James I
dari Inggris- adalah orang pertama yang menyatakan bahwa ajaran yang paling suci pun harus
tunduk pada metode-metode ilmu empiris yang kaku dan ketat.[24]Lebih
lanjut aliran rasionalisme juga memiliki peran dalam gerakan takwil terhadap
teks-teks keagamaan secara bebas.Seperti Baruch Spinoza (1632-1677) sebagai
orang pertama yang merintis higher criticism.[25]Dan
pada abad ke-18 Immanuel Kant (1724-1804) dengan logika transendentalnya
memantik kajian hermeneutika menjadi sebuah kajian baru, meski tidak disebutkan
olehnya secara eksplisit.[26]Dan
pada waktu inilah hermeneutika juga menyinggung salah satu bagian dari kajian
filsafat.Hermeneutika modern lahir dalam pangkuan filsafat rasionalisme dan
pencerahan serta humanisme.[27]
Schleiermacher
(1768-1834) dengan seni memahaminya atau yang ia sebut sebagai kunslehre des
ferstehen yang sifatnya pasti dan metodis, memberikan kontribusi dalam
ranah hermeneutika berdasarkan konsepsi romantic dalam bentuk perasaan atau ahndung.[28]Sebagaimana
Edmund Husserl (1859-1938) dan usahanya dalam menjauhi pemihakan dalam
masalah-masalah hokum dan mendengarkan suara realitas secara ikhlas.Serta
filsuf kontemporer lainnya yang menjadikan hermeneutika bersifat umum dan
mencakup semua bidang kajian kemanusiaan dan filsafat.[29]
D.
Mahzhab-madzhab
Hermeneutika
Sebagaimana dikemukakan oleh Ali
Ridha Qaimi dalam sebuah penelitiannya yang dimuat di jurnal al-Mahajjah
tahun 2003 ,setidaknya klasifikasi ini bertumpu pada klasifikasi hermeneutika
milik Josef Bleicher[30],
bahwa hermeneutika kontemporer mempunyai segitiga aliran yang masing-masing
mewakili aliran hermeneutika pada umumnya, yaitu:[31]
1.
Hermeneutical
Theory
Yaitu
hermeneutika sebagai metode dan ilmu pengetahuan yang khas ilmu budaya.Mengikuti
pembagian ilmu ke dalam dua bagian, humaniora dan sains.Para pengusung metode
ini menyatakan bahwa hermeneutika merupakan ilmu metode humanioralogi, karena
ilmu humaniora menekankan pentingnya pemahaman fenomena dan segala hal yang
berkenaan dengannya.Tokoh yang berjasa dalam hemeneutika ini adalah Willian
Dilthay (1833-1911) disusul kemudian Emilio Betti (1890-1968).
Setidaknya ini
dicetuskan oleh Schleiermacher dengan dua pendekatan tawarannya: interpretasi
gramatis dan interpretasi psikologis. Di dalam teks selalu ada dua sisi, satu
sisi objektif yang menunjuk pada bahasa, adalah yang ikut terlibat dan membuat
proses pemahaman menjadi mungkin. Satu sisi lain yaitu aspek subjektif yang
menunjuk pada ide pengarang dan mengejawantah dalam penggunaannya secara khusus
terhadap bahasa. Dua aspek ini, menunjuk pada pengalaman pengarang yang segera
direkonstruksi oleh pembaca sebagai bukti prmahamannya tentang pengarang dan
pengalamannya. Begitupula tak lepas dari kritik, metode yang dia cnangkan
terlalu psikologis dan seseorang mengalami kesulitanyang berarti pada saar ia
berusaha mengatasi kesenjangan waktu yang memisahkan cakrawala budayanyadengan
cakrawala budaya pengarang. Dalam mengatasi psikologi Schleiermacherinilah
muncul hermeneutika filosofis.[32]
2.
Hermeneutical
Philosophy
Yaitu
hermeneutika yang sangat menentang kemungkinan penumbuhan bagi metodologi
pemahaman.Filsafat hemeneutika menolak setiap usaha membangun metodologi bagi
pemahaman makna.Hal ini dianggap sebagai bagian dari tren hermeneutika yang
objektif, karena pemahaman tidak mungkin dibakukan dalam suatu kerangka metodologi
tertentu.Penafisir dan objek kajia yang
dipelajari merupakan unsur yang saling melengkapi. Oleh sebab itu, pebafsir
memiliki prakonsepsi terhadap objek kajiannya dan tidak mungkin penafsir
memahami tanpa prakonsepsi.Tokoh utama dibalik hermeneutika filosofis ini
adalah Hans Gorge Gadamer (…-2002).
Dalam pandangan
Gadamer, pemahaman seorang penafsir ternyata dipengaruhi oleh situasi
hermeneutic tertentu yang melingkupinya, baik itu berupa tradisi, kultur, dan
pengalaman hidup. Situasi ini berbentuk horizon atau cakrawala pemahaman. Dalam membaca teks penafsir tentunya
sedang mengkonstruk pemahaman atau yang dalam bahasa gadamer disebut “pre-understanding”
pra-pemahaman, dan itu mutlak adanya. Namun harus disadari bahwa dalam proses
penafsiran haruslah merehabilitas prapemahaman ini yakni dengan melakukan
“penggabungan atau asimilasi horizon”. Artinya, seorang penafsir harus sadar
bahwa ada dua horizon, yakni cakrawala (pengetahuan) atau horizon di dalam
teks, dan horizon cakrawala (pemahaman) atau horizon pembaca sehingga
terciptalah “lingkaran hermeneutika” (hermeneuticher Zirkl) dalam
mencari makna baru “creating a new meaning”.[33]
3.
Critical
Hemeneutics
Aliran
hermeneutika ini cukup berbeda dengan dua diatas, sebagai contoh kecil “apakah
makna teks memiliki makna kebenaran atau tidak”.Teori hermeneutika menilai
diskusi hal itu berada diluar arena metodologi dan epistemology pemahaman.
Sementara itu filsafat hermeneutika mengesampingkan masalah tadi dan lebih
focus pada peran budaya dan prakonsepsi penafsir dalam memahami objek. Dari
sudut inilah hermeneutika kritis berperan mengajukan dan mendiskusikan
persoalan tadi.Dalam sudut pandang hermeneutika kritis factor-faktor nonbahasa
dalam hal-hal budaya juga turut didiskusikan.Adalah filsuf berkebangsaan Jerman
Jurgen Habermas (1929-…) dan Karl Otto Apel yang berjasa menumbuhkan semangat
kritis ini.
Menurut Apel
–sebagai titik tolak historisitas pemahaman Gadamer- bahwa pemahaman dapat
membawa seseorang kepada kepastian kebenaran (ascertainment of truth)
yang kritis asalkan mengikuti prinsip regulative, yaitu berusaha
membangun persetujuan universal dalam sebuah kerangka komunitas interpreator
yang tidak terbatas cakupannya (adanya perbaikan dan penyempurnaan seiring
dengan perubahan ruang dan waktu tanpa ada batasan). Menurutnya, hermeneutika
teroris dan filosofis hnya berkutan pada level makna dank ode-kode ideologis
dan linguistic yang telah given. Oleh karena itu, standar penafsiran
yang memadai adalah keputusan yang berasal dari factor eksternal, dan hal itu
berkaitan dengan identifikasi hubungan-hubungan dan proses social yang
memproduksi, mendistorsi, dan mengolah makna. Begitu juga Habermas yang
mengkritik Gadamer, bahwa setiap wacana pengetahuan pasti terselip kepentingan
sehingga amat rentan menjadi ideologis.[34]
Namun, pada klasifikasi diatas
sangat kentara bahwa hermeneutika –dalam klasifikasi ini- terstruktur pada Abad
Pertengahan atau setidaknya pada Abad Pencerahan. Dengan tidak mengabaikan
konsep hermeneutika klasik sampai menjelang atau ketika pencerahan alangkah
baiknya menyimak klasifikasi yang dilakukan oleh Syauqi Zain, sebagai berikut:[35]
1.
Hermeneutika
Simbolis dan Tipologis, yang diusung oleh Philon of Alexandria
2.
Hermeneutika
Dalam dan Aksioma Semesta Alam, yang Augustin, Martin Luther, dan Matias
Flasius sebagai tokohnya.
3.
Hermeneutika
Kritis, Dannhauer, Jhon Caladinus, dan Gorge Mayer orang yang menokohinya.
4.
Hermeneutika
Romansa, yang dikemukakan oleh Schleiermacher.
5.
Hermeneutika
Historis, yang diusung oleh F. Ast, John Drozen, dan William Dilthay.
6.
Hermeneutika
Fenomenologi dan Eksistensialis, dengan Edmund Hussrel, Martin Heidegger, dan
Gadamer sebagai tokohnya.
Setidaknya, klasifikasi ini hampir mendekati dengan klasifikasi
milik Richard Palmer dalam Hermeneuticsnya, dengan enam klasifikasi,
yaitu:[36]
1.
Hermeneutika
dalam tradisi Yudeo-Kristiani, yang melahirkan dua corak utama: mahzhab
Antiokhia dengan tafsir simbolis dan madzhab Alexandria dengan tafsir harfiahnya.
Puncaknya pada zaman reformasi , jika golongan Protestan memegang prinsip SolaScriptura
(hanya kitab suci), maka gereja Katolik memegang prinsip tradisi: kitab suci
ditafsirkan dalam terang tradisi.
2.
Hermeneutika
sebagai metodologi filologis. Yakni penerapannya pada teks-teks klasik Yunani
dan Romawi di samping kitab suci. Pada abad ke-18 muncul dua madzhab:
transcendental dan historis psikologis. Yang pertama berpendapat bahwa untuk
menemukan suatu kebenaran dalam teks tidak harus mengaitkan pengarangnya kerena
kebenaran bisa berdiri otonom ketika tampil dalam teks. Sedangkan yang lain
berpendapat bahwa teks adalah eksposisi eksternal dan temporer saja dari
pikiran pengarangnya, sementara kebenaran yang hedak disampaikan mungkin tidak
terwadahi secara representative oleh kehadiran teks.
3.
Hermeneutika
sebagai pemahaman ilmu linguistic. F.D.E. Schleiermacher berusaha memasukkan
pertimbangan epistemologis ke dalam wacana metodologis sebagai pendektan
pertama dalam sejarah hermeneutika.
4.
Hermeneutika sebagai
fondasi metodologi ilmu-ilmu kemanusiaan. Adalah W. Dilthay, menurutnya
hermeneutika merupakan inti disipln metodologi yang dapat melayani sebagai
fondasi bagi ilmu-ilmu kemanusiaan yang mencakup semua disiplin ilmu yang
memfokuskan pada ranah pemahaman seni, aksi, dan tulisan.
5.
Hermeneutika
sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial, yang diwakili
oleh Heidegger dan muridnya, Gadamer. Hermeneutika dalam konteks ini tidak
mengcu pada ilmu atau kaidah interpretasi teks atau pada metodologi bagi geinsteswissenschaften,
tetapi pada penjelasan fenomenologinya tentang keberadaan manusiaitu sendiri.
6.
Hermeneutika
sebagai system penafsiran. Hermeneutika menjadi sebuah teori tntang seperangkat
aturan yang menentukan suatu interpretasi terhadap berbagai teks. Salah seorang
hermeneut yang paling representative untuk makna yang terakhir ini adalah Paul
Riceour engan menyuguhkan suau system interpretasi yang sangat kaya,
sistematis, dan juga complicated.
Jika ditarik
benang merahnya maka akan didapati bahwa setidaknya ada tiga ruang lingkup umum
yang menjadi dasar pijakan bagi kajian hermeneutika, teks, pengarang, dan
pebaca.
1.
Pengarang
Madzhab
romansisme sangat memuja posisi pengarang, karena subjek pengarang adalah
sebuah pusat kerja inovasi secara keseluruhan.Pasca Strukturalisme –yang telah
membunuh pengarang- adalah E.D.JR Hirsh yang mencoba mengembalikan kehadiran
pengarang dalam teks umpama roh yang sangat dominan. Lebih lanjut ia ingin
mengembalikan maksud pengarang sebagai kunci memaknai teks. Sebagai fungsi
aplikatif dari teori ini guna mengukuhkan bahwa hanya pembaca yang ahli sajalah
yang dapat mengembalikan maksud pengarang.Sejalan dengan pendapat Hirsh, Emilo
Betti mengharuskan untuk memperhatikan makna teks untuk sampai pada makna objektif
yang tidak ada campr tangan pembaca untuk memaksakan maksudnya ke dalam teks.[37]
2.
Teks
Dalam
masalah ini ada dua kelompok besar: Pertama, mereka yang meyakini
bahwa ilmu linguistic adalah titik awal
memahami teks serta menganggap bahasa sebagai media dan tujuan yakni struktur
teks pada dirinya sendiri. Teks bersifat statis dan adanya unsur-unsur
potensial dalam system hubungan susunannya.Kedua, mereka berusaha
mengeluarkan teks dari ketertutupannya, sehingga teks dapat melampaui
dirinya.Teks bersifat dinamis, sehingga titik tekannya juga pada
intertektualitas.Seperti para dekontruksionis, yang termasuk pada kategori
kedua.[38]
3.
Pembaca
Ketika
Barthes mengatakan “kematian pengarang” maka yang dimaksudkan disini adalah
menghidupkan horizon pembaca. Pasalnya –menurut Barthes- pembaca ibaratkan
kertas kosong yang akan diisi dengan semua teks yang membentuk sebuah tulisan.
Sedangkan Paul Riceour berpenapat bahwa hubungan antara pembaca dan pengarang
adalah perbedaan yang berdasarkan pada perbedaan bukan dialog. Hussrel juga
memberikan ruang besar pada pembaca dengan peran sentral dalam menentukan makna
agar sampai pada pemahaman tentang alam atau hakekat batin dari
tulisan-tulisannya sebagaimana menjadi jelas bagi perasaan pengkritik.[39]Pembaca
dalam pandangan kelompok yang ke 3 ini diibaratkan sebagai titik sentral
pemahaman dengan segala horizonnya.
E.
Analisis
Dari beberapa paparan serta ulasan
singkat diatas dapat kita ketahui bahwa pada zaman klasik perdebatan masalah
hermeneutika sudah ada namun hermeneutika dalam artian sebagai suatu kajian
untuk memahami atau dapat dikatakan berfungsi sebagai semacam prima
philosophia.Kata “semacam” ini harus ditambahkan karena dengan melihat
kanyataan yang ada pada zaman klasik, hermeneutika selalu mendua dari
metafisika. Meski hanya pada taraf sederhana kata yang diduga sama maksudnya
dengan hermeneutika disinyalir telah ditemukan pada karya-karya tokoh ternama
filosof Klasik.
Ketika kita membaca teks suci,
sebagai contoh Torah atau Perjanjian lama dan Injil atau Perjanjian Baru, perlu
diingat bahwa peristiwa-peristiwa sekunder dari teks terkadang tidak
dicantumkan atau yang dalam bahasa Heidegger sebagai “kesekunderan” bahasa
proposisional.Hal inilah yang memantik para pengkaji Bible atau ahli kitab
Yudeo-Kristiani untuk menafsirkan secara literal, moral, kiasan, dan
mistik.Kajian ini lagi-lagi terpecah karena adanya dominasi penguasa.
Seiring dengan pergeseran
epistemology dari tradisi Yunani Klasik menuju tradisi Islam terdapat perbedaan
yang sangat mencolok bahwa dalam tradisi Islam adanya doktrin agama selain
al-Qurˋan, hadits Nabi.Hadits Nabi dianggap juga mempunyai posisi yang hampir
dapat disetarakan dengan al-Qurˋan, tentunya dengan kategori dan karakteristik
khusus dari hadits tersebut.selain dominasi ini pola penafsiran secara harfiyah
juga dilakukan oleh generasi kedua Islam, Sahabat dalam menafsirkan teks
al-Qurˋan. Teks al-Quran yang kosa katanya sulit difahami dicarikan maksudnya
pada syair-saiy Arab Klasik (pra-Islam). Pada masa inipun telah dapat dipetakan
dua pengusung epistemology yang berbeda, yakni literal dan rasional.Kelompok
pertama diakili Abdullah ibn ‘Abbas, sesangkan kelompok kedua diwakili oleh Abdullah
ibn Mas’ud. Pun pada perkembangan selanjutnya corak dalam penafsiran merambah
pada kajian-kajian umum seperti sastra, mistik, dan filsafat. Meski dalam
prosesi ini diwarnai dengan pengkultusan pemikiran yang terjadi dan upaya
saling serang dengan masing-masing mengusung ideology yang telah dicanangkan.
Jika dalam hermeneutika modern
memberikan ruang kajian pada bahasan historisasi teks maka dalam tradisi Islam
juga ditemukan yang dalam kajian Ulum al-Qurˋan dikenal sebagai asbab
al-nuzul, meski pemilihan serta pemilahan narasinya berbeda berdasarkan
tingkat validitas cerita narasi tersebut. Darisinilah tepat kiranya Abed Jabiri
membagi epistemology islam ke dalam tiga kategori, bayani, burhani, dan irfani.
Berpindah masa saat dimana Barat
mulai menemukan tajinya kembali dengan menyingkirkan segala bentuk metafisika
murni.Barat mulai kajiannya dengan mempersoalkan semua yang ada pada Alkitab
yang kurang masuk akal dan bersifat metafisis sehingga
memunculkan metode kritik historis.Meski banyak diantara tokohnya yang
menolak doktrin namun ada beberapa diantaranya mencoba memposisikan diri
sebagai penengah antara doktrin dengan pengetahuan kontemporer – saat itu –
dengan sedikit melunakkan dengan eklektisasi beberapa metode yang telah ada,
sehingga muncullah kritik Bible pada tradisi Barat.
Dengan alur perkembangan yang terus
produktif secara intens peluasan kajian yang belum dilakukan sebelumnya
dilakukan, seperti merambahnya kajian hermeneutika pada ilmu-ilmu
humaniora.Pada posisi inilah anak hermeneutika muncul dengan menjajaki semua
kajian ilmu pengetahuan. Layaknya Heidegger yang secara tidaksengaja ,karena
sudah menjadi corpus magnum dari anak zamannya, mengalihkan kajiannya
menjadi bersifat hermeneutis karena sudah menjadi keniscayaan pada saat itu
bahwa kajian ilmu pengetahuan berpindah dari hubungan subjek-objek serta
kausalitas menuju sebuah horizon baru dalam memandang epistemology dan
ontology.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmala, dkk.2003.
Hermeneutika Transendental, Yogyakarta; Diva Press.
Borgias,
Fransiskus.2013.Sejarah Alkitab, terjemahan dari KarenAmstrong, The
Bible: A Biography. Bandung; Mizan.
Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal, (Jakarta: Perspektif, 2010), hlm. 56.
Faiz, Fakhrudin.2002.
Hermeneutika Qurˋani, Yogyakarta; Qalam.
Grondin, Jean.
2007. Hermeneutics, terj: Sejarah Hermeneutika oleh Inyiak Ridwan
Mundzir, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,), hlm. 17.
Inyiak Ridwan
Mundzir, Hermeneutika FilosofisHans Gorge Gadamer, (Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2012), hlm. 61.
Muhammad ‘Ata
al-Sid, The Hermeneutical Problem of Thr Qurˋan in Islamic History,
terj. Ilham B. Saenong, Sejarah Kalam Tuhan, (Jakarta: Teraju, 2004),
hlm. 9.
Mulyono, Edi,
dkk. 2013. Belajar Hermeneutika, Cet. 2, Yogyakarta; Diva Press.
Zaprulkhan.2015.
Filsafat Ilmu, Jakarta; Raja Grafindo Persada.
[1] Karen
Amstrong, The Bible: A Biography, terj. Sejarah Alkitab oleh
Fransiskus Borgias, (Bandung: Mizan, 2013),
hlm. 15.
[2] Lihat, Ahmala
ed.Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin, Hermeneutika Transendental,
(Yogyakarta: Diva Press, 2003), hlm. 14; Zaprulkhan, Filsafat Ilmu,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015), hlm. 244.
[3] Fakhrudin
Faiz, Hermeneutika Qurˋani, (Yogyakarta: Qalam, 2002), hlm. 22.
[4] Zaprulkhan, Filsafat
Ilmu… hlm. 245.
[5]Ahmala
ed.Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin, Hermeneutika Transendental… hlm. 14.
[6] Jean Grondin, Hermeneutics,
terj. Sejarah Hermeneutika oleh
Inyiak Ridwan Mundzir, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 17.
[7] Zaprulkhan, Filsafat
Ilmu… hlm. 245.
[8]Muhammad ‘Ata
al-Sid, The Hermeneutical Problem of Thr Qurˋan in Islamic History,
terj. Ilham B. Saenong, Sejarah Kalam Tuhan, (Jakarta: Teraju, 2004),
hlm. 9.
[9]Ibid… hlm. 10.
[10] Baca Karen
Amstrong, The Bible: A Biography… hlm. 92-100.
[11] Zaprulkhan, Filsafat
Ilmu… hlm. 246.
[12] Karen
Amstrong, The Bible: A Biography … hlm. 227.
[13] Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal, (Jakarta: Perspektif, 2010), hlm. 56.
[14] Inyiak Ridwan
Mundzir, Hermeneutika FilosofisHans Gorge Gadamer, (Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2012), hlm. 61.
[15] Baca Jean
Grondin, Hermeneutics , hlm. 17-18.
[16]Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 124.
[17] Teks
Inggrisnya “Hermeneutics, the study general principles of biblical
interpretation. For both Jew and Christians throughout their histories, primary
purpose of hermeneutics and of the exegetical methods employed in
interpretation, has been to discover the truth and value of the Bible.
[18] Catatan
penerjemah: “kanon di dalam kanon” maksudnya didalam kanon yang resmi, orang
masih menetapkan kanon menurut persepti dan pandangan teologis orang yang
bersangkutan. Ungkapan itu dapat disejajarkan dengan ungkapan lain “Negara di
dalam Negara”. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima dan
dibenarkan.
[19] Karen
Amstrong, The Bible: A Biography … hlm. 193-195.
[20]Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 128-130.
[21] Inyiak Ridwan
Mundzir, Hermeneutika FilosofisHans Gorge Gadamer… hlm. 69.
[22]Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 133.
[23] Inyiak Ridwan
Mundzir, Hermeneutika FilosofisHans Gorge Gadamer… hlm. 62.
[24] Karen
Amstrong, The Bible: A Biography … hlm. 217.
[25]Ibid, hlm. 219.
[26] Jean Grondin, Hermeneutics
, hlm. 19.
[27]Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 135.
[28] Jean Grondin, Hermeneutics
, hlm. 27.
[29]Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 135.
[30] Lihat
Zaprulkhan, Filsafat Ilmu… hlm. 251.
[31]Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 139-140.
[32] Zaprulkhan, Filsafat
Ilmu… hlm. 252.
[33]Ibid… hlm. 255.
[34]Ibid… hlm. 262.
[35]Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal… hlm. 142.
[36] Zaprulkhan, Filsafat
Ilmu… hlm. 246-250.
[37]Fahmi Salim, Kritik
Studi Islam Kaum Liberal… hlm.
143-144.
[38]Ibid… hlm. 145.
[39]Ibid… hlm. 149.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda