al-kindi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filasafat
merupakan sebuah upaya untuk menemukan kebijaksanaan dengan cara memikirkan
suatu hakekat menurut kemampuan akal manusia. Filsafat pertama kali dalam
sejarah tertulis berhubungan dengan manusia pada abad ke-6 SM oleh tokoh-tokoh
Yunani. Tanpa dipungkiri selama kurang lebih 10 abad berkutat pada masyarakat
Yunani yang pada kekuasaan Alexander The Great mencoba menularkan
pemikiran-pemikiran yang terlahir dari tokoh Yunani kepada masyarakat
jajahannya. Kemunduran imperium Yunani yang kemudian digantikan imperium Islam
yang pada tahun 711 M kali pertama Islam menjamah dataran Eropa, Spanyol. Pada
masa jayanya, Islam terus mengembangkan ajaran dan ilmu pengetahuan oleh
sarjana-sarjananya, tanpa terkecuali filsafat. Dari mauskrip-manuskrip yang
dibeli pada Yunani yang kemudian dialih bahasakan kedalam bahasa Arab filsafat
pertama kalinya dilakukan pada daulah Bani Abbasyiyyah. Dari alihan bahasa
itulah filsafat mulai dikaji oleh tokoh-tokoh Islam. Ulama’ yang pertama kali
melakukan kajian ini adalah al-Kindi. Beliau berusaha menggabungkan antara
filsafat dengan agama yang pada kala itu filsafat dianggap sebagai ilmu sesat
yang mencoba memikirkan hakekat sesuatu dengan bernaung dibawah kemampuan akal.
Berikut beberapa riwayat singkat al-Kindi dan beberapa pemikirannya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
biografi al-Kindi?
2. Bagaimana
pemikiran-pemikirannya?
C. Tujuan pembahasan
- Untuk mengetahui sejarah singkat riwayat hidup al-Kindi.
- Untuk mengetahui pemikiran-pemikiran
yang dikatakan oleh al-Kindi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Riwayat Al-Kindi
Al-Kindi di dunia Barat terkenal dengan nama alkindus. Beliau adalah
keturunan bangsawan Arab dari kerajaan Kinda (Yaman), lahir di Basrah pada
tahun 185 H, anak Ishak al-Sabbah. Pendidikannya bermulai di Basrah dan
dilanjutkan di Baghdad. Beliau adalah
seorang tabib, ahli bintang dan filosof.[1]
Al-Kindi mengalami kemajuan pikiran Islam dan penerjemahan
buku-buku asing ke dalam bahasa Arab, bahkan ia termasuk pelopornya.
Bermacam-macam ilmu telah dikajinya, terutama filsafat, dalam suasana yang
penuh pertentangan agama dan mazhab, dan dibanjiri oleh paham golongan Mu’tazilah
serta ajaran –ajaran Syi’ah.[2]
Pendidikan beliau yang pertama-tama adalah membaca al-Qur’an,
menulis, dan berhitung. Bahkan banyak mempelajari satra dan agama, serta
menerjemahkan beberapa buku Yunani di dalam bahasa Syiris kuno dan ke dalam
bahasa Arab. Beliau juga banyak mengarang buku yang kurang lebih berjumlah 241
dalam berbagai bidang ilmu terutama dibidang filsafat, logika, aritmatika,
astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, musik, matematika dan sebagainya.
B.
Pengaruh Mu’tazilah dalam Pemikiran Filsafat Al-Kindi
Filsafat diterjemahkan dan dikaji oleh dunia muslim terjadi pada
waktu kejayaan golongan Mu’tazilah. Yang kemudian menjadi pendorong alian ini
untuk mengembangkan pemikirannya yang memberi peran penuh terhadap akal. Tanpa
terkecuali pemikir islam al-Kindi yang dalam teori. Ini dapat dilihat pada
pemikirannya tentang ke-Esaan Tuhan. Tentang sifat-sifat Tuhan al-Kindi berpendirian
seperti golongan Mu’tazilah yang menonjolkan ke-Esaan sebagai satu-satunya
sifat Tuhan.[3]
C.
Gagasan tentang Metafisika dan Negatif
Pemikiran di bidang metafisika lebih dititikberatkan kepada masalah
hakikat Tuhan, bukti-bukti dan sifat Tuhan. Menurutnya Tuhan adalah wujud yang
hak (benar), bukan asalnya tidak ada
menjadi ada, tetapi mustahil tidak ada, dan akan selalu ada. Jadi, Tuhan adalah
wujud sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain, tidak berakhir
wujud-Nya dan tidak ada kecuali dengannya.[4]
Al-Kindi mengemukakan tiga jalan untuk membuktikan adanya Tuhan,
yaitu:
1.
Tidak
mungkin ada benda yang ada dengan sendirinya, jadi wajib ada yang
menciptakannya dari ketiadaan dan penciptanya itu adalah Tuhan.
2.
Dalam
alam tidak mungkin ada keragaman tanpa keseragaman atau keseragaman tanpa
keragaman. Tergabungnya keragaman dan keseragaman bersama-sama bukanlah karena
kebetulan, tetapi karena suatu sebab, yaitu sebab pertamanya adalah Tuhan.
3.
Kerapian
alam tak mungkin terjadi tanpa ada yang merapikan (mengaturnya). Yang merapikan
atau yang mengatur alam nyata itu adalah Tuhan.
Di
samping itu Al-Kindi juga membuktikan wujud Tuhan dengan menggunakan tiga
jalan:
1.
Barunya
alam, alam ini baru dan ada permulaan waktunya, karena alam ini terbatas. Oleh
karena itu, yang menyebabkan alam ini tercipta dan tidak mungkin ada suatu
benda yang ada dengan sendirinya.
2.
Keanekaragaman
alam wujud, keanekaragaman di sini adalah ada yang menyebabkan atau ada sebab.
Sebab itu bukanlah alam sendiri tetapi sebab yang ada berada di luar alam yang
lebih mulia, lebih tinggi, dan lebih dahulu adanya. Karena sebab harus ada
sebelum akibat.
3.
Kerapian
alam, bahwa alam lahir tidak mungkin rapi dan teratur kecuali adanya zat yang
tidak tampak, zat yang tidak tampak itu hanya dapat diketahui dengan melalui
bekas-Nya (illat tujuan).
Sedangkan
pemikirannya tentang sifat-sifat Tuhan, ia mengikuti pendirian Muktazilah
yaitu:
1.
Keesaan,
suatu sifat yang paling khas bagi-Nya.
2.
Yang
Maha Tahu
3.
Yang
Maha Berkuasa
4.
Yang
Maha Hidup
Al-Kindi juga mnengatakan bahwa untuk wujud tuhan ada empat negasi
yakni tidak jamak, tidak terulang, tidak terbatas, dan tidak terbagi.
D.
Gagasan Epistemologi dan Pengaruh Platonisme
Epitemologi berarti kata, pikiran, percakapan tentang pengetahuan
atau ilmu pengetahuan. Al-Kindi menyebutkan adanya tiga macam pengetahuan
manusia, yaitu: [5]
[a] pengetahuan yang diperoleh dengan indera lahiriah, yang disebut sebagai
pengetahuan inderawi. [b] pengetahuan yang diperoleh dengan jalan menggunakan
akal, yang disebut pengetahuan rasional. [c] pengetahuan yang diperoleh
langsung dari Tuhan, yang disebut pengetahuan isyraqi.
1.
Pengetahuan Inderawi
Pengetahuan
inderawi terjadi secara langsungketika orang mengamati terhadap obyek-obyek
material, kemudian dalam proses tanpa tenggang waktu dan tanpa berupaya
berpindah ke imajinasi, dan diteruskan ke tempang penampungannya yang disebut hafizah
(recollection). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan ini tidak tetap, karena
obyek yang diamati pun tidak tetap, selalu berubah setiap saat, bergerak,
berlebih-berkurang kuantitasnya dan berubah-ubah pula kualitasnya.
Pengetahuan ini tidak memberikan
gambaran tentang hakikat suatu realitas. Pengetahuan jenis ini selalu berwatak
dan bersifat parsial (juz’i) dan amat dekat kepada penginderanya, tetapi
amat jauh dari pemberian gambaran tentang alam.
2.
Pengetahuan Rasional
Pengetahuan
tentang sesuatu yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal bersifat
universal, tidak parsial dan immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan
individu, tetapi genus dan species. Orang mengamati manusia
sebagai yang berbadan tegak dengan dua kaki, pendek, jangkung, berkulit putih
dan sebagainya. Yang semua ini akan menghasilkan pengetahuan inderawi. Orang
yang mengamati manusia dengan akal pikirannya atau menyelidiki sampai pada
kesimpulannya disebut makhluk yang berpikir.
3.
Pengetahuan Isyraqi
Pengetahuan
yang langsung diperoleh dari pancaran nur illahi. Pengetahuan ini diperoleh
oleh para Nabi dengan tanpa upaya, tanpa bersusah payah terjadi karena kehendak
Allah semata. Pengetahuan ini khusus bagi dan diturunkan oleh Allah kepada para
Nabi yang dipilih-Nya.
Sebagai
jawaban mengenai perbedaan pengetahuan manusia yang diperoleh dengan jalan
upaya dan pengetahuan para Nabi yang diperoleh dengan jalan wahyu, al-Kindi
mengemukakan pertanyaan orang-orang kafir tentang bagaimana muugkin Tuhan
membangkitkan kembali manusia dari kuburnya setelah tulang belulangnya hancur
menjadi tanah, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an surat Yasin ayat 78-82.
Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an ini amat cepat diberikan
oleh Nabi Muhammad SAW karena berasal dari wahyu Tuhan dan tidak yakin dijawab
dengan cepat dan tepat serta jelas oleh para Filosof.
Al-Kindi
selanjutnya mengatakan bahwa selain Nabi, mungkin ada yang dapat memperoleh
pengetahuan isyraqi itu, meskipun derajatnya di bawah yang diperoleh para Nabi
yang berasal dari wahyu Tuhan. Hal ini mungkin terjadi pada orang-orang yang
suci jiwanya.
Uraian
Al-Kindi tentang pengetahuan isyraqi di atas memberikan kesan bahwa menurutnya
pengetahuan para Nabi yang diperoleh dengan wahyu lebih meyakinkan kebenarannya
daripada pengetahuan para Filosof yang tidak berasal dari wahyu.[6]
Pengaruh
Platonisme
Menurut
Plato kebenaran umum itu bukan dibuat dengan cara dialog yang indukif seperti
pada Socrates; pengertian umum itu sudah tersedia disana di alam idea. Definisi
pada Socrates dapat saja diartikan tidak memiliki realitas. Menurut Plato,
esensi itu mempunyai realitas, realitasnya ya ada di dalam idea tersebut. Untuk
menjelaskan hakikat idea tersebut Plato
mengarang mitos penunggu gua, yang dimuatnya di dalam buku dialog Politeia.
Bahwa mitos ini menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh
indera. Kebanyakan orang dapat diumpamakan orang tahanan yang terbelenggu,
mereka menerima pengalaman spontan begitu saja. Akan tetapi, ada beberapa orang
yang mulai memperkirakan bahwa realitas inderawi hanyalah bayangan, mereka
adalah filosof. Mula-mula mereka merasa heran sekali, tetapi berangsur-angsur
mereka menemukan idea “yang baik” (matahari) sebagai realitas tertinggi. Untuk
mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dari
pengaruh indera yang menyesatkan itu. Dan sebagaimana di dalam mitos itu,
filosof pun tidak akan dipercayai orang.[7]
Dengan
demikian, jelaslah bahwa kebenaran umum itu memang ada, bukan dibuat, melainkan
sudah ada di alam idea. Plato memperkuat Socrates dalam mengahadapi kaum sofis.
E.
Hubungan Wahyu dan Filsafat
Islam adalah agamanya wahyu, seluruh ajaran yang dibawanya
merupakan wahyu dari Tuhan. Muhammad sebagai Nabi merupakan pribadi yang
menerima wahyu dan sebagai Rasul beliau hanyalah penyampai belaka. Sementara
filsafat adalah hasil dari kreasi manusia melalui pemikiran rasional dengan
bantuan logika.
Dalam “Risalah Ila al-Mu’tasim Billah”, al-Kindi menyatakan
bahwa antara filsafat dan agama tidak ada perbedaan. Pada hakikatnya semua ilmu
adalah ilmu Tuhan. Semua ilmu bertujuan untuk memberikan kegunaan dan manfaat
bagi jalan ke arah itu dan menghindari segala yang menghalanginya. Tidak adanya
perbedaan antara filsafat dengan agama dalam pandangan al-Kindi disebabkan
karena keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu mencari kebenaran. Kebenara
sendiri adalah satu dan metode kebenaran adalah pembuktian. Pendapat al-Kindi ini
cukup menarik karena dia telah melangkah jauh dari perdebatan tentang agama dan
filsafat. Al-Kindi berusaha mendamaikan antara akidah Islam dan filsafat
Yunani. Oleh De Boer dinyatakan bahwa dialah yang berusaha mendamaikan antara wahyu
kenabian dengan akal.
Sebagaimana al-Kindi, al-Farabi juga menyatakan bahwa kebenaran
adalah satu. Kemudian Ibn Sina berpendapat sebaliknya, bahwa metode agama
adalah murni praktis, sedang filsafat adalah murni penalaran. Ibn Maskawaih,
meskipun banyak persamaannya dengan al-Farabi, ia lebih condong kepada al-Kindi
karena esensi pemikirannya sama-sama berangkat dari filsafat Yunani.
Persamaannya dengan al-Farabi misalnya pendapatnya tentang kenabian. Nabi bagi
Ibn Maskawaih adalah manusia yang mencapai kebenaran dengan bantuan akal,
sebagaimana yang terdapat dalam kekuatan panca indera dan daya cipta yang
digunakan oleh para filsof dalam mencapai kebenaran. Jadi, kebenaran yang
dicapai oleh para nabi dan filosof adalah satu.
Ibn Tufail menjelaskan titik temu antara pengetahuan yang diperoleh
melalui agama (wahyu) dan pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran rasional
(filsafat). Dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan melalui wahyu
meskipun berbeda metode dengan pengetahuan filsafat, namun sesungguhnya pada
akhirnya akan menghasilkan satu titik
kesimpulan yang sama.
Sebagaimana filosof Muslim lain, Ibn Rusyd menyatakan bahwa antara
filsafat dan Islam tidaklah bertentangan, bahkan orang Islam diwajibkan secara syar’i
dianjurkan untuk mempelajarinya. Dengan demikian, al-Qur’an sebenarnya menyuruh
manusia supaya berfilsafat. Di samping itu, karena antara filsafat dan agama
sama-sama membicarakan tentang kebenaran. Apabila analisa akal bertentangan
dengan teks wahyu dalam al-Qur’an, maka dipakai ta’wil, yaitu
meninggalkan arti lafzi untuk menuju kepada arti majaz. Dengan
kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat.
Dengan demikian, para filosof Muslim sama-sama bersepakat bahwa
antara agama (syara’) dan filsafat (hikmah) tidak terjadi
pertentangan. Perbedaan keduanya tidak terletak pada bidang kajiannya, akan
tetapi pada metode untuk memperoleh bidang itu. Mereka bersepakat bahwa
filsafat dan agama sama-sama mencari kebenaran.
Berbeda dengan para filosof adalah para ulama (agamawan). Bagi
mereka antara filsafat dan agama tidak mungkin dipersatukan. Sebagaimana
dikatakan oleh Abu al-Qasim bahwa akal pada dasarnya tidak mempunyai akal seni.
Dia hanya dapat memperoleh pengetahuan secara universal, tidak mengetahui
secara terperinci. Al-Ghazali menyatakan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh
para filosof adalah mereka melepaskan diri dari tekstualis, tidak bersentuhan
sama sekali dengan dasar-dasar agama, dan melepaskan diri dari sendi-sendi
agama. Dan Muhammad Abduh mengatakan, ada dua hal yang sangat berpengaruh
terhadap filosof Muslim, yaitu terlalu kagum kepada ajaran-ajaran para filosof
Yunani terutama pemikiran Aristoteles dan Plato, dan berpengaruh hawa nafsu
pada diri banyak orang ketika itu.
Titik perselisihan antara filosof dan agamawan di sini terletak
pada pandangan mereka dalam aspek-aspek metafisis (ilahiyah). Sebagaimana
dijelaskan bahwa perbedaan agama dan filsafat sesungguhnya ada pada metode yang
digunakan oleh keduanya. Metode agama adalah melalui wahyu kenabian yang dalam
aplikasinya dijelaskan secara dogmatis, sementara filsafat dengan metode
penalaran rasional, yang dalam aplikasinya dijelaskan secara kritis ilmiah.
Maka bagi agamawan keduanya akan menghasilkan out put yang
berbeda pula. Dengan demikian antara agama dan filsafat tidak mungkin ada titik
singgung, apalagi persamaan. Namun bagi para filosof, meskipun antara filsafat
dan agama mempunyai perbedaan metode, namun keduanya mempunyai tidak saja
titing singgung, akan tetapi lebih jauh dari itu, keduanya mempunyai persamaan
berupa out put yang sama. Sebab, akal dan hati nurani (qalb) manusia
berasal dari Yang Satu, dan karena seluruh pengetahuan manusia berasal dari
Yang Satu, maka antar agama dan filsafat tidak ada perbedaan.
Bab : III
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat
Umum ,Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hasbullbabah Bakry. 1973. Di
Sekitar filsafat Skolastik Islam, Jakarta: Tintamas.
Maftukhin. 2012. Filsafat Islam ,
Yogyakarta: Teras.
Mustafa. 2009. Filsafat Islam,
Bandung: Pustaka Setia.
Sudarsono. 2004. Filsafat Islam,
Jakarta: PT Rineka Cipta.
[1] Abdullah
Siddik, Islam fan Filsafat, hlm.84.
[2] Ahmad Hanafi, Pengantar
Filsafat Islam, hlm.73.
[3] Mustafa, Filsafat
Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 110.
[5] Maftukhin, Filsafat
Islam (Yogyakarta: Teras, 2012),
hlm.82.
[7] Ahmad Tafsir, Filsafat
Umum (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hlm.58.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda