Kamis, 20 November 2014

al-kindi

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Filasafat merupakan sebuah upaya untuk menemukan kebijaksanaan dengan cara memikirkan suatu hakekat menurut kemampuan akal manusia. Filsafat pertama kali dalam sejarah tertulis berhubungan dengan manusia pada abad ke-6 SM oleh tokoh-tokoh Yunani. Tanpa dipungkiri selama kurang lebih 10 abad berkutat pada masyarakat Yunani yang pada kekuasaan Alexander The Great mencoba menularkan pemikiran-pemikiran yang terlahir dari tokoh Yunani kepada masyarakat jajahannya. Kemunduran imperium Yunani yang kemudian digantikan imperium Islam yang pada tahun 711 M kali pertama Islam menjamah dataran Eropa, Spanyol. Pada masa jayanya, Islam terus mengembangkan ajaran dan ilmu pengetahuan oleh sarjana-sarjananya, tanpa terkecuali filsafat. Dari mauskrip-manuskrip yang dibeli pada Yunani yang kemudian dialih bahasakan kedalam bahasa Arab filsafat pertama kalinya dilakukan pada daulah Bani Abbasyiyyah. Dari alihan bahasa itulah filsafat mulai dikaji oleh tokoh-tokoh Islam. Ulama’ yang pertama kali melakukan kajian ini adalah al-Kindi. Beliau berusaha menggabungkan antara filsafat dengan agama yang pada kala itu filsafat dianggap sebagai ilmu sesat yang mencoba memikirkan hakekat sesuatu dengan bernaung dibawah kemampuan akal. Berikut beberapa riwayat singkat al-Kindi dan beberapa pemikirannya.
B.   Rumusan Masalah
1.     Bagaimana biografi al-Kindi?
2.     Bagaimana pemikiran-pemikirannya?
C.   Tujuan pembahasan
  1. Untuk mengetahui sejarah singkat riwayat hidup al-Kindi.
  2. Untuk mengetahui pemikiran-pemikiran yang dikatakan oleh al-Kindi.





BAB II
PEMBAHASAN
A.   Riwayat Al-Kindi
Al-Kindi di dunia Barat terkenal dengan nama alkindus. Beliau adalah keturunan bangsawan Arab dari kerajaan Kinda (Yaman), lahir di Basrah pada tahun 185 H, anak Ishak al-Sabbah. Pendidikannya bermulai di Basrah dan dilanjutkan di Baghdad.  Beliau adalah seorang tabib, ahli bintang dan filosof.[1]
Al-Kindi mengalami kemajuan pikiran Islam dan penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab, bahkan ia termasuk pelopornya. Bermacam-macam ilmu telah dikajinya, terutama filsafat, dalam suasana yang penuh pertentangan agama dan mazhab, dan dibanjiri oleh paham golongan Mu’tazilah serta ajaran –ajaran Syi’ah.[2]
Pendidikan beliau yang pertama-tama adalah membaca al-Qur’an, menulis, dan berhitung. Bahkan banyak mempelajari satra dan agama, serta menerjemahkan beberapa buku Yunani di dalam bahasa Syiris kuno dan ke dalam bahasa Arab. Beliau juga banyak mengarang buku yang kurang lebih berjumlah 241 dalam berbagai bidang ilmu terutama dibidang filsafat, logika, aritmatika, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, musik, matematika dan sebagainya.
B.   Pengaruh Mu’tazilah dalam Pemikiran Filsafat Al-Kindi
Filsafat diterjemahkan dan dikaji oleh dunia muslim terjadi pada waktu kejayaan golongan Mu’tazilah. Yang kemudian menjadi pendorong alian ini untuk mengembangkan pemikirannya yang memberi peran penuh terhadap akal. Tanpa terkecuali pemikir islam al-Kindi yang dalam teori. Ini dapat dilihat pada pemikirannya tentang ke-Esaan Tuhan. Tentang sifat-sifat Tuhan al-Kindi berpendirian seperti golongan Mu’tazilah yang menonjolkan ke-Esaan sebagai satu-satunya sifat Tuhan.[3]
C.   Gagasan tentang Metafisika dan Negatif
Pemikiran di bidang metafisika lebih dititikberatkan kepada masalah hakikat Tuhan, bukti-bukti dan sifat Tuhan. Menurutnya Tuhan adalah wujud yang hak (benar),  bukan asalnya tidak ada menjadi ada, tetapi mustahil tidak ada, dan akan selalu ada. Jadi, Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain, tidak berakhir wujud-Nya dan tidak ada kecuali dengannya.[4]
Al-Kindi mengemukakan tiga jalan untuk membuktikan adanya Tuhan, yaitu:
1.      Tidak mungkin ada benda yang ada dengan sendirinya, jadi wajib ada yang menciptakannya dari ketiadaan dan penciptanya itu adalah Tuhan.
2.      Dalam alam tidak mungkin ada keragaman tanpa keseragaman atau keseragaman tanpa keragaman. Tergabungnya keragaman dan keseragaman bersama-sama bukanlah karena kebetulan, tetapi karena suatu sebab, yaitu sebab pertamanya adalah Tuhan.
3.      Kerapian alam tak mungkin terjadi tanpa ada yang merapikan (mengaturnya). Yang merapikan atau yang mengatur alam nyata itu adalah Tuhan.

Di samping itu Al-Kindi juga membuktikan wujud Tuhan dengan menggunakan tiga jalan:
1.      Barunya alam, alam ini baru dan ada permulaan waktunya, karena alam ini terbatas. Oleh karena itu, yang menyebabkan alam ini tercipta dan tidak mungkin ada suatu benda yang ada dengan sendirinya.
2.      Keanekaragaman alam wujud, keanekaragaman di sini adalah ada yang menyebabkan atau ada sebab. Sebab itu bukanlah alam sendiri tetapi sebab yang ada berada di luar alam yang lebih mulia, lebih tinggi, dan lebih dahulu adanya. Karena sebab harus ada sebelum akibat.
3.      Kerapian alam, bahwa alam lahir tidak mungkin rapi dan teratur kecuali adanya zat yang tidak tampak, zat yang tidak tampak itu hanya dapat diketahui dengan melalui bekas-Nya (illat tujuan).
            Sedangkan pemikirannya tentang sifat-sifat Tuhan, ia mengikuti pendirian Muktazilah yaitu:
1.      Keesaan, suatu sifat yang paling khas bagi-Nya.
2.      Yang Maha Tahu
3.      Yang Maha Berkuasa
4.      Yang Maha Hidup
Al-Kindi juga mnengatakan bahwa untuk wujud tuhan ada empat negasi yakni tidak jamak, tidak terulang, tidak terbatas, dan tidak terbagi.
D.   Gagasan Epistemologi dan Pengaruh Platonisme

Epitemologi berarti kata, pikiran, percakapan tentang pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Al-Kindi menyebutkan adanya tiga macam pengetahuan manusia, yaitu: [5] [a] pengetahuan yang diperoleh dengan indera lahiriah, yang disebut sebagai pengetahuan inderawi. [b] pengetahuan yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal, yang disebut pengetahuan rasional. [c] pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan, yang disebut pengetahuan isyraqi.
1.     Pengetahuan Inderawi
Pengetahuan inderawi terjadi secara langsungketika orang mengamati terhadap obyek-obyek material, kemudian dalam proses tanpa tenggang waktu dan tanpa berupaya berpindah ke imajinasi, dan diteruskan ke tempang penampungannya yang disebut hafizah (recollection). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan ini tidak tetap, karena obyek yang diamati pun tidak tetap, selalu berubah setiap saat, bergerak, berlebih-berkurang kuantitasnya dan berubah-ubah pula kualitasnya.
            Pengetahuan ini tidak memberikan gambaran tentang hakikat suatu realitas. Pengetahuan jenis ini selalu berwatak dan bersifat parsial (juz’i) dan amat dekat kepada penginderanya, tetapi amat jauh dari pemberian gambaran tentang alam.

2.     Pengetahuan Rasional
Pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal bersifat universal, tidak parsial dan immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan individu, tetapi genus dan species. Orang mengamati manusia sebagai yang berbadan tegak dengan dua kaki, pendek, jangkung, berkulit putih dan sebagainya. Yang semua ini akan menghasilkan pengetahuan inderawi. Orang yang mengamati manusia dengan akal pikirannya atau menyelidiki sampai pada kesimpulannya disebut makhluk yang berpikir.

3.     Pengetahuan Isyraqi
Pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran nur illahi. Pengetahuan ini diperoleh oleh para Nabi dengan tanpa upaya, tanpa bersusah payah terjadi karena kehendak Allah semata. Pengetahuan ini khusus bagi dan diturunkan oleh Allah kepada para Nabi yang dipilih-Nya.
Sebagai jawaban mengenai perbedaan pengetahuan manusia yang diperoleh dengan jalan upaya dan pengetahuan para Nabi yang diperoleh dengan jalan wahyu, al-Kindi mengemukakan pertanyaan orang-orang kafir tentang bagaimana muugkin Tuhan membangkitkan kembali manusia dari kuburnya setelah tulang belulangnya hancur menjadi tanah, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an surat Yasin ayat 78-82. Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an ini amat cepat diberikan oleh Nabi Muhammad SAW karena berasal dari wahyu Tuhan dan tidak yakin dijawab dengan cepat dan tepat serta jelas oleh para Filosof.
Al-Kindi selanjutnya mengatakan bahwa selain Nabi, mungkin ada yang dapat memperoleh pengetahuan isyraqi itu, meskipun derajatnya di bawah yang diperoleh para Nabi yang berasal dari wahyu Tuhan. Hal ini mungkin terjadi pada orang-orang yang suci jiwanya.
Uraian Al-Kindi tentang pengetahuan isyraqi di atas memberikan kesan bahwa menurutnya pengetahuan para Nabi yang diperoleh dengan wahyu lebih meyakinkan kebenarannya daripada pengetahuan para Filosof yang tidak berasal dari wahyu.[6]

Pengaruh Platonisme
Menurut Plato kebenaran umum itu bukan dibuat dengan cara dialog yang indukif seperti pada Socrates; pengertian umum itu sudah tersedia disana di alam idea. Definisi pada Socrates dapat saja diartikan tidak memiliki realitas. Menurut Plato, esensi itu mempunyai realitas, realitasnya ya ada di dalam idea tersebut. Untuk menjelaskan hakikat idea tersebut  Plato mengarang mitos penunggu gua, yang dimuatnya di dalam buku dialog Politeia. Bahwa mitos ini menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang dapat diumpamakan orang tahanan yang terbelenggu, mereka menerima pengalaman spontan begitu saja. Akan tetapi, ada beberapa orang yang mulai memperkirakan bahwa realitas inderawi hanyalah bayangan, mereka adalah filosof. Mula-mula mereka merasa heran sekali, tetapi berangsur-angsur mereka menemukan idea “yang baik” (matahari) sebagai realitas tertinggi. Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dari pengaruh indera yang menyesatkan itu. Dan sebagaimana di dalam mitos itu, filosof pun tidak akan dipercayai orang.[7]
Dengan demikian, jelaslah bahwa kebenaran umum itu memang ada, bukan dibuat, melainkan sudah ada di alam idea. Plato memperkuat Socrates dalam mengahadapi kaum sofis.

E.   Hubungan Wahyu dan Filsafat
Islam adalah agamanya wahyu, seluruh ajaran yang dibawanya merupakan wahyu dari Tuhan. Muhammad sebagai Nabi merupakan pribadi yang menerima wahyu dan sebagai Rasul beliau hanyalah penyampai belaka. Sementara filsafat adalah hasil dari kreasi manusia melalui pemikiran rasional dengan bantuan logika.
Dalam “Risalah Ila al-Mu’tasim Billah”, al-Kindi menyatakan bahwa antara filsafat dan agama tidak ada perbedaan. Pada hakikatnya semua ilmu adalah ilmu Tuhan. Semua ilmu bertujuan untuk memberikan kegunaan dan manfaat bagi jalan ke arah itu dan menghindari segala yang menghalanginya. Tidak adanya perbedaan antara filsafat dengan agama dalam pandangan al-Kindi disebabkan karena keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu mencari kebenaran. Kebenara sendiri adalah satu dan metode kebenaran adalah pembuktian. Pendapat al-Kindi ini cukup menarik karena dia telah melangkah jauh dari perdebatan tentang agama dan filsafat. Al-Kindi berusaha mendamaikan antara akidah Islam dan filsafat Yunani. Oleh De Boer dinyatakan bahwa dialah yang berusaha mendamaikan antara wahyu kenabian dengan akal.
Sebagaimana al-Kindi, al-Farabi juga menyatakan bahwa kebenaran adalah satu. Kemudian Ibn Sina berpendapat sebaliknya, bahwa metode agama adalah murni praktis, sedang filsafat adalah murni penalaran. Ibn Maskawaih, meskipun banyak persamaannya dengan al-Farabi, ia lebih condong kepada al-Kindi karena esensi pemikirannya sama-sama berangkat dari filsafat Yunani. Persamaannya dengan al-Farabi misalnya pendapatnya tentang kenabian. Nabi bagi Ibn Maskawaih adalah manusia yang mencapai kebenaran dengan bantuan akal, sebagaimana yang terdapat dalam kekuatan panca indera dan daya cipta yang digunakan oleh para filsof dalam mencapai kebenaran. Jadi, kebenaran yang dicapai oleh para nabi dan filosof adalah satu.
Ibn Tufail menjelaskan titik temu antara pengetahuan yang diperoleh melalui agama (wahyu) dan pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran rasional (filsafat). Dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan melalui wahyu meskipun berbeda metode dengan pengetahuan filsafat, namun sesungguhnya pada akhirnya akan  menghasilkan satu titik kesimpulan yang sama.
Sebagaimana filosof Muslim lain, Ibn Rusyd menyatakan bahwa antara filsafat dan Islam tidaklah bertentangan, bahkan orang Islam diwajibkan secara syar’i dianjurkan untuk mempelajarinya. Dengan demikian, al-Qur’an sebenarnya menyuruh manusia supaya berfilsafat. Di samping itu, karena antara filsafat dan agama sama-sama membicarakan tentang kebenaran. Apabila analisa akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur’an, maka dipakai ta’wil, yaitu meninggalkan arti lafzi untuk menuju kepada arti majaz. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat.
Dengan demikian, para filosof Muslim sama-sama bersepakat bahwa antara agama (syara’) dan filsafat (hikmah) tidak terjadi pertentangan. Perbedaan keduanya tidak terletak pada bidang kajiannya, akan tetapi pada metode untuk memperoleh bidang itu. Mereka bersepakat bahwa filsafat dan agama sama-sama mencari kebenaran.
Berbeda dengan para filosof adalah para ulama (agamawan). Bagi mereka antara filsafat dan agama tidak mungkin dipersatukan. Sebagaimana dikatakan oleh Abu al-Qasim bahwa akal pada dasarnya tidak mempunyai akal seni. Dia hanya dapat memperoleh pengetahuan secara universal, tidak mengetahui secara terperinci. Al-Ghazali menyatakan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh para filosof adalah mereka melepaskan diri dari tekstualis, tidak bersentuhan sama sekali dengan dasar-dasar agama, dan melepaskan diri dari sendi-sendi agama. Dan Muhammad Abduh mengatakan, ada dua hal yang sangat berpengaruh terhadap filosof Muslim, yaitu terlalu kagum kepada ajaran-ajaran para filosof Yunani terutama pemikiran Aristoteles dan Plato, dan berpengaruh hawa nafsu pada diri banyak orang ketika itu.
Titik perselisihan antara filosof dan agamawan di sini terletak pada pandangan mereka dalam aspek-aspek metafisis (ilahiyah). Sebagaimana dijelaskan bahwa perbedaan agama dan filsafat sesungguhnya ada pada metode yang digunakan oleh keduanya. Metode agama adalah melalui wahyu kenabian yang dalam aplikasinya dijelaskan secara dogmatis, sementara filsafat dengan metode penalaran rasional, yang dalam aplikasinya dijelaskan secara kritis ilmiah.
Maka bagi agamawan keduanya akan menghasilkan out put yang berbeda pula. Dengan demikian antara agama dan filsafat tidak mungkin ada titik singgung, apalagi persamaan. Namun bagi para filosof, meskipun antara filsafat dan agama mempunyai perbedaan metode, namun keduanya mempunyai tidak saja titing singgung, akan tetapi lebih jauh dari itu, keduanya mempunyai persamaan berupa out put yang sama. Sebab, akal dan hati nurani (qalb) manusia berasal dari Yang Satu, dan karena seluruh pengetahuan manusia berasal dari Yang Satu, maka antar agama dan filsafat tidak ada perbedaan.








Bab : III
DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat Umum ,Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hasbullbabah Bakry. 1973. Di Sekitar filsafat Skolastik Islam, Jakarta: Tintamas.
Maftukhin. 2012. Filsafat Islam , Yogyakarta: Teras.
Mustafa. 2009. Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia.
Sudarsono. 2004. Filsafat Islam, Jakarta: PT Rineka Cipta.



[1] Abdullah Siddik, Islam fan Filsafat, hlm.84.
[2] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, hlm.73.
[3] Mustafa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 110.
[4] Sudarsono, Filsafat Islam (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), hlm.26.
[5] Maftukhin, Filsafat Islam  (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm.82.
[6] Hasbullah Bakry, Di Sekitar filsafat Skolastik Islam (Jakarta: Tintamas, 1973), hlm.32.
[7] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hlm.58.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda